lenterakalimantan.com, BANJARBARU – Tingginya kasus perundungan atau bullying di Indonesia, terutama di lingkungan SD, terus menjadi ancaman serius bagi dunia pendidikan. Fenomena ini mendorong tim mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang tergabung dalam PKM-RSH BullyReframe melakukan penelitian untuk mengungkap motif, konsekuensi, dan solusi dari perilaku tersebut, Kamis (16/10/25).
Ketua Tim PKM-RSH BullyReframe, Hatta, menjelaskan bahwa perilaku perundungan pada pelajar SD umumnya muncul secara impulsif, dipicu oleh tekanan dan frustrasi yang tidak tersalurkan dengan baik.
“Motif perilaku bullying ini selalu impulsif. Ketika trigger atau pemicunya datang, frustrasi yang terpendam akhirnya dilampiaskan dalam bentuk agresi atau bully,” ujarnya.
Penelitian tersebut menemukan bahwa dorongan internal, seperti frustrasi emosional, serta faktor eksternal seperti lingkungan keluarga, pertemanan, dan sistem sekolah yang tidak adil, menjadi pemicu utama.
Selain berdampak pada korban, perilaku ini juga merugikan pelaku dari banyak sisi. Seperti menurunnya empati, rusaknya hubungan sosial, dan munculnya persepsi keliru bahwa membuat korban menangis adalah bentuk keberhasilan.
Dosen pendamping, Muhammad Abdan Shadiqi, menilai hasil riset ini memberi kontribusi penting dalam memahami akar penyebab terjadinya perundungan.
“Perilaku perundungan tidak hanya perlu dicegah, tetapi juga dipahami sebagai ekspresi emosi yang keliru. Dengan pendampingan yang tepat, anak-anak dapat belajar menyalurkan emosinya secara positif dan membangun empati terhadap teman sebayanya,” jelasnya.
Menurut tim peneliti, pencegahan perundungan tidak cukup hanya dari satu sisi. Diperlukan kolaborasi berbagai pihak. Mulai dari orang tua, guru, psikolog, konselor, dan sekolah, untuk memperkuat aspek internal anak melalui pembelajaran regulasi emosi, empati, dan resolusi konflik tanpa kekerasan.
Di sisi lain, aspek eksternal juga perlu diperkuat melalui lingkungan sekolah dan keluarga yang adil, suportif, dan responsif terhadap kebutuhan emosional anak.
Upaya kolaboratif ini diharapkan mampu menjadi langkah nyata dalam menekan angka perundungan di lingkungan SD dan menciptakan ruang belajar yang aman serta sehat bagi anak-anak.
Editor: Rizki


