lenterakalimantan.com, MARTAPURA – Festival Becatuk Dauh se-Kabupaten Banjar Tahun 2026 kembali digelar di Alun-Alun Martapura. Kegiatan rutin yang selalu dilaksanakan menjelang Ramadan ini memulai babak penyisihan selama dua hari, yakni Selasa (11/2/26) – Rabu (12/2/26).
Festival yang pertama kali digelar pada 2018 ini menjadi agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Banjar dalam upaya melestarikan tradisi budaya daerah.
Kepala Bidang Kebudayaan Disbudporapar Kabupaten Banjar sekaligus juri busana dan penampilan, Muhammad Syahid, mengatakan kegiatan tersebut konsisten dilaksanakan setiap tahun.
“Ini kegiatan rutin setiap tahun di Kabupaten Banjar yang terhitung mulai dari 2018,” ujarnya.
21 Grup Siap Bertanding
Tahun ini, sebanyak 21 grup peserta ambil bagian dalam babak penyisihan. Pendaftaran telah dibuka sekitar dua bulan sebelum pelaksanaan, sehingga peserta memiliki waktu cukup untuk mempersiapkan penampilan terbaik mereka.
Dari babak penyisihan, telah dipilih sembilan grup yang berhak melaju ke babak final. Menariknya, kesembilan finalis tersebut dipastikan telah menyandang gelar juara.
“Ada 9 grup yang masuk ke final, dan ke-9 grup ini sudah otomatis juara,” jelas Syahid.
Adapun kategori penghargaan yang diperebutkan meliputi Juara 1, 2, dan 3, Harapan 1, 2, dan 3, Busana Terbaik, Pelestari, serta Favorit.
Babak final diperkirakan akan dilaksanakan pada pertengahan Ramadan, antara hari ke-15 atau ke-21 Ramadan, dan digelar pada malam hari. Pelaksanaan malam hari dengan tambahan tata pencahayaan diharapkan dapat menghadirkan suasana yang lebih meriah.
Festival yang Lebih Besar dan Meriah
Ke depannya, Disbudporapar Kabupaten Banjar berencana memperluas cakupan festival ini ke wilayah sekitarnya, meliputi Banjarmasin, Banjarbaru, dan Kabupaten Banjar. Bahkan, tidak menutup kemungkinan akan diperluas hingga Pelaihari, Marabahan, serta skala se-Kalimantan Selatan.
“Tahun depan kami yakin peserta akan bertambah karena akan dibagi menjadi dua kategori, yaitu dewasa dan anak-anak,” tambahnya optimistis.
Melalui festival ini, diharapkan tradisi becatuk dauh tetap lestari dan semakin diminati generasi muda di Kabupaten Banjar maupun daerah sekitarnya.
Editor: Rizki


