lenterakalimantan.com, KUTAI TIMUR – Komitmen Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud dalam membuka akses wilayah utara Kalimantan Timur akhirnya terwujud. Jembatan Sungai Nibung yang mangkrak sejak 2014 kini rampung dan siap diresmikan pada Selasa, 24 Februari 2026, di tengah momentum Ramadan.
Janji itu sejatinya telah disampaikan Harum jauh hari sebelumnya. Bahkan, di sela menerima aspirasi massa aksi Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat di halaman Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Senin (23/2/2025), Harum secara terbuka menyampaikan bahwa Jembatan Sungai Nibung akan segera diresmikan.
“Besok, kami juga akan meresmikan Jembatan Sungai Nibung yang sejak 2014 pembangunannya dan baru bisa dituntaskan saat ini. Jembatan ini akan membuka akses transportasi orang serta distribusi barang dan jasa di Kutai Timur dan Berau,” ujar Harum kala itu.
Keseriusan tersebut kembali ditegaskan saat Harum melakukan blusukan ke wilayah utara Kaltim, Senin, 14 Juli 2025. Ia menempuh jalur Kaubun–Sangkulirang melalui penyeberangan feri GM di Kaubun. Di lokasi itu, Harum menyaksikan langsung kondisi masyarakat yang harus antre berjam-jam untuk menyeberang sungai, meski jembatan telah berdiri namun tak kunjung difungsikan.
Melihat kondisi tersebut, Harum menegaskan sikap tegasnya. Ia menilai Jembatan Sungai Nibung memiliki peran sangat strategis dalam membuka konektivitas Kutai Timur dan Berau. Tekanan pun diberikan agar proyek tersebut segera diselesaikan.
Hasilnya, dalam satu tahun masa kepemimpinannya bersama Wakil Gubernur Seno Aji, Jembatan Sungai Nibung akhirnya rampung 100 persen.
“Alhamdulillah, di bulan penuh berkah Ramadan kita akan resmikan Jembatan Nibung di Kutai Timur hari ini,” kata Harum sesaat sebelum bertolak menuju lokasi peresmian melalui jalur darat.
Tak hanya struktur jembatan, seluruh akses jalan pendekat dari Kampung Kadungan Jaya, Kecamatan Kaubun hingga Kampung Pelawan, Kecamatan Sangkulirang, juga telah diselesaikan sepenuhnya.
“Kami sangat senang, karena baru setahun kami menjabat, Jembatan Nibung akhirnya bisa kita selesaikan. Kalau saya tidak keras, mungkin belum tentu selesai juga jembatan ini,” ujar Harum.
Kehadiran jembatan ini menjadi jawaban atas penantian panjang masyarakat. Jalur yang sebelumnya memutar, melelahkan, dan menguras biaya kini berubah menjadi akses efisien yang memangkas waktu tempuh hingga empat jam serta memendekkan jarak sekitar 140 kilometer.
Distribusi ikan, kelapa sawit, dan mobilitas penumpang dipastikan akan semakin bergairah. Bahkan, perjalanan menuju Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, tak lagi menjadi perjalanan panjang penuh keringat dan waswas, melainkan jalur darat yang lebih cepat, aman, dan manusiawi.


