Lenterakalimantan.com, BANJARBARU – Sebanyak dua delegasi Green Leadership Indonesia (GLI) ikuti kegiatan pembinaan kelompok pecinta alam dan kader konservasi yang digelar Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan (Kalsel).
Mereka adalah Muhammad Hidayatullah dan Romadhini Putri Wulandari yang turut bergabung bersama 20 peserta delegasi lainnya di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Provinsi Kalsel, Senin (21/11/2022).
Kegiatan tersebut diisi dengan pemaparan materi dengan sesi diskusi dengan menghadirkan tiga narasumber. Mereka yakni, Titik Sundari dari BKSDA Kalsel membawakan materi konservasi keanekaragaman hayati, Jarot J. Mulyono membawakan terkait konflik manusia dengan satwa liar, serta Akademisi Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Badaruddin membawakan peran generasi muda dalam konservasi di Kalsel.
Kepala BKSDA Kalsel diwakili Suwandi mengungkapkan, kegiatan ini merupakan wadah peminaan para pecinta alam dan kader konservasi yang ada di Kalimantan Selatan.
Lebih lanjut, sebagaimana kita ketahui bersama, hutan di Kalsel ini sangat beragam dan harus kita jaga. Untuk itu, peran serta pada kader konservasi sangat dibutuhkan dalam melangsungkan kelestarian sumber daya alam kita.
“Mudah-mudahan dengan kegiatan ini menjadi wadah kita bersama untuk menjaga kelestarian alam di Kalimantan Selatan,” terangnya.
Sementara itu, Muhammad Hidayatullah delegasi GLI turut menyinggung terkait trend kasus konflik manusia dengan satwa liar yang kian tahun nampak meningkatkan.
Berdasarkan data BKSDA sendiri, dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, tepatnya tahun 2019 terdapat 59 kasus, 2020 terdapat 57 kasus, hingga 20221 terdapat 93 kasus.
“Lantas, apakah penanganan kasus tersebut masih belum maksimal, sehingga terjadi peningkatan,” tanya Dayat.
Disamping itu, ia juga turut menyampaikan terkait maraknya kerusakan lingkungan dan alih fungsi lahan yang mengancam keberlangsungan ruang hidup sumber daya alam di Kalimantan Selatan.
Jarot J. Mulyono pun menanggapi terkait trend kasus meningkat tersebut disinyalir karena adanya layanan call center yang disediakan BKSDA Kalsel dalam menangani aduan-aduan, termasuk konflik manusia dengan satwa liar itu.
“Sebelum pada itu masih belum tersedia call center pengaduan, laporan yang diakomodir pun terbilang sedikit. Sesudah adanya call center ini, cenderung meningkat aduannya,” terangnya.
Lebih lanjut, terkait penanggulangan itu, pihaknya pun telah melakukan penanganan dengan multipihak dan berkelanjutan. Tak hanya saat ada aduannya saja, melainkan juga keberlanjutan penanganan satwa liar dan manusianya juga turut diakomodir.
“Jika menyebabkan luka korban jiwa manusia, kami juga turut membantu penanganannya,” jelasnya.
Selanjutnya, pihak BKSDA Kalsel pun berharap dengan adanya kader konservasi ini dapat membangkitkan peran bersama dalam melakukan beragam aksi konservasi di Kalimantan Selatan.


