lenterakalimantan com, BANJARMASIN – Kota Banjarmasin adalah kota tertua di Kalimantan, beberapa sumber bahkan menyebut dulu Banjarmasin adalah ibukota Provinsi di Kalimantan. Namun kini Kalimantan terbagi 5 Provinsi, Kalimantan Selatan,Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Utara.
Nah, berbicara kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Maka tentu belum lengkap jika tak berkunjung ke Masjid Raya Sabilal Muhtadin di Kalimantan Selatan ini. Lalu, Bagaimana Sejarah berdiri Masjid ke Banggaan Masyarakat Banjar ini. Mari kita kupas.
Sejarah berdirinya Masjid Raya Sabilal Muhtadin adalah sebagai tindak lanjut pembangunan Masjid Raya tersebut maka dibuatlah kesepakatan antara DPRD dan Gubernur Kepala Daerah.
Dalam kesepakatan tersebut, diputuskan bahwa pembangunan Masjid Raya dicantumkan dalam APBD Provinsi Kalimantan Selatan dan didukung sepenuhnya oleh Kodam X/Lambung Mangkurat.
Antara Gubernur Kepala Daerah dengan Pangdam X/Lambung Mangkurat Iksan Sugiarto diadakan persetujuan tukar menukar komplek Asrama Tatas (komplek tentara) dan kemudian diteruskan oleh Supardjo.
Lalu Persetujuan tukar menukar kemudian direstui oleh Menhankam serta Presiden RI. Setelah segala sesuatunya rampung, maka pada tanggal 10 November 1974 seusai memperingati Hari Pahlawan, Gubernur Subarjo dengan resmi melakukan pemancangan tiang pertama.
Setelah lebih kurang lima tahun pembangunan kemudian tampaklah bangunan utama masjid raya yang telah lama diidamkan masyarakat Banjarmasin.
Kemudian, pada tanggal 31 Oktober 1979 tepat pada Hari Raya Idul Adha 1399 Hijriah untuk pertama kalinya masjid raya tersebut dipergunakan oleh umat Islam, meskipun masih banyak yang perlu dibenahi dan disempurnakan seperti menara, halaman sekeliling masjid, sarana jalan dan sebagainya.
Untuk penyempurnaan yang masih diperlukan pada pembangunan itu masyarakat Banjarmasin baik muslim maupun nonmuslim turut serta membantu penyelesaian masjid raya dari berbagai cara, baik secara materi maupun nonmateri.
“Presiden RI, Soeharto juga memberikan bantuan berupa sebuah kubah emas bersama Menteri Dalam Negeri saat itu Amir Machmud yang digunakan untuk membangun menara besar Masjid Raya tersebut,” ujarnya.
Nama Sabilal Muhtadin:
Mengenai nama Sabilal Muhtadin dipilih sebagai nama Masjid Raya kebanggaan umat muslim Banjarmasin ini ialah sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap ulama besar Kalsel.
“Yaitu Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang berperan penting dalam penyebaran dan pengembangan agama Islam di Kerajaan Banjar atau yang sekarang dikenal dengan Kalsel,” ungkapnya.
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dalam sejarah Banjar, dituliskan bahwa dia adalah pelopor pengajaran hukum Islam di Kalsel usai 35 tahun menimba ilmu agama Islam di Mekah.
Sekembalinya ke kampung halaman, hal pertama yang dikerjakannya ialah membuka tempat pengajian (semacam pesantren) bernama Dalam Pagar, yang kemudian menjadi sebuah kampung yang ramai sebagai tempat menuntut ilmu agama Islam.
Ulama-ulama yang dikemudian hari menduduki tempat-tempat penting di seluruh Kerajaan Banjar, banyak yang merupakan didikan dari suraunya di Desa Dalam Pagar,” jelasnya.
Di samping mendidik murid-muridnya di surau-surau Dalam Pagar, syekh Muhammad Arsyad Al Banjari juga menulis beberapa kitab dan risalah, salah satu karya besarnya adalah “Kitab Sabilal Muhtadin Littaffaquh fi Amriddin” yang dalam terjemahan bebas berarti jalan bagi orang orang yang mendapat petunjuk untuk mendalami urusan-urusan agama.
“Kitab tersebut berisi hukum dan kaidah-kaidah ilmu fiqh yang menjadi pegangan dan rujukan bagi masyarakat Kerajaan Banjar pada saat itu dalam mempelajari ilmu fiqih,” ungkapnya.
Hingga saat ini kitab tersebut masih menjadi salah satu sumber rujukan bagi para ulama dan masyarakat dalam mempelajari ilmu fiqih hampir di seluruh Nusantara dan Negara tetangga lainnya.
“Atas dasar pertimbangan tersebut, Masjid Raya Banjarmasin ini diberi nama Sabilal Muhtadin.
Bangunan masjid terdiri dari bangunan utama yang luasnya ± 5250 M persegi yaitu ruang ibadah berlantai dua yang bisa menampung jamaah ± 7.500 serta teras dan selasar juga bisa menampung ± 7.000 jamaah, menara terdiri atas 1 menara besar yang tinggi ± 45 meter serta 4 menara kecil masing-masing ± 21 meter.
Periode Kepengurusan Ketua Badan Pengelola Masjid Raya Sabilal Muhtadin, yaitu:
KH. Hasan Mugeni Marwan (1980-1982) Ir. H. M. Said (Ketua Umum) dengan Ketua Hariannya KH.Muhammad Rafi’i Hamdie (1982-1987) H.Maksid (1987-1999)KH.Husin Naparin, Lc, MA (1999-2004);
KH.Ahmad Bakeri (2004-2006); Drs.H.Rudy Ariffin, MM (Ketua Umum) dengan Ketua Hariannya KH. Ahmad Bakeri (2006-2008);
Drs.KH.Tabrani Basri (2008-2010) Drs. H. Rusdiansyah Asnawi, SH (2010-2012 & 2012-2015).
Dr. H. Akhmad Sagir, M.Ag (2016-2018), Drs. KH. Darul Quthni, MH (2018-Sekarang).
Sebagaimana layaknya sebagai kegiatan Islam, Masjid Raya Sabilal Muhtadin juga dilengkapi dengan keberadaan Lembaga Pendidikan Islam yang mengasuh aktivitas pendidikan dari tingkat TK sampai dengan SMU & SMK yang banyak menjadi perhatian warga.
Disamping itu juga dilengkapi dengan Perpustakaan Umum, Radio Dakwah Sabilal Muhtadin, Koperasi Karyawan, sarana Olahraga serta SPBU.


