lenterakalimantan.com, KUALA KAPUAS – Bupati Kabupaten Kapuas Ben Brahim S Bahat belum lama ini memberikan pesan agar selalu menjaga kebersamaan, persatuan, kesatuan dan kerukunan di daerahnya.
Hal itu ia sampaikan dalam kegiatan Hari Amal Bhakti (HAB) ke 77 Tahun 2023 di halaman parkir Mesjid Al-Mukaarram Amanah Kuala Kapuas, Sabtu pagi (14/1/2023)
Dalam sambutannya, Bupati Kapuas itu juga mengucapkan selamat Hari Amal Bhakti Kemenag ke – 77, seraya berdoa semoga Kemenag semakin maju dan berjaya. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih kepada Kemenag Kabupaten Kapuas yang telah ikut andil dalam menjaga kerukunan dan persatuan di daerah.
“Mari kita jaga kebersamaan, persatuan, kesatuan dan kerukunan di Kabupaten Kapuas ini, karena Kapuas ini saya lihat masyarakatnya luar biasa menjalin hubungan kebersamaan dan silaturahim, tetaplah ikat tali persaudaraan selama-lamanya,” ungkap Ben.
Sementara itu, Kepala Kemenag Kapuas H Hamidhan dalam laporannya menerangkan, peserta yang mengikuti jalan santai kerukunan ini berjumlah kurang lebih 3.500 peserta. Sebelumnya, sudah ada 18 kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memperingati HAB ke 77 ini yang dimulai dari tanggal 10 Desember 2022. Adapun jalan santai kerukunan ini pun merupakan kegiatan ke 19 dan kegiatan penutup dalam rangkaian peringatan HAB ke 77.
“Kami ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung penuh kegiatan peringatan HAB Kementerian Agama ke 77 ini,” pungkas H Hamidhan.
Pelepasan jalan santai yang dilakukan oleh orang nomor satu di Kabupaten Kapuas itu ditandai dengan pelepasan balon ke udara dan pengangkatan bendera start tepat di halaman parkir Mesjid Al-Mukkaram Kapuas.
Tampak hadir mengikuti kegiatan ini, Kepala Kemenag Kabupaten Kapuas H Hamidhan, unsur Forkopimda, sejumlah kepala perangkat daerah lingkup Kapuas, sejumlah tokoh agama, tokoh adat dan tamu undangannya lainnya. Kemudian, jalan santai kerukunan di Kabupaten Kapuas itu diikuti dan dimeriahkan seluruh ASN lingkup Kemenag, siswa dan siswi MIN, MTsN, MAN se Kuala Kapuas beserta guru pendamping, sejumlah pondok pesantren dan partisipasi masyarakat umum.


