• Home
  • Berita
  • Daerah
    • KALIMANTAN SELATAN
      • Banjarmasin
      • Banjarbaru
      • Barito Kuala
      • Kabupaten Banjar
      • Balangan
      • Hulu Sungai Selatan
      • Hulu Sungai Tengah
      • Hulu Sungai Utara
      • Kotabaru
      • Tabalong
      • Tanah Bumbu
      • Tanah Laut
      • Sukamara
      • Tapin
    • KALIMANTAN TENGAH
      • Palangka Raya
      • Pulang Pisau
      • Seruyan
      • Murung Raya
      • Kotawaringin Timur
      • Barito Selatan
      • Kotawaringin Barat
      • Katingan
      • Kapuas
      • Gunung Mas
      • Barito Utara
      • Barito Timur
    • KALIMANTAN TIMUR
      • Samarinda
      • Bontang
      • Balikpapan
      • Penajam Paser Utara
      • Paser
      • Mahakam Ulu
      • Kutai Timur
      • Kutai Kartanegara
      • Kutai Barat
      • Berau
    • KALIMANTAN BARAT
      • Sambas
      • Mempawah
      • Sanggau
      • Ketapang
      • Sintang
      • Kapuas Hulu
      • Bengkayang
      • Landak
      • Sekadau
      • Melawi
      • Kayong Utara
      • Kubu Raya
      • Pontianak
      • Singkawang
    • KALIMANTAN UTARA
      • Bulungan
      • Nunukan
      • Malinau
      • Tarakan
      • Tana Tidung
  • Nasional
    • Internasional
  • Hukum & Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Olahraga
  • Wisata
  • Otomotif
  • Opini
  • Kesehatan
  • Mitra Lentera
Reading: Menjadi Perempuan Aktif Tanpa Takut Dicibir di Banjarmasin
Share
lenteraKalimantan.comlenteraKalimantan.com
Font ResizerAa
  • Berita
  • KALIMANTAN TENGAH
  • KALIMANTAN BARAT
  • KALIMANTAN TIMUR
  • KALIMANTAN UTARA
  • Hukum & Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Olahraga
  • Wisata
  • Otomotif
  • Kesehatan
  • Opini
Search
  • Home
  • Berita
  • Daerah
    • KALIMANTAN SELATAN
    • KALIMANTAN TENGAH
    • KALIMANTAN TIMUR
    • KALIMANTAN BARAT
    • KALIMANTAN UTARA
  • Nasional
    • Internasional
  • Hukum & Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Olahraga
  • Wisata
  • Otomotif
  • Opini
  • Kesehatan
  • Mitra Lentera
Follow US
Copyright © 2024 Lentera Kalimantan By LIMBO. All Rights Reserved.
Home Menjadi Perempuan Aktif Tanpa Takut Dicibir di Banjarmasin
ArtikelKALIMANTAN SELATANOpiniPendidikan

Menjadi Perempuan Aktif Tanpa Takut Dicibir di Banjarmasin

lenterakalimantan.com
lenterakalimantan.com
Share
7 Min Read
Zulfa Salsabila (Foto for LK)
Zulfa Salsabila (Foto for LK)
SHARE

Menjadi perempuan aktif di Banjarmasin bukanlah perkara sederhana. Di tengah kuatnya nilai budaya, agama, dan norma sosial yang dijunjung tinggi, perempuan sering kali dihadapkan pada ekspektasi tertentu tentang bagaimana seharusnya mereka bersikap, berperan, dan menentukan pilihan hidup. Namun, perempuan aktif baik di ruang publik, pendidikan, organisasi, maupun dunia kerja bukanlah ancaman bagi nilai-nilai tersebut, melainkan bagian dari perkembangan masyarakat itu sendiri.

Banjarmasin dikenal sebagai kota yang religius dan berbudaya. Nilai kesopanan, kebersamaan, dan keharmonisan sangat dijaga. Sayangnya, nilai-nilai ini terkadang disalahartikan menjadi batasan yang membungkam ruang gerak perempuan. Perempuan yang aktif berorganisasi, bersuara kritis, atau berkarier di luar peran domestik kerap dicibir dengan label “terlalu ambisius”, “kurang pantas”, atau “melupakan kodrat”. Padahal, menjadi aktif bukan berarti meninggalkan identitas sebagai perempuan atau menafikan nilai budaya dan agama.

Perempuan aktif adalah perempuan yang sadar akan potensi dirinya dan berani mengembangkannya. Di Banjarmasin, semakin banyak perempuan yang terlibat dalam kegiatan sosial, pendidikan, wirausaha, hingga politik lokal. Mereka hadir sebagai guru, relawan, pengusaha UMKM, aktivis lingkungan, dan pemimpin komunitas. Kehadiran mereka membuktikan bahwa perempuan mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan daerah tanpa harus kehilangan jati diri sebagai urang Banjar.

