lenterakalimantan.com, BANJARMASIN – Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel), H Muhidin secara resmi membuka Pamor Borneo 2026 melalui prosesi simbolis penancapan tiang pancang di Grand Ballroom Hotel Fugo Banjarmasin, Jumat (7/8/2026).
Kegiatan yang digelar Bank Indonesia Provinsi Kalsel pada 7–9 Agustus 2026 tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-76 Provinsi Kalsel.
Mengusung tema “Unlocking Kalimantan’s Value-Added Growth Potential for Economy Prosperity”, Pamor Borneo 2026 menjadi wadah kolaborasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Kalimantan melalui penguatan investasi, perdagangan, dan transformasi digital.
Salah satu agenda utama kegiatan tersebut adalah forum investasi yang mempertemukan pemilik proyek dengan calon investor. Dari 15 proyek investasi yang ditawarkan, sebanyak 12 investor menyampaikan Letter of Intent (LoI) dengan total potensi investasi sekitar Rp62,8 triliun.
Sejumlah proyek yang mendapatkan LoI antara lain hilirisasi batu bara menjadi metanol, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kusan, pengolahan sampah, Pelabuhan Margasari Baru, industri oleokimia, budidaya udang vaname, hingga Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Sepaku Semoi.
Selain forum investasi, pembukaan Pamor Borneo 2026 juga diisi dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) perdagangan antara pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan mitra pembeli (buyer). Langkah tersebut ditujukan untuk memperluas akses pasar produk unggulan daerah.
Dalam sambutannya, Gubernur Kalsel, H Muhidin, mengatakan Pamor Borneo 2026 tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-76 Kalsel, tetapi juga menjadi sarana untuk mempromosikan potensi investasi, memperkuat UMKM, dan memperluas digitalisasi ekonomi.
“Melalui Pamor Borneo 2026 ini, kami mengundang para investor untuk menjadi bagian dari pengembangan ekosistem industri hilir yang terintegrasi,” ujar Muhidin.
Menurut Muhidin, salah satu proyek strategis yang ditawarkan dalam forum investasi tersebut adalah hilirisasi batu bara menjadi metanol di Kabupaten Tapin dengan nilai investasi sekitar Rp46 triliun.
Ia berharap berbagai komitmen investasi yang telah dituangkan dalam LoI dapat segera direalisasikan menjadi investasi nyata sehingga memberikan dampak terhadap pembangunan dan perekonomian daerah.
Muhidin juga menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Kalsel untuk memberikan kemudahan dalam proses perizinan investasi.
“Kalau bupati atau wali kota memperlambat perizinan investor, laporkan kepada saya,” tegasnya.
Selain investasi, pemerintah daerah terus mendorong perluasan digitalisasi transaksi untuk meningkatkan pelayanan publik, efisiensi pengelolaan keuangan daerah, dan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalsel, Haris Munandar, mengatakan Pamor Borneo 2026 merupakan bentuk kolaborasi Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan untuk memperkuat investasi, perdagangan, dan transformasi digital di Kalimantan.
“Pamor Borneo 2026 merupakan program kolaborasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sebagai bagian dari rangkaian Hari Jadi Provinsi Kalsel ke-76,” kata Haris.
Haris menjelaskan, Pamor Borneo 2026 difokuskan pada tiga pilar utama, yakni investasi, perdagangan, dan sistem pembayaran. Ketiga sektor tersebut dinilai memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Di sektor investasi, kegiatan diawali dengan seminar penyelesaian hambatan investasi dan dilanjutkan dengan pertemuan bisnis antara pemilik proyek dan calon investor.
Dari rangkaian tersebut, sebanyak 15 proyek investasi ditawarkan kepada calon investor, termasuk proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol di Kabupaten Tapin dengan nilai investasi sekitar Rp46 triliun.
“Hingga pelaksanaan kegiatan, kita memiliki 12 Letter of Intent dari keseluruhan proyek investasi dengan total nilai sekitar Rp62,8 triliun,” ujar Haris.
Selain investasi, Bank Indonesia juga mendorong pengembangan UMKM, sektor pariwisata, dan ekonomi hijau melalui perluasan akses pembiayaan serta digitalisasi kawasan wisata.
Di bidang sistem pembayaran, Bank Indonesia memperluas penggunaan transaksi digital melalui QRIS Tap. Teknologi tersebut memungkinkan masyarakat melakukan pembayaran dengan menempelkan ponsel pada mesin pembayaran.
“QRIS Tap memungkinkan transaksi dilakukan lebih cepat hanya dengan menempelkan ponsel pada mesin pembayaran,” kata Haris.
Pembukaan Pamor Borneo 2026 turut dihadiri Kapolda Kalsel Irjen Pol. Dr. Rosyanto Yudha Hermawan, Kabinda Kalsel Brigjen Saniotte Adil Darmawan, jajaran Forkopimda Kalsel, kepala instansi vertikal di Kalsel, serta perwakilan bupati dan wali kota se-Kalsel.
Hadir pula sejumlah pejabat Bank Indonesia, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia se-Kalimantan, calon investor, pimpinan SKPD Pemerintah Provinsi Kalsel, pimpinan perbankan, perwakilan asosiasi, pelaku usaha, akademisi, dan tamu undangan lainnya.
Sejumlah narasumber yang hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal BKPM Ihsan Zulkarnain, Kepala Ekonom Danantara Reza Siregar, Kepala BYMT Syahid Irawan, serta Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalsel Aloysius Adonanto Heri Wibowo.
Editor: Tim Redaksi


