Ditulis Oleh: Dr. Muhammad Uhaib As’ad, M.Si (Akademisi, Direktur Kajian Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik Kalimantan Selatan, President International Institute of Influencers Indonesia)
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pernah menjadi magnet ideologis dan intelektual di kampus-kampus Indonesia. Ia lahir sebagai jawaban zaman, merawat tradisi berpikir kritis, dan melahirkan kader-kader yang berpengaruh dalam sejarah kebangsaan. Namun hari ini, pesona itu kian memudar di hadapan generasi baru yang tumbuh dalam lanskap digital yang serba cepat dan pragmatis.
Generasi Z dan Gen Alpha hadir dengan logika sosial yang berbeda. Mereka tidak lagi menjadikan organisasi ideologis sebagai satu-satunya wahana aktualisasi diri. Preferensi mereka bergerak ke ruang-ruang yang lebih cair, fleksibel, dan langsung berdampak: komunitas berbasis hobi, startup, konten kreator, hingga jejaring bisnis digital.
Fragmentasi ini bukan semata bentuk pembangkangan terhadap tradisi organisasi mahasiswa, melainkan refleksi perubahan struktur sosial. Kampus tidak lagi menjadi satu-satunya pusat produksi pengetahuan dan legitimasi. Media sosial, platform digital, dan ekosistem kreatif telah mengambil alih sebagian peran tersebut.
Di titik ini, HMI menghadapi tantangan eksistensial. Narasi besar tentang keislaman, keindonesiaan, dan keumatan sering kali terasa terlalu normatif dan berjarak dari problem keseharian mahasiswa. Bahasa ideologis yang tidak diperbarui cenderung kalah gaung dibanding bahasa algoritma yang menjanjikan visibilitas instan.
Gen Z dan Gen Alpha tumbuh dengan budaya visual, interaktif, dan berbasis pengalaman. Mereka belajar dari video pendek, podcast, dan diskursus lintas platform. Sementara itu, banyak organisasi mahasiswa, termasuk HMI, masih bertumpu pada pola kaderisasi konvensional yang hierarkis dan tekstual.
Ketika organisasi berbasis hobi menawarkan ruang ekspresi yang menyenangkan, dan komunitas bisnis menjanjikan jejaring serta keuntungan ekonomi, HMI sering tampil sebagai ruang yang berat, penuh ritual struktural, dan minim insentif jangka pendek. Ini menjadi problem daya tarik yang serius.
Lebih jauh, sebagian kader HMI sendiri terjebak pada romantisme masa lalu. Kejayaan historis dijadikan legitimasi tanpa kerja keras untuk menerjemahkannya ke dalam konteks kekinian. Padahal, sejarah hanya bermakna jika ia menjadi energi pembaruan, bukan beban nostalgia.
Digitalisasi juga mengubah cara anak muda memaknai kepemimpinan. Otoritas tidak lagi bersumber dari jabatan struktural, melainkan dari pengaruh, konsistensi, dan kredibilitas personal. Influencer dengan gagasan kuat bisa lebih didengar daripada pengurus organisasi dengan struktur lengkap.
Dalam konteks ini, HMI sering kalah lincah. Ia hadir di media sosial, tetapi belum sepenuhnya hidup di sana. Konten yang disajikan kerap seremonial, bukan problematik, formal, bukan dialogis; reaktif, bukan visioner.
Fragmentasi ke dalam komunitas hobi dan bisnis juga menunjukkan pergeseran orientasi nilai. Mahasiswa hari ini dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi sejak dini. Mereka mencari organisasi yang memberi keterampilan praktis, portofolio, dan akses pasar, sesuatu yang jarang secara eksplisit ditawarkan oleh organisasi ideologis.
Namun, kondisi ini tidak serta-merta menandakan kematian HMI. Ia justru menjadi alarm keras bahwa transformasi adalah keniscayaan. HMI masih memiliki modal besar, jaringan luas, tradisi intelektual, dan legitimasi historis yang tidak dimiliki komunitas-komunitas baru.
Tantangannya adalah keberanian untuk melakukan redefinisi peran. HMI perlu keluar dari menara gading wacana dan turun ke ruang-ruang konkret problem generasi muda: isu kesehatan mental, krisis iklim, ketenagakerjaan digital, hingga ekonomi kreatif berbasis nilai.
Kaderisasi tidak harus ditinggalkan, tetapi perlu direimajinasi. Metode pembelajaran harus adaptif, kolaboratif, dan berbasis proyek nyata. Diskusi ideologis perlu dikawinkan dengan literasi digital, kewirausahaan sosial, dan kepemimpinan etis di ruang publik maya.
HMI juga harus berdamai dengan logika zaman bahwa identitas tidak lagi tunggal. Gen Z dan Gen Alpha nyaman memiliki banyak afiliasi sekaligus. Menjadi kader HMI tidak harus berarti menutup diri dari komunitas hobi atau jejaring bisnis.
Justru di situlah peluangnya. HMI bisa menjadi simpul etik dan intelektual yang mengikat berbagai fragmentasi itu. Ia hadir bukan sebagai organisasi yang menuntut eksklusivitas, melainkan sebagai rumah nilai yang memberi arah.
Jika tidak, HMI akan terus ditinggalkan, bukan karena ideologinya usang, tetapi karena cara menyampaikannya tidak lagi relevan. Organisasi yang gagal membaca zaman akan tergilas, sekuat apa pun akar sejarahnya.
Kampus hari ini adalah arena kompetisi gagasan dan pengaruh. Siapa yang paling mampu menjawab kegelisahan mahasiswa, dialah yang akan diikuti. Dalam arena ini, HMI tidak cukup hanya benar, ia harus menarik dan berdampak.
Revitalisasi HMI menuntut kepemimpinan yang visioner dan rendah hati. Mau belajar dari komunitas-komunitas baru, tanpa kehilangan prinsip dasar. Mau berinovasi, tanpa tercerabut dari nilai.
Jika HMI berhasil melakukan lompatan ini, ia bukan hanya akan kembali relevan, tetapi juga berpotensi menjadi jembatan antara idealisme klasik dan realitas digital. Sebuah peran yang sangat dibutuhkan di tengah fragmentasi generasi.
Pada akhirnya, hilangnya pesona HMI di kampus bukanlah takdir. Ia adalah cermin dari pilihan-pilihan strategis yang bisa diubah. Masa depan HMI, dan organisasi mahasiswa lainnya, ditentukan oleh sejauh mana mereka berani bertransformasi tanpa kehilangan jiwa.
Editor: CAN