Cibiran sering muncul karena perubahan kerap dianggap sebagai ancaman. Ketika perempuan memilih untuk aktif, mandiri, dan berpendapat, sebagian masyarakat merasa terusik oleh pola lama yang sudah nyaman. Namun, perempuan tidak seharusnya hidup dalam ketakutan akan penilaian orang lain. Kemajuan sebuah daerah justru lahir dari keberanian warganya termasuk perempuan untuk mengambil peran dan bertanggung jawab atas masa depan bersama.

Menjadi perempuan aktif di Banjarmasin juga berarti cerdas dalam bersikap. Aktif bukan berarti melawan norma, tetapi menegosiasikan peran dengan bijak. Perempuan dapat tetap menjunjung nilai agama, adat, dan kesopanan sambil tetap produktif dan berdaya. Keseimbangan inilah yang perlu dipahami oleh masyarakat: bahwa perempuan bisa aktif tanpa harus dianggap melanggar batas.

Yang paling penting, perempuan perlu saling menguatkan. Dukungan dari sesama perempuan, keluarga, dan lingkungan sekitar sangat berperan dalam membangun rasa percaya diri. Ketika satu perempuan berani melangkah, ia membuka jalan bagi perempuan lain untuk melakukan hal yang sama. Perlahan, cibiran akan tergantikan oleh penghargaan, dan stereotip akan runtuh oleh prestasi nyata.

Pada akhirnya, menjadi perempuan aktif tanpa takut dicibir di Banjarmasin adalah bentuk keberanian dan cinta terhadap diri sendiri serta daerah. Perempuan tidak meminta keistimewaan, hanya ruang yang setara untuk tumbuh dan berkontribusi. Jika Banjarmasin ingin terus maju, maka perempuan yang aktif, berdaya, dan berani harus dipandang bukan sebagai masalah, melainkan sebagai kekuatan.

Pendidikan memegang peran penting dalam membangun generasi perempuan yang tidak takut dicibir. Ketika perempuan dibekali dengan pengetahuan dan pemahaman kritis, mereka akan lebih mampu membedakan kritik yang membangun dan cibiran yang tidak berdasar. Pendidikan juga membantu perempuan memahami hak dan tanggung jawabnya sebagai individu dan sebagai bagian dari masyarakat. Dengan demikian, perempuan tidak mudah terintimidasi oleh tekanan sosial.

Dukungan keluarga menjadi faktor kunci dalam membentuk keberanian perempuan. Perempuan yang didukung oleh orang tua, pasangan, dan keluarga besar cenderung lebih percaya diri dalam beraktivitas di ruang publik. Di Banjarmasin, peran keluarga sangat kuat, sehingga restu dan dukungan keluarga dapat menjadi benteng utama dari cibiran lingkungan. Oleh karena itu, penting bagi keluarga untuk menyadari bahwa keberhasilan perempuan adalah kebanggaan bersama, bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

Pada akhirnya, perubahan sosial tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan waktu dan konsistensi untuk membangun penerimaan terhadap perempuan aktif di Banjarmasin. Setiap perempuan yang berani melangkah, tetap teguh pada prinsipnya, dan menunjukkan kontribusi nyata akan menjadi contoh bagi lingkungan sekitarnya. Cibiran mungkin tidak akan langsung hilang, tetapi lambat laun akan melemah ketika masyarakat melihat hasil nyata dari keaktifan perempuan.

Menjadi perempuan aktif tanpa dicibir bukan berarti menunggu masyarakat berubah sepenuhnya, melainkan berani menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. Dengan tetap menjunjung nilai budaya dan agama, perempuan Banjarmasin dapat menunjukkan bahwa keaktifan, keberdayaan, dan martabat dapat berjalan beriringan. Perempuan tidak perlu memilih antara menjadi diri sendiri atau diterima masyarakat keduanya bisa diwujudkan melalui keberanian, ketulusan, dan kontribusi yang nyata.

Secara keseluruhan, pandangan terhadap opini ini cenderung positif dan konstruktif. Opini tersebut tidak provokatif, melainkan persuasif dan edukatif. Ia mengajak perubahan secara bertahap, bukan dengan penolakan terhadap nilai lokal, tetapi melalui penyesuaian dan pemahaman yang lebih inklusif. Dengan demikian, opini tentang menjadi perempuan kuat tanpa takut dicibir di Banjarmasin layak diapresiasi sebagai upaya membangun kesadaran sosial dan mendorong terciptanya masyarakat yang lebih adil, menghargai, dan memberi ruang bagi perempuan untuk berdaya.

