lenterakalimantan.com, RANTAU – Bahan baku membuat Kaolin sangat melimpah di Tapin, karena itu usaha Kaolin di kembangkan menjadi usaha unggulan Bumdes atau Bumdesma.
“Cukup menarik lantaran pemasaran hasil kerajinan Kaolin yang mempunyai peluang ekspor yang cukup besar,”kata Nurdin SSos dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tapin, saat menjadi narasumber pada acara rembuk Bumdesa dan Bumdesma di Gedung Pendopo Galuh Bastari, Kamis (10/08).
Menurut dia, dalam paparannya, Kaolin merupakan bahan dasar pembuatan keramik yang banyak terdapat di Tapin, diantaranya di kecamatan Lokpaikat dan Kecamatan Binuang.
Bisnis Kaolin merupakan bisnis yang sangat menjanjikan jika dikembangkan. Dimana saat ini hanya satu daerah yang berhasil mengembangkan kerajinan Kaolin yakni di Singkawang, Kalimantan Barat dengan kerajinannya membuat berbagai guci keramik.
“Dengan sumber daya yang melimpah, kiranya potensi usaha yang ada bisa dikembangkan dimana kita dari dinas perindustrian bisa memfasilitasi untuk pelatihan – pelatihan bagi masyarakat atau Bumdesa ingin mencoba peluang usaha ini,” paparnya.
Nurdin, bilang untuk peluang ekspor keramik hias potensinya cukup besar dimana saat ini Indonesia peringkat 4 besar dunia pengekspor kerajinan keramik, sehingga tidak ada ruginya mencoba usaha ini, ‘Karena selain dapat dipasarkan di dalam negeri, juga bisa dipasarkan keluar negeri,” ujarnya.
Selain Kaolin, dalam paparannya, Nurdin juga menyampaikan peluang usaha perkebunan Kopi Gambut yang bisa dikelola oleh Bumdesa atau Bumdesma di kabupaten Tapin.
Seperti yang Ia sampaikan di hadapan peserta, Kopi Liberika merupakan jenis Kopi yang bisa di lahan rawa sehingga disebut Kopi Gambut.
“Dengan potensi Indonesia yang memiliki banyak lahan rawa, kiranya Kopi jenis Liberika dapat dikembang di Kabupaten Tapin.ujarnya.
Dikatakan Nurdin, saat ini minum Kopi susah menjadi gaya hidup, tidak hanya yang tua, yang muda pun saat ini menyukai Kopi. Dengan banyaknya usaha cafe – cafe sekarang, semua cafe sudah identik dengan Kopi yang disajikan beragam.
Untuk diketahui saat ini Indonesia merupakan negara pengekspor kopi terbesar kedua di dunia setelah Brazil, sehingga untuk kebutuhan kopi terus meningkat.
“Dan Kopi Gambut ini sudah menjadi program unggulan dinas pertanian dan perkebunan provinsi Kalimantan Selatan,” ujarnya.
Lebih jauh Nurdin memaparkan, merawat Kopi Gambut lebih mudah daripada merawat tanaman jeruk, dalam 1 hektar lahan bisa ditanam 800 sampai 1.000 batang pohon.
Selain itu harga 1 kilo Kopi bisa mencapai Rp.300 ribu, apalagi jika dipadukan dengan pengembangan usaha Kopi Luwak, harga Kopi per kilonya bisa mencapai Rp.1.500.000.
Untuk usaha Kopi Luwak jika bisa dikembangkan oleh para petani jika memang berniat untuk memulainya. Bayangkan jika satu batang pohon bisa menghasilkan 20 sampai 25 kilo Kopi, bisa dihitung keuntungan yang didapat.
“Dengan memelihara hanya sekitar 30 ekor Luwak atau Musang Pandan yang dipelihara sejak kecil dan dilatih untuk makan Kopi, bisa jadi usaha ini menjadi usaha yang besar kedepan.” Tandasnya.
Sementara itu Iwan Satriawan ME Kepala Bidang Pembangunan dan Pengembangan Ekonomi Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Tapin menambahkan, menindaklanjuti hasil rembuk Bumdes dan Bumdesma ini, Dinas Perindustrian bersama Dinas PMD akan terus menindaklanjuti peluang usaha Kopi dan Kaolin yang ada di kabupaten Tapin.
Dengan menghadirkan 2 orang narasumber Nurdin SSos dari Dinas Perindustrian Kabupaten Tapin dan
Evo Selvi Ada dari Bappelitbang
Teks: Sumber daya Kaolin banyak terdapat di Tapin diantara di kecamatan Lokpaikat dan Kecamatan Binuang
Dihadiri direktur BUMDES di kabupaten Tapin


