lenterakalimantan.com, PALANGKA RAYA – Ketegangan geopolitik yang melibatkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus menjadi perhatian dunia. Dinamika konflik tersebut tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas global, termasuk kepentingan strategis Indonesia.
Menyikapi situasi tersebut, Pemuda Katolik Komisariat Daerah Kalimantan Tengah menggelar webinar nasional bertajuk “Dampak Geopolitik Konflik Amerika–Israel–Iran: Strategi dan Implikasi bagi Indonesia.”
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini menjadi ruang diskusi strategis untuk membaca perubahan lanskap geopolitik global sekaligus memperdalam pemahaman generasi muda mengenai implikasinya terhadap kepentingan nasional.
Webinar tersebut menghadirkan Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Akbarshah Fikarno Laksono, yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Alumni Universitas Pertahanan Republik Indonesia.
Dalam pemaparannya, Dave mengapresiasi inisiatif Pemuda Katolik yang membuka ruang dialog strategis bagi generasi muda untuk memahami dinamika geopolitik global.
Menurutnya, perkembangan geopolitik saat ini menunjukkan fenomena “weaponizing everything”, yakni kondisi ketika berbagai instrumen yang sebelumnya menjadi sarana kerja sama internasional berubah menjadi alat tekanan geopolitik.
“Kompetisi kekuatan di era modern tidak lagi hanya berlangsung di domain militer. Persaingan juga merambah sektor ekonomi, politik, teknologi, hingga pengaruh geopolitik secara luas. Karena itu, Indonesia harus mampu membaca perubahan ini secara strategis,” ujarnya.
Komitmen Menjaga Perdamaian Dunia
Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Stefanus Gusma, menegaskan bahwa di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, komitmen terhadap perdamaian dunia harus tetap menjadi prioritas bersama.
“Pemuda Katolik mengajak seluruh pihak untuk terus menempatkan perdamaian dunia sebagai kepentingan bersama. Sikap rasional, solidaritas kemanusiaan, serta komitmen pada dialog dan kerja sama internasional menjadi kunci untuk menjaga stabilitas global dan masa depan perdamaian dunia,” kata Gusma.
Webinar ini juga menghadirkan sejumlah akademisi dan praktisi yang memberikan perspektif multidisipliner mengenai konflik global dan implikasinya bagi Indonesia.
Mereka antara lain Eduardo Edwin Ramda, Kabid Riset dan Kebijakan Publik PP Pemuda Katolik sekaligus alumni Program Studi Ekonomi Pertahanan Universitas Pertahanan Republik Indonesia; Jeanne Francoise, dosen President University; Agus Haryanto, Ketua Umum Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia sekaligus dosen Universitas Jenderal Soedirman; serta RD Andreas Fernandez, Pastor Moderator Pemuda Katolik Flores Timur.
Dinamika Geopolitik dan Dampaknya untuk Indonesia
Dalam paparannya, Eduardo Edwin Ramda menekankan bahwa dinamika geopolitik Iran perlu dibaca secara jernih oleh Indonesia, terutama dalam menjaga stabilitas fiskal dan ketahanan ekonomi nasional.
Ia menilai pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif melalui tata kelola anggaran yang lebih adaptif, penguatan kemandirian daerah, serta komunikasi publik yang transparan dan berbasis data.
Menurutnya, Indonesia juga perlu memperkuat industri pertahanan dalam negeri, menjaga ketahanan pangan rumah tangga, serta meningkatkan efisiensi pengelolaan energi sebagai bagian dari strategi menghadapi ketidakpastian global.
“Pada saat yang sama, masyarakat juga perlu bijak menyaring informasi agar tidak terjebak disinformasi serta tetap menjaga kesehatan mental dalam menyikapi dinamika geopolitik,” jelasnya.
Sementara itu, Jeanne Francoise menyoroti pentingnya memahami latar historis dan tradisi pertahanan negara-negara yang terlibat konflik. Ia menilai pemahaman terhadap defense heritage menjadi kunci dalam membaca perilaku strategis suatu negara.
“Setiap negara memiliki warisan pertahanan yang membentuk cara pandang mereka terhadap ancaman, keamanan, dan penggunaan kekuatan. Tanpa memahami warisan strategis tersebut, kita akan sulit membaca logika di balik tindakan negara-negara dalam konflik ini,” ujarnya.
Dari perspektif hubungan internasional, Agus Haryanto menekankan pentingnya Indonesia menentukan posisi secara cermat di tengah dinamika konflik global.
“Kita perlu melihat secara hati-hati bagaimana positioning Indonesia dalam balance of power yang sedang terbentuk. Indonesia memiliki tradisi diplomasi damai, sehingga peran kita dalam diplomasi perdamaian harus terus diperkuat,” tuturnya.
Sementara itu, Romo Andreas mengingatkan bahwa resolusi konflik tidak hanya membutuhkan pendekatan politik dan diplomasi, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan yang lebih mendasar.
“Dalam perspektif filosofis dan kemanusiaan, resolusi konflik harus berangkat dari kasih. Kasih memampukan manusia melihat pihak lain bukan sebagai musuh yang harus dihancurkan, tetapi sebagai sesama yang perlu diajak kembali ke dalam dialog dan rekonsiliasi,” ungkapnya.
Upaya Memperkuat Literasi Geopolitik Generasi Muda Kalteng
Ketua Pemuda Katolik Komda Kalimantan Tengah, Dorothea Sthallhani Jasi, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya organisasi untuk memperkuat literasi geopolitik generasi muda.
Menurutnya, pemahaman terhadap dinamika geopolitik global sangat penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, mampu melihat keterkaitan antara konflik internasional dengan kepentingan strategis Indonesia di bidang pertahanan, ekonomi, dan stabilitas nasional.
“Forum seperti ini diharapkan tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga mendorong lahirnya perspektif strategis yang konstruktif bagi masa depan Indonesia di tengah perubahan tatanan dunia,” tegasnya.
Editor: Rizki