Menurut saya, menjadi perempuan kuat tanpa takut dicibir di Banjarmasin adalah bentuk keberanian yang patut dihargai. Dalam lingkungan yang masih sangat menjunjung norma dan kebiasaan turun temurun, perempuan sering kali dihadapkan pada batasan sosial yang tidak selalu tertulis, tetapi terasa nyata. Cibiran, pandangan sinis, atau komentar meremehkan kerap muncul ketika perempuan memilih untuk aktif, mandiri, dan berani mengambil peran di ruang publik.

Islam memandang perempuan sebagai makhluk yang mulia dan setara dalam nilai kemanusiaan. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan untuk beribadah dan menjadi khalifah di muka bumi. Artinya, perempuan memiliki tanggung jawab sosial yang sama untuk berbuat kebaikan, menuntut ilmu, bekerja, dan berkontribusi dalam masyarakat. Di Banjarmasin, yang dikenal sebagai kota religius, semangat ini seharusnya menjadi landasan dalam memandang perempuan yang aktif dan kuat.

Perempuan kuat adalah perempuan yang memiliki landasan spiritual yang kokoh. Ia mampu bersikap tenang dan tidak mudah goyah oleh cibiran karena menyadari bahwa penilaian utama datang dari Tuhan, bukan semata-mata dari manusia. Dalam masyarakat Banjarmasin yang religius, keteguhan iman membantu perempuan menjalani perannya dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan.

Penulis : Zulfa Salsabila Muzanie

Peserta Latihan Khusus Kohati (LKK) HMI Cabang (P) Tanah Laut 2025

Cabang : Banjarmasin

Terpopuler

PM-AAS
PM-AAS Diyakini Dongkrak Produktivitas dan Kesejahteraan Petani Kalteng
KALIMANTAN TENGAH
Woow! Kopi Robusta Mangkara Dikembangkan di Tanah Laut
Berita
Hutan Galam Jadi Penambah Indahnya Panorama Alam Pantai JBG
Berita
Di Luar Areal Tambang, JBG Hijaukan DAS Tahura Seluas 3251 Hektar
Berita
Mehbob Menilai Kubu Muldoko Produksi Kebohongan Baru
Berita

You Might Also Like

Warga Akui Pasar Murah Banjarmasin Sangat Membantu

Menjelang Pemilu 2024, Kapolres Silaturahmi Dengan Pengurus Partai di Tapin

Nataru 2024, Legislator Balangan Saiful Arif Ajak Warga Jaga Kerukunan

Masih Diberi Kepercayaan, Chairil Anwar Dilantik Anggota DPRD Kotabaru

[OPINI] Penyiaran, Kebenaran, dan Ketahanan Nasional di Tengah Banjir Informasi

Puncak Hari BPR-BPRS Nasional 2026 Digelar di Pelaihari, Dorong UMKM dan Ekonomi Daerah

Sebelum Berangkat ke Tanah Suci, 193 Calon Jemaah Haji Balangan Dibekali Bimbingan

Seorang Karyawan Honorer Ketahuan Membawa Sabu 0,75 Gram

Belasan Kendaraan Bekas Dinas di Kabupaten Tabalong Telah Dihibahkan

Serahkan 11 Sertipikat Tanah Wakaf untuk PCNU Kalsel, Menteri Nusron Dorong Kolaborasi Lintas Organisasi Keagamaan

TAGGED:HMI BanjarmasinHMI Tanah LautkOHATIlatihan khusus KohatiMenjadi Perempuan Aktif Tanpa Takut DicibirOpini
Share This Article
Facebook X Flipboard Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
Previous Article Upacara Hari Bela Negara ke-77 di Samarinda Berlangsung Khidmat di Tengah Gerimis
Next Article KORMI Ratusan Warga Meriahkan Senam Bersama KORMI Kalteng di Bundaran Besar

Latest News

edukasi
BPBD Balangan Edukasi Kesiapsiagaan Bencana bagi Siswa dan Guru saat MPLS
Uncategorized Juli 21, 2026
PAUD
Pemkab Balangan Perkuat Kolaborasi untuk Tingkatkan Mutu PAUD dan Sekolah Ramah Anak
KALIMANTAN SELATAN Juli 21, 2026
rodok
Pemdes Rodok Fokus Tingkatkan Pelayanan, Sesuaikan dengan Kondisi Anggaran
KALIMANTAN TENGAH Juli 21, 2026
Pemkot Banjarmasin
Pemkot Banjarmasin Percepat Penataan Tiang Telekomunikasi, Kawasan Simpang Empat Kantor Pos Jadi Percontohan
KALIMANTAN SELATAN Juli 21, 2026
plinko gamethorfortune casinothorfortunethorfortunechicken road game
lenteraKalimantan.comlenteraKalimantan.com
Follow US
© 2026 Lentera Kalimantan. All Rights Reserved. Designed by HCD
  • INFO REDAKSI
  • Contact Us
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Kode Etik
  • SOP WARTAWAN
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?