lenterakalimantan.com, PELAIHARI – Mengadu nasib di Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan berbekal tekad dan keyakinan bagi Mishabul Munir (46) pria asal Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat.
Sudah hampir 14 tahun lamanya Imis begitu sapaan akrabnya berjualan roti bakar, yang sekarang mangkal di dekat Bundaran Angsau, Pelaihari.
Imis berjualan roti bakar dengan gerobak seadanya buka sejak sore hingga malam hari. Asik melayani pembeli yang singgah ke tempat jualannya.
Awalnya Imih, datang ke Banjarmasin sekitar 2006. ikut bersama saudaranya yang sudah lebih awal membuka pabrik roti.
Selama di pabrik roti mulai belajar cara membuat roti bakar. Setelah menguasai ilmunya, ia merencanakan pindah ke Kabupaten Tanah Laut pada 2009.
“Saya pindah ke Tanah Laut dengan modal sedikit untuk membuka usaha roti bakar secara mandiri, dan Alhamdulillah sekarang sudah membawa anak dan Istri ke sini,” kata Imis, Minggu (2/7/2023).
Belasan tahun berjualan roti bakar di Pelaihari, secara bertahap mulai dirasakan ada peningkatan. Dari semula berjualan satu gerobak sekarang sudah membuka cabang di beberapa tempat.
“Sekitar 3 tahunan ini baru merasakan hasilnya,” cetusnya.
Pembuatan roti bakar dibuat secara sendiri tanpa ada campur tangan orang lain. Bahan roti seperti tepung, ragi, baking powder, mentega dan gula.
Roti bakar, yang dijualnya dengan rasa berbeda-beda, ada coklat, keju, stroberi, srikaya, blueberry, nanas, dan melon.
Dengan harga mulai Rp15.000 sampai Rp25.000.
“Pembuatan roti bakar dalam sehari bisa 300 potong roti dibagi ke 11 tempat yang berjualan di Tanah Laut,” ujarnya.
Dalam satu hari pendapatan jualan roti bakar tidak bisa menentu, kadang bisa naik kadang juga turun.
“Kalau jualan rame pembeli bisa menghasilkan Rp3 juta perhari, tapi sebaliknya kalau lagi sepi di bawah dari itu,” pungkasnya.












