Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru, Shanty Eka Septiani, menyebutkan pihaknya akan menyusun langkah konkret setelah kembali ke daerah.
Menurutnya, setiap kelurahan akan melakukan pemetaan jumlah penduduk dan potensi sampah, serta memulai program pemilahan dari tingkat rumah tangga secara bertahap.
“Targetnya, setiap bulan ada penambahan rumah yang menerapkan pemilahan sampah,” jelasnya.
Ia menambahkan, pola pengelolaan sampah di Banjarbaru saat ini masih didominasi sistem kumpul-angkut-buang, sehingga diperlukan perubahan pola pikir masyarakat.
Rangkaian kunjungan ditutup dengan peninjauan ke RPTRA Rorotan Indah I dan TPS 3R Rorotan. Di lokasi tersebut, rombongan melihat langsung fasilitas rumah pilah, bioreaktor kompos, serta pengelolaan sampah berbasis partisipasi warga.
Model tersebut dinilai mampu mengurangi volume sampah secara signifikan sejak dari sumber, sekaligus menjadi contoh kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah berkelanjutan.
Melalui studi tiru ini, Pemko Banjarbaru diharapkan dapat mengimplementasikan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, dengan menitikberatkan pada pemilahan dan pengolahan sejak dari tingkat rumah tangga.
Sumber: Yds/MedCenBJB
Editor: Tim Redaksi


