lenterakalimantan.com, MARTAPURA – Kemarau panjang mulai berdampak serius terhadap sektor pertanian di Kabupaten Banjar. Sejumlah petani mengeluhkan keterbatasan air yang membuat lahan pertanian mereka terancam gagal panen.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Tani Merdeka Indonesia (TMI) Kabupaten Banjar, Helda Rina, mengatakan sebagian lahan yang terdampak masih merupakan lahan produktif yang seharusnya segera memasuki masa panen.
“Sebagian bukan hutan melainkan lahan pertanian, sangat memprihatinkan, padahal lahan pertanian masih produktif, masih belum panen,” ujarnya, Rabu (26/8/2026).
Salah satu petani, Zulkifli, mengaku kondisi kemarau tahun ini membuat pertumbuhan padi tidak optimal. Ia menyebut lahan yang digarapnya memiliki luas sekitar 10 borongan.
Menurutnya, hujan sudah tidak turun selama kurang lebih dua bulan terakhir. Kondisi itu membuat tanaman sulit berkembang dan berpotensi gagal panen.
“Tahun ini kemungkinan gagal panen,” ungkapnya.
Baca juga: Kebakaran Lahan di Tungkaran Capai 5 Hektare, BPBD Banjar Sebut Akses dan Air Jadi Kendala
Kesulitan juga dirasakan dalam memenuhi kebutuhan air untuk lahan. Zulkifli menyebut jarak lahan dengan sumber air terdekat mencapai sekitar 200 meter, sehingga menyulitkan proses pengairan.
Ia menambahkan, baru tahun ini dirinya merasakan dampak kekeringan yang cukup parah hingga mengancam hasil panen. Pada tahun-tahun sebelumnya, meski terjadi kemarau, tanaman masih dapat tumbuh dan tetap menghasilkan panen, meskipun tidak maksimal.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak kemarau panjang mulai dirasakan langsung oleh petani, terutama pada ketersediaan air yang berdampak pada pertumbuhan tanaman dan penurunan potensi produksi.
Editor: Rizki


