Dunia pendidikan di Indonesia masih membutuhkan usaha besar untuk mencapai potensi yang maksimal dalam meningkatkan kualitas masyarakatnya. Pada praktiknya sendiri, khususnya di Kalimantan Selatan. Pada tahun 2019, Kalimantan mendapatkan indeks aktivasi literasi membaca nilai 37.00 dan menduduki peringkat 16 dari 34 provinsi yang ada. Hal ini mengakibatkan pendidikan, khususnya literasi dan numerasi, masih belum mencapai kemampuan optimalnya.
Jika dilihat dari performa guru, masih banyak guru yang menggunakan metode teacher-centered. Metode ini adalah metode konstan yang sudah dipakai sejak lama dan hanya berfokus pada penjelasan guru tanpa memerhatikan kebutuhan masing-masing siswa.
Hal ini dapat dilihat di sekitar kita dengan banyaknya para tenaga pendidik yang masih menggunakan metode belajar behavioristik. Metode ini mengharuskan siswanya untuk menghasilkan respon yang sesuai dengan yang diinginkan oleh guru.

HAFECS hadir sebagai lembaga yang berfokus pada lingkup pendidikan. HAFECS merupakan sebuah unit kerja di bawah naungan Yayasan Hasnur Centre yang berfokus pada peningkatan pendidikan yang ada di Indonesia, khususnya Kalimantan Selatan atau Banua. HAFECS memberikan pelayanan baik pada dinas-dinas ataupun sekolah-sekolah yang ada di Banua. Pelayanan yang diberikan adalah berupa pelatihan dan seminar seputar metode pengajaran, pemahaman kemampuan siswa, serta manajemen sekolah.
HAFECS berangkat dari misi-nya sendiri untuk melakukan transformasi pendidikan di Indonesia, khususnya di Banua. HAFECS mengikuti proses seleksi yang dilakukan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud), dan berhasil terpilih sebagai salah satu organisasi penggerak yang diamanahi untuk melakukan rangkaian Program Organisasi Penggerak (POP).
Proses seleksi yang dilakukan pemerintah adalah suatu proses seleksi yang kompleks dengan memperhatikan beberapa aspek pada masing-masing organisasi penggerak HAFECS berhasil bersaing dari 115 organisasi masyarakat di seluruh Indonesia dan lolos 3 proposal yang mendapatkan pendanaan dengan kategori Kijang untuk 3 jenjang yaitu TK/PAUD, SD, dan SMP.
HAFECS mendapatkan kontrak Program ini selama 3 tahun dari tahun 2021-2023, dan ditargetkan untuk melibatkan 600 guru dan 60 sekolah yang tersebar di 8 kabupaten dan kota, yaitu adalah Banjarmasin, Banjarbaru, Barito Kuala, Kabupaten Banjar, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Kuala Kapuas, dan Palangkaraya.
Secara umum, Program Organisasi Penggerak (POP) merupakan suatu program yang diluncurkan oleh pemerintah pada tahun 2020. Program ini merupakan upaya pemberdayaan masyarakat secara luas dengan tujuan meningkatkan kualitas guru dan kepala sekolah. Program ini didasarkan pada model-model pelatihan yang telah terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar siswa. Program ini berfokus pada peningkatan kompetensi di bidang literasi, numerasi, serta penguatan karakter pendidikan.
HAFECS memiliki tugas sebagai fasilitator utama dalam kegiatan POP yang berfokus pada sekolah daerah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Sebagai fasilitator, HAFECS berperan dalam pembuatan timeline rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan. Selain itu, HAFECS bertanggung jawab dalam segala hal persiapan kegiatan, dimulai dari sistematika kegiatan, persiapan narasumber atau trainer, fasilitas pelatihan, kurikulum, dan juga modul yang digunakan sebagai bahan ajar utama dalam pelatihan nantinya.

Melalui POP, HAFECS HAFECS berharap praktik baik dan materi yang sudah diberikan selama program dilaksanakan dapat menyebar luas tidak hanya pada sekolah sasaran saja. Guru-guru yang telah mengikuti program kegiatan akan mampu memberikan masukan-masukan baru kepada guru-guru non-partisipan POP. Selain itu, HAFECS berharap dengan program ini, guru-guru dapat meningkatkan kemampuan mengajar mereka dengan mempraktikkan hal-hal baik yang sudah dipelajari melalui pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh narasumber berpengalaman.
Program Organsasi Penggerak sendiri memiliki beberapa tujuan utama, yang diantaranya adalah mengiidentifikasi program peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan yang dilakukan dan terbukti berdampak positif terhadap hasil belajar siswa, mengidentifikasi organisasi masyarakat yang memiliki atau mengembangkan modul yang sesuai dengan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan di Indonesia, mengitegrasikan berbagai model program peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan, memperluas dan menyebarkan model peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan.
Selain POP, Kemendikbud juga meluncurkan program Sekolah Penggerak pada tahun 2021. Adapun perbedaan antara POP dan Program Sekolah Penggerak terletak pada tujuan utama masing-masing program. POP sendiri bertujuan untuk melakukan peningkatan kompetensi pada pendidik dan tenaga kependidikan. Sedangkan, Program Sekolah Penggerak adalah program yang berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik dengan mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang mencakup kompetensi kognitif (literasi dan numerasi) serta nonkognitif (karakter) yang diawali dengan SDM yang unggul (kepala sekolah dan guru).
Selain itu, POP diselenggarakan oleh organisasi masyarakat yang terpilih pada seleksi yang diadakan, dan sekolah penggerak dilakukan oleh sekolah yang terpilih melalui seleksi yang juga diadakan pemerintah. Dapat disimpulkan, bahwa perbedaan keduanya terletak pada tujuan dan pelaksana program.
Pada akhirnya, pendidikan di Indonesia masih memiliki kekurangan untuk mencapai kondisi optimal dalam praktiknya. Pemerintah memerlukan bantuan berbagai macam pihak, salah satunya organisasi masyarakat. Organisasi masyarakat memiliki peran penting dalam membantu pemerintah, yaitu sebagai pelaksana program organisasi penggerak.
HAFECS hadir sebagai pilar transformasi pendidikan di Banua. Diharapkan bahwa dengan ini, HAFECS dapat memberikan dampak secara langsung kemasyarakat, khususnya tenaga didik dan kependidikan.


