lenterakalimantan.com, JAKARTA — Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi titik balik dunia pendidikan tinggi. Kampus tidak lagi menjadi satu-satunya pusat pengetahuan, sementara dosen dituntut bertransformasi dari pengajar konvensional menjadi pembimbing dan orkestrator pembelajaran.
Pesan ini mengemuka dalam Executive Workshop yang digelar SEVIMA bersama Rhenald Kasali, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia sekaligus Founder Rumah Perubahan, yang diikuti ratusan pimpinan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia.
Prof. Rhenald Kasali menegaskan, AI telah mengakhiri monopoli pengetahuan yang selama ini melekat pada dosen. Mahasiswa generasi Z kini memiliki sumber belajar alternatif yang cepat, lintas disiplin, dan mudah diakses.
“Dosen bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. Jika kampus tidak berubah, maka ketertinggalan itu akan terjadi dengan sendirinya,” ujarnya dalam forum bertema Lead The Future: Memimpin Orkestrasi Kampus Berdampak dengan Artificial Intelligence dan Kurikulum Outcome Based Education (OBE).
Dari Transfer Ilmu ke Pengembangan Manusia
Menurut Rhenald, pendidikan tinggi harus bergeser dari sekadar proses transfer ilmu menjadi proses membangun manusia—mengembangkan potensi, karakter, dan keunikan setiap mahasiswa. AI, kata dia, seharusnya menjadi pemicu perubahan tersebut, bukan ancaman.
Diskusi ini juga menghadirkan Kepala LLDIKTI Wilayah III Dr. Henri Togar H.T., M.A., serta sejumlah pakar pendidikan. Acara dibuka secara hybrid dan diikuti ratusan rektor dari berbagai daerah.
Tiga Arah Perubahan Kampus di Era AI
1. Pemetaan Masalah Pendidikan Tinggi
CEO SEVIMA Sugianto Halim menyoroti stagnasi Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia yang bertahan di angka 32,89 persen selama hampir delapan tahun. Padahal, target Indonesia Emas 2045 menuntut APK mencapai 60 persen.
Di sisi lain, survei SEVIMA menunjukkan 68,1 persen perguruan tinggi berencana memprioritaskan teknologi generative AI dalam tiga tahun ke depan—menandakan kesiapan awal menuju transformasi berbasis AI.
2. Adaptasi SDM Kampus terhadap AI
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hj. Himmatul Aliyah mengingatkan, tantangan utama AI bukan hanya teknologinya, tetapi kesenjangan kompetensi antara dosen dan mahasiswa.
“Mahasiswa sudah terbiasa dengan AI, tetapi pemahaman etika masih lemah. Di sinilah peran kampus, swasta, dan pemerintah harus hadir,” ujarnya.
3. Integrasi AI dalam Pembelajaran
Sebagai solusi praktis, SEVIMA meluncurkan Edlink Dosen Pro AI, sistem berbasis kecerdasan buatan yang mampu menyusun RPS berbasis OBE, mengonversi bahan ajar menjadi video, hingga membuat bank soal terstruktur.
Teknologi ini dirancang untuk mengurangi beban administratif dosen, sehingga mereka dapat lebih fokus pada inovasi pembelajaran dan pendampingan mahasiswa.
“Kami ingin AI mengambil alih pekerjaan repetitif, bukan menggantikan peran dosen sebagai pendidik,” tegas Sugianto Halim.
Momentum Reformasi Kampus
Forum ini menegaskan satu hal: AI bukan ancaman bagi perguruan tinggi, melainkan momentum reformasi. Kampus yang adaptif akan bertahan dan relevan, sementara yang menolak perubahan berisiko ditinggalkan zaman.


