lenterakalimantan.com, BARABAI – Rencana membangun Bendungan Pancur Hanau di Hulu Sungai Tengah (HST) lama tak terdengar kabarnya.
Pada 2015 lalu, pasca-ekspose perencanaan pembangunannya di wilayah Kecamatan Hantakan, hingga sekarang sudah 3 kali berganti kepala daerah, belum terdengar kelanjutannya. Bahkan, saat itu sudah dilakukan Feasibility Study (FS) dan mendapat dukungan gubernur serta termasuk dalam rencana strategis provinsi.
Bendungan itu direncanakan sebagai kanal buka tutup penanganan banjir di Barabai. Maklum, ketika musim penghujan, Kota Barabai jadi langganan banjir.
Kabar terbaru datang dari Bupati HST Priode 2021-2024, H Aulia Oktafiandi. Dia bersama pemangku jabatan terkait di HST melakukan audiensi ke Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR RI di Jakarta, Rabu (25/10/2023).
Di sana mereka membahas lagi usulan Bendungan Pancur Hanau seluas 127.280 meter persegi itu
“Kami memberikan penekanan dan informasi tambahan tentang urgensi pembuatan Bendungan Pancur Hanau di HST,” kata Aulia yang saat itu disambut Direktur Bendungan dan Danau, Adenan Rasyid beserta jajaran Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR RI.
Bupati Aulia sedikit bercerita soal awal masa jabatannya sebagai kepala derah. Disebutnya, pasca-banjir bandang awal 2021 lalu, sudah bertemu dengan Menteri PUPR.
Dia menyampaikan langsung permasalahan pengelolaan aliran air sungai di HST.
“Hari ini kami kembali dengan membawa surat rekomendasi dukungan dari Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel),” kata Aulia.
Sejatinya, Kalsel ke depan akan menjadi gerbang Ibu Kota Negara atau IKN Nusantara. Dengan posisi strategis tersebut, Kalsel memulai mempersiapkan daerahnya untuk memasok kebutuhan pangan ke IKN.
Di situlah HST dari 13 kabupaten termasuk dalam 3 daerah pemangku pangan. Bersama dengan Kabupaten Banjar dan Batola.
“Esensinya adalah, kami ingin meningkatkan produksi pertanian,” terang Aulia.
Dari yang ada saat ini, Bendungan Batang Alai bisa mensupport 5.600 hektar lahan pertanian. Dengan Bendungan Pancur Hanau berkapasitas 44 juta meter kubik, akan ada tambahan 5.500 hektar lagi lahan yang bisa dialiri.
“Dan estimati produksi kita yang semula 60.000an ton bisa meningkat hingga 120.000 hingga 130.000. Di sinilah kami letakkan potensi HST yang ingin diperkuat berupa pertanian,” papar Aulia.
Berangkat dari pengalaman dan usaha bangkit dari banjir bandang pada 14 Februari 2021 silam, Aulia ingin mendorong potensi HST di bidang pertanian.
“Ini yang harus kami kelola. Karena kalau tidak, akan sia sia sumber daya yang ingin dimaksimalkan,” tegas Aulia.
Bupati Aulia berharap kedatangan dia dan sejumlah pemangku jabatan terkait di Pemkab HST saat itu bisa menaikkan prioritas Pancar Hanau. Yang semula masuk prioritas ke 10 bisa naik menjadi prioritas 5.
Pemkab HST, kata Aulia meminta Direktorat Bendungan dan Danau Kementerian PUPR bisa mengomunikasikan apa-apa saja yang kurang terkait Bendungan Pancur Hanau yang direncanakan di bangun di Desa Alat Hantakan. Sebab dia menilai, bendungan itu urgensi.
“Kami berharap rencana ini dapat terealisasi. Ini adalah bentuk usaha dan komitmen kami menjadikan HST yg lebih Makmur, Unggul dan Dinamis. Semoga usaha dan niat kami ini dapat ditindaklanjuti oleh Pemerintah Pusat,” tutup Aulia.
Direktur Bendungan dan Danau Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Adenan Rasyid menyebut Pancur Hanau masuk program 126 bendungan.
Teridentifikasi dengan berbagai kluster.
Rinciannya, 8 tersertifikasi, 33 masuk tahap sipil desain, 40 kluster yang sudah masuk tahap FS dan 45 lainnta baru potensi.
Sementara Bendungan Pancur Hanau termasuk dalam kluster yang sudah ada FS.
“Kita sepakat, salah satu kriteria dalam pembangunan adalah kebutuhan bukan keinginan. Sesuai penjelasan Pak Bupati Aulia, hal ini menjadi sangat rasional. *arena bendungan itu multifungsi. Jadi harus ada mengcover kebutuhan pangan, pengendalian banjir, supply air baku, serta pariwisata,” kata Adenan.
Soal proses, Adenan menjelaskan ada teknis dan non teknis. Tentang teknis, Kementerian PUPR punya komisi keamanan bendungan, tim evaluasi dan tim percepatan konstruksi.
Berbicara masalah non teknis, kata Adenan di luar tanggungan pihak kementerian.
“Itu melibatkan berbagai macam stakeholder dan masyarakat. Itu yang menjadi kendala. Harapan kami, Pemkab HST bisa meyakinkan kami, dari sisi tanah masyarakat mendukung, Pemkab mendukung. Sehingga memperkuat proses bahwa ini (Pembangunan Pancur Hanau) tidak ada masalah,” tutup Adenan.
Perlu diketahui, rencana pembangunan Pancur Hanau dilakukan di Desa Alat Kecamatan Hantakan. Diprediksi waduk itu dapat mengairi lebih 15 ribu hektare lahan persawahan.
Data teknis rencana bendungan Pancur Hanau meliputi tinggi bendungan 72 meter, elevasi puncak bendungan 156 meter dan elevasi dasar sungai 84 meter. Sementara panjang puncak bangunan 795 meter, luas genangan air 184.255 ha dan luas layanan irigasi 5.200 ha.


