lenterakalimantan.com, MARTAPURA – Praktik nepotisme ternyata masih jadi masalah serius di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjar..
Bukan cuma soal proyek pengadaan barang dan jasa (PBJ), tapi juga dalam urusan pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM), terutama promosi dan mutasi Aparatur Sipil Negara (ASN).
Hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) 2024 yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menunjukkan rapor merah untuk Banjar. Dimensi pengelolaan SDM mencatat nilai 66,30, terendah dibanding tahun-tahun sebelumnya (72,85 pada 2023, 68,43 pada 2022, dan 67,44 pada 2021).
Lebih rinci, promosi dan mutasi karena nepotisme masuk kategori rentan dengan nilai 53,97. Faktor kedekatan dengan pejabat, termasuk kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) maupun kepala daerah, juga dinilai tinggi pengaruhnya, nilainya 63,81.
Pengaruh kekerabatan dalam promosi-mutasi tercatat 65,60, disusul faktor golongan, organisasi, dan almamater. Hanya jual beli jabatan yang mendapat label hijau alias terjaga dengan nilai 78,01.
Kepala BKPSDM Banjar, Erni Wahdini, tak menampik hasil survei itu.
“Survei dilakukan eksternal dan internal. Yang eksternal kita zona hijau, tapi internalnya masih merah,” jelasnya, Selasa (9/9/2025).
Erni menyebut, karena survei dilakukan secara acak, hasilnya bisa dipengaruhi opini ASN yang merasa negatif terhadap pengelolaan kepegawaian.
“Karena ribuan ASN, tentu ada yang mindset-nya positif dan negatif,” tambahnya.
Meski begitu, BKPSDM mengklaim sudah berupaya melakukan pembenahan, mulai dari sosialisasi mekanisme mutasi-promosi yang transparan, tanpa biaya, hingga menghindari komunikasi langsung dengan ASN untuk mencegah praktik titip jabatan.
Plt Sekretaris BKPSDM, Nor Azizah, menegaskan sejak 2023 semua informasi mutasi dan promosi dilakukan daring melalui kanal resmi BKPSDM.
“Kalau ada indikasi berbayar di BKPSDM, silakan sampaikan. Semua proses gratis,” tegasnya.
Selain masalah SDM, SPI KPK juga memberi rapor merah pada pengadaan barang dan jasa di Banjar. Nilainya 63,71, dengan empat dari lima indikator masuk kategori rawan.
Editor: Rian


