lenterakalimantan.com, BANJARMASIN – Bulan November menjadi saksi perjuangan yang tertulis dalam sejarah besar Indonesia dalam melawan penjajah Belanda dan sekutunya.
Di Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), peringatan Hari Pahlawan 10 November 1945 juga dibarengi peringatan gugurnya para pejuang Tanah Banjar dalam pertempuran 9 November di tahun yang sama.
Tak hanya dalam bentuk monumen di Jalan Banua Anyar dan prasasti di Jalan D.I. Pandjaitan, bukti sejarah perjuangan itu juga masih berdiri dalam bentuk rumah adat Banjar di titik yang jadi pusat pertempuran. Meski dalam kondisi yang memerlukan banyak perbaikan karena tergerus zaman.
Di masa silam, rumah tersebut jadi basis para pejuang Barisan Pemberontakan Republik Indonesia Kalimantan (BPRIK), yang dimiliki oleh Muhammad Amin Effendy, panglima dari laskar tersebut.
Sayangnya, isu akan dijualnya rumah di kawasan Pasar Lama itu oleh ahli waris kembali terdengar.
Hal ini membuat Wakil Ketua Komisi III DPRD Kalsel, H Rosehan Noor Bahri angkat bicara.
Ia mengatakan akan melakukan pengecekan bersama pihak eksekutif terhadap rumah yang menjadi basis perlawanan rakyat Banjar terhadap pasukan sekutu yang diboncengi NICA pada 9 November 1945.
“(Pemilik) rumah itu masih berkeluarga dengan saya, beliau itu pahlawan 9 November. Jadi ada kaitannya dengan Monumen 9 November yang ada di Pengambangan, karena beliau itu salah satu pelaku sejarah,” ucapnya.
Ia berharap, rumah tersebut tidak dijual oleh ahli waris dan pemerintah daerah bisa mengambilnya untuk dijadikan museum.
Sehingga sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dapat terus lestari di masa depan.
Ia juga menyayangkan, warga Banjarmasin yang lebih mengenal perjuangan 10 November 1945 di Kota Surabaya. Padahal sehari sebelumnya, perlawanan yang sama juga dilakukan di Banjarmasin.
“Kalau boleh jujur, perlawanan warga Kalimantan Selatan itu pada 9 November 1945 di Kota Banjarmasin, sementara yang sering kita peringati setiap tahun itu 10 November 1945 yang berada di Kota Surabaya,” imbuhnya.
Ia juga berpesan kepada generasi muda saat ini agar lebih mengenal pahlawannya.
“Cara paling gampang, ingat saja jalan-jalan raya atau bandara itu pasti nama pahlawan,” tandas pria yang juga Wakil Gubernur Kalsel periode 2005-2010 itu.


