lenterakalimantan.com, BANJARMASIN – Angin sore sepoi-sepoi menyapa Perpustakaan Umum RTH Kamboja yang terletak di Jalan Anang Adenansi No. 26. Letaknya sangat strategis, dan dikelilingi pepohonan rimbun dan terpapar sinar matahari cukup.
Dari jauh, perpustakaan ini tampak eksentrik, tak serupa perpustakaan pada umumnya. Bangunan dengan yaitu mengambil konsep industrial ini terdiri. Terdiri atas dua tingkat, lantai bawah berfungsi sebagai perpustakaan. Sementara itu, lantai atas berfungsi sebagai ruang baca sekaligus Sekretariat Forum Anak dan Pusat Informasi Pelayanan Anak (Pisa).
Dibangun pada 2019 dan selesai di 2020, Perpustakaan RTH Kamboja berada di bawah naungan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispersip) Kalsel.
Kepala Perpustakaan, Latipah, menjelaskan bahwa Dinas Lingkungan Hidup yang punya hak milik atas tanah itu. “Ibaratnya Perpustakaan RTH Kamboja hanya numpang tinggal,” ucapnya pada Kamis (23/01/2025).
Di lantai bawah, beberapa rak berjajar berhadapan dengan meja dan bangku untuk pengunjung membaca. Buku-bukunya beragam, ada kesenian dan olahraga, sejarah dan geografi, ilmu terapan, ilmu murni, bahasa, ilmu sosial, agama, koleksi anak-anak, filsafat dan psikologi serta karya umum.
“Jumlah buku diperkirakan sekitar 1.500 buah. Beberapa hari lalu ada kiriman buku dari Perpustakaan Siring Tendean, mungkin sekitar 500-600 buah,” tunjuk Latipah ke arah boks penuh buku-buku baru di pojokan.
Namun, Latipah mengakui ruang perpustakaan relatif sempit untuk menampung buku-buku baru. Ia menunjukkan peletakkan buku dengan judul mengarah ke dalam sehingga sulit dilihat oleh pengunjung.
“Rencananya akan dilakukan reorientasi peletakkan barang supaya buku-bukunya lebih tertata,” ucapnya.
Perpustakaan RTH Kamboja saat ini hanya memiliki empat petugas, yaitu satu Aparatur Sipil Negara (ASN) dan sisanya honorer. Salah satunya adalah Agus, seorang petugas kebersihan yang merangkap pula membantu pekerjaan perpustakaan. Sehari-harinya, ia membersihkan seluruh area lantai bawah dan lantai atas.
Saat ditanya apakah Perpustakaan RTH Kamboja akan ada penambahan pegawai, Latipah mengaku tidak mengetahui hal itu.
“Katanya, dananya tidak ada. Mungkin bisa saja petugas di Perpustakaan Siring Tendean dikirim ke sini untuk membantu,” harapnya mengingat petugas Perpustakaan Siring Tendean relatif banyak.
Menghidupkan Kampung Bakisah
Di sela-sela wawancara, dua remaja perempuan melangkah masuk dan asyik memilah bacaan. Siswi SMPN 12 Banjarmasin itu menjelaskan tidak tahu bahwa boleh masuk ke dalam perpustakaan.
Latipah menceritakan masyarakat banyak yang belum mengetahui keberadaan Perpustakaan RTH Kamboja. Ia menggunakan strategi pendekatan kepada guru untuk mengajak anak-anak didik mampir. Cara itu berhasil meningkatkan jumlah pengunjung perpustakaan.
“Pengunjung perpustakaan lumayan banyak per hari dan asalnya beragam, ada dari Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Atas, sampai anak kuliahan,” jelasnya.
Di samping menyediakan bacaan dan tempat yang nyaman, Perpustakaan RTH Kamboja juga merupakan pusat Kampung Bakisah.
Diresmikan pada 2019 lalu, Perpustakaan RTH Kamboja bekerja sama dengan berbagai pihak Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar menyelenggarakan kegiatan mendongeng untuk anak-anak.
“Alurnya, sekolah harus mengajukan surat dahulu kepada Kepala Bidang (Kabid) Perpustakaan Siring Tendean, kemudian diteruskan ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Prov. Kalimantan Selatan. Setelah itu, petugas Perpustakaan RTH Kamboja berperan sebagai fasilitator, yaitu menyediakan buku-buku bacaan, sound system, karpet duduk dan perlengkapan lainnya,” papar Latipah antusias.
Kenyamanan dan kelengkapan fasilitas perpustakaan ini disambut oleh Akhmad Abdillah, mahasiswa FISIP ULM ini adalah pengunjung rutin perpustakaan. Tak sekadar membaca buku, ia banyak memanfaatkan fasilitas untuk mengerjakan tugas dan mengikuti kuliah secara daring.
“Saya senang ke sini karena lokasinya dekat dengan rumah saya di daerah Kelurahan Murung Raya. Kedua, fasilitasnya yang nyaman dan tidak dipungut biaya sepeserpun. Ketiga, karyawannya yang ramah terhadap tamu atau pengunjung,” paparnya riang pada Jum’at (28/02/25)
“Fasilitas seperti Wi-Fi gratis bagi pengunjung, khususnya pelajar dan mahasiswa, serta ruangan ber-AC, sangat menambah kenyamanan bagi pengunjung,” ujar Abdillah.
Pemuda yang menyenangi sains ini mengapresiasi program bakisah Perpustakaan RTH Kamboja, ia berharap agar ada pameran sains yang didakan setiap bulan. Menurutnya, perpustakaan bisa menjadi tempat belajar sains yang menyenangkan untuk anak-anak usia sekolah.
Perlu Perhatian Pemerintah
Kendati Perpustakaan RTH Kamboja telah mengalami transformasi, menurut Latipah ada beberapa hal yang masih perlu perbaikan. Paling penting adalah komputer untuk pendataan. Selama ini kami memakai laptop pribadi petugas untuk pekerjaan administrasi.
“Kami juga mendata buku-buku yang disukai pengunjung secara manual di buku. Padahal, komputer perlu untuk mempermudah pencarian buku-buku secara otomatis dan mengetahui preferensi baca pengunjung, buku-buku apa yang diminati,” keluh Latipah.
Ia juga menyoroti perihal fasilitas seperti pagar keamanan dan penerangan luar ruangan. “Pagar sudah beberapa kali rusak. Lampu juga tidak ada di bagian samping bangunan lantai bawah. Dampaknya, perpustakaan jadi lebih riskan di malam hari mengingat lingkungan sekitar rawan,” pungkasnya.


