China kembali menyita perhatian dunia setelah dilaporkan merancang sistem pertahanan udara dan antariksa terintegrasi bernama Nantianmen atau Gerbang Surgawi. Proyek ambisius ini disebut-sebut berpusat pada sebuah kapal induk terbang raksasa bernama Luanniao, yang digambarkan mampu meluncurkan jet tempur antariksa hingga menyerang target di orbit.
Menurut laporan yang dikutip dari Deutsche Welle melalui detikINET, Luanniao dirancang dengan ukuran ekstrem. Panjangnya mencapai 242 meter, rentang sayap 684 meter, dan bobot lepas landas diperkirakan hingga 120.000 ton. Angka ini bahkan melampaui kapal induk terbesar di dunia saat ini.
Dari geladaknya, China disebut berencana mengoperasikan Xuannu, jet tempur antariksa nirawak yang mampu meluncurkan rudal hipersonik serta menyerang sasaran di atmosfer maupun luar angkasa.
“China sudah lama menjadi kekuatan nomor dua di luar angkasa, tepat di bawah Amerika Serikat, dan jauh meninggalkan Eropa,” ujar pakar keamanan antariksa Juliana Sub dari German Institute for International and Security Affairs (SWP).
Jika dibandingkan, kapal induk maritim terbesar dunia saat ini, USS Gerald R. Ford, memiliki panjang sekitar 337 meter, lebar 78 meter, dan berat sekitar 100.000 ton termasuk awak dan perlengkapan. Meski lebih panjang, rentang sayapnya jauh lebih kecil dibanding konsep kapal induk terbang China tersebut.
Media pemerintah China, CCTV, bahkan menayangkan visual model 3D fotorealistik Luanniao yang melayang di atas Bumi, melepaskan jet antariksa, serta menembakkan senjata di luar angkasa. Cuplikan tayangan itu pun dengan cepat menyebar luas di internet dan memicu perdebatan global.
Namun, tak sedikit kalangan yang meragukan realisasi proyek ini. Sejumlah ahli menilai rencana tersebut masih jauh melampaui kemampuan teknologi saat ini. Tantangan besar mulai dari pengiriman muatan ke orbit, sistem propulsi, pasokan daya, pendinginan, perlindungan dari puing antariksa, hingga biaya yang sangat besar, disebut belum terjawab.
Diplomat Jerman sekaligus analis antariksa Heinrich Kreft menyebut proyek tersebut, dari sudut pandang saat ini, masih tergolong tidak realistis kecuali untuk jangka sangat panjang.
“Banyak hal yang dulu dianggap fiksi ilmiah 20 atau 30 tahun lalu kini menjadi kenyataan,” ujarnya, sembari menegaskan bahwa proyek semacam ini tidak bisa sepenuhnya diabaikan.
Di sisi lain, analis Amerika Serikat justru melihat Luanniao sebagai bagian dari strategi propaganda. Media National Interest bahkan memuat artikel berjudul “Beijing Wants You to Believe They’re Building a Flying. Aircraft Carrier”. Penulisnya, Brandon J. Weichert, menilai konsep tersebut dirancang untuk membuat Barat gugup dan menguras perhatian serta sumber daya.
Bagi Kreft, pengumuman ini lebih menyerupai pesan politik dalam persaingan kekuatan global, khususnya dengan Amerika Serikat, di tengah meningkatnya ketegangan soal Taiwan. Ia mencontohkan sejumlah klaim senjata super China sebelumnya yang juga dinilai spektakuler, namun kerap dianggap tidak realistis oleh para ahli Barat.
Terlepas dari perdebatan tersebut, satu hal menjadi jelas: China semakin agresif menunjukkan ambisinya di ruang angkasa, sekaligus menegaskan bahwa kompetisi teknologi dan militer global kini tak lagi terbatas di darat, laut, dan udara, tetapi juga merambah orbit Bumi.


