lenterakalimantan.com, SAMARINDA — Sungai Mahakam sejak berabad-abad lalu menjadi jalur transportasi dan perdagangan utama di Kalimantan Timur. Sejak abad ke-4 Masehi, tepatnya pada era Kerajaan Kutai di Muara Kaman, sungai ini telah dimanfaatkan sebagai lintasan perdagangan yang strategis. Bahkan, pelaut dari China dan India sudah memanfaatkan Mahakam untuk berdagang. Jejak sejarah tersebut dibuktikan melalui penemuan artefak, seperti Prasasti Yupa yang menjadi penanda keberadaan Kerajaan Hindu pertama di Indonesia, serta berbagai temuan keramik asal Tiongkok di Kutai Lama.
Hingga kini, sungai sepanjang 920 kilometer yang melintasi Samarinda, Kutai Kartanegara, Kutai Barat, hingga Mahakam Ulu tersebut masih menjadi jalur transportasi vital bagi masyarakat Kalimantan Timur.
Namun, akibat eksploitasi alam sejak masa lampau dan tidak adanya pengerukan berkelanjutan, Sungai Mahakam mengalami pendangkalan dan sedimentasi. Kondisi ini terjadi bukan hanya di sepanjang alur sungai, tetapi juga di muara Mahakam sebelum menuju Selat Makassar. Gubernur Kaltim, Dr H Rudy Mas’ud (Harum), menyebut shallow water level (SWL) di muara sungai kini hanya sekitar 3,8 meter.
“Terlalu dangkal untuk menampung volume air secara optimal,” ujarnya usai bertemu jajaran Kementerian Perhubungan, akhir September lalu.
Selain mengganggu pelayaran, pendangkalan ini juga berpotensi memperparah banjir di daerah seperti Samarinda, Kutai Kartanegara, Kutai Barat, dan Mahakam Ulu. Karena itu, Gubernur Harum dan Wakil Gubernur Seno Aji menetapkan revitalisasi Sungai Mahakam sebagai salah satu program unggulan dalam Jospol. Normalisasi Mahakam diharapkan dapat mengoptimalkan daya tampung sungai, sekaligus mendukung kelancaran transportasi publik, distribusi industri, serta pengembangan pariwisata.
Untuk penanganan banjir Samarinda misalnya, Pemprov Kaltim bersinergi dengan Pemkot Samarinda dan BWS Kalimantan IV. Pada 2025, berbagai kegiatan normalisasi sungai dan pembangunan bangunan pengendali banjir dilaksanakan di sejumlah titik, seperti Sungai Karang Mumus, Sungai Karangasam Besar, Sungai Sempaja, Sungai Sambutan, Sungai Loa Hui Loa Janan, hingga Bendungan HM Ardans. Total anggaran yang disiapkan mencapai Rp25,4 miliar.
Hingga tahun ini, 94 persen segmen Sungai Karang Mumus sudah selesai dinormalisasi, atau sepanjang 16,5 kilometer dari total 17,5 kilometer. Normalisasi lanjutan juga dilakukan di Sungai Karang Mumus, Sungai Sempaja, Sungai Karangasam Besar, Sungai Sambutan, hingga Sungai Loa Hui. Pekerjaan ini akan diteruskan pada 2026, termasuk pembangunan perkuatan tebing dan bangunan pengendali banjir lainnya.
Seluruh upaya tersebut merupakan komitmen Pemprov Kaltim untuk mengurangi risiko banjir tidak hanya di Samarinda, tetapi juga di seluruh kawasan yang dilintasi Sungai Mahakam.
Banyak orang meyakini Mahakam berasal dari dua kata Sanskerta, yaitu “maha” yang berarti besar, dan “kama” yang bermakna cinta. Dengan revitalisasi yang terus diperjuangkan, diharapkan Sungai Mahakam dapat kembali menjadi sumber kehidupan dan perekonomian masyarakat Kalimantan Timur yang mengalir tanpa pendangkalan dan banjir, sebagaimana makna cinta yang besar dan tidak pernah berhenti.












