lenterakalimantan.com, KANDANGAN — Sebanyak 217 inovasi yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dipetakan dan dievaluasi untuk melihat sejauh mana inovasi tersebut mampu mendukung arah pembangunan daerah sekaligus menjawab agenda Asta Cita, Rabu (5/8/2026).
Pemetaan tersebut menjadi bagian dari kegiatan Sosialisasi, Diseminasi, dan Pemaparan Hasil Kajian Evaluasi Inovasi Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan Berbasis Pemetaan Asta Cita yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) HSS bersama HAFECS Research and Publication (HRP), HAFECS-Yayasan Hasnur Centre.
Kegiatan berlangsung selama dua hari, 4–5 Agustus 2026, di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten HSS. Forum tersebut mempertemukan pemerintah daerah, akademisi, peneliti, dan pakar untuk mengevaluasi relevansi, manfaat, keberlanjutan, tata kelola, serta tingkat kematangan inovasi daerah.
Kepala BAPPERIDA Kabupaten HSS, M. Arliyan Syahrial, M.Pd., CGRE, mengatakan inovasi daerah harus ditempatkan sebagai instrumen untuk menyelesaikan persoalan pembangunan, bukan sekadar memenuhi tuntutan administratif.
«“Inovasi daerah merupakan salah satu pilar penting dalam meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan, pelayanan publik, dan daya saing daerah. Inovasi yang dikembangkan tidak hanya dituntut mampu menjawab permasalahan di daerah, tetapi juga harus selaras dengan arah pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Asta Cita, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat.”»
Menurut M. Arliyan Syahrial, M.Pd., CGRE, hasil evaluasi akan digunakan untuk memetakan tingkat koherensi inovasi dengan Asta Cita, mengidentifikasi manfaat dan dampaknya, sekaligus menyusun rekomendasi strategis agar pengembangan inovasi di HSS lebih terarah dan berkelanjutan.
Hasil kajian tersebut juga menjadi salah satu data dukung dalam pemenuhan indikator Monitoring dan Evaluasi Inovasi Daerah pada Innovative Government Award (IGA) 2026.
Karena itu, perangkat daerah, unit kerja, rumah sakit, kecamatan, kelurahan, hingga puskesmas didorong tidak hanya menghasilkan inovasi baru, tetapi juga meningkatkan kualitas inovasi yang sudah berjalan melalui penguatan aspek kebaruan, kebermanfaatan, keberlanjutan, replikasi, dan kualitas implementasi.
«“Melalui forum ini kami mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi, berbagi pengalaman, serta membangun komitmen bersama dalam mengembangkan inovasi yang berkualitas dan berorientasi pada hasil.”»
217 Inovasi Tersebar di Delapan Asta Cita
Berdasarkan hasil pemetaan, terdapat 217 inovasi yang tersebar pada delapan kategori Asta Cita.
Jumlah terbesar berada pada Asta Cita 7 yang berkaitan dengan reformasi politik, hukum, birokrasi, pemberantasan korupsi, dan narkoba. Kategori ini menampung 100 inovasi atau sekitar 46,1 persen dari keseluruhan inovasi.
Selanjutnya, Asta Cita 4 yang mencakup pembangunan sumber daya manusia, sains dan teknologi, pendidikan, kesehatan, olahraga, serta kesetaraan gender memiliki 73 inovasi atau 33,6 persen.
Asta Cita 3 terkait penciptaan lapangan kerja, kewirausahaan, industri kreatif, dan pembangunan infrastruktur memiliki 20 inovasi atau 9,2 persen. Kemudian Asta Cita 2 sebanyak 11 inovasi atau 5,1 persen, Asta Cita 6 sebanyak delapan inovasi atau 3,7 persen, Asta Cita 8 sebanyak tiga inovasi atau 1,4 persen, dan Asta Cita 1 sebanyak dua inovasi atau 0,9 persen.
Sementara itu, belum terdapat inovasi yang masuk dalam Asta Cita 5 yang berfokus pada hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Temuan tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam evaluasi. Portofolio inovasi HSS dinilai masih kuat pada reformasi birokrasi serta pembangunan sumber daya manusia, tetapi masih membutuhkan diversifikasi inovasi pada sektor hilirisasi, kemandirian ekonomi, pembangunan desa, lingkungan, dan penguatan potensi daerah.
Dengan demikian, pemetaan Asta Cita tidak hanya menunjukkan jumlah inovasi, tetapi juga memberikan gambaran mengenai ruang yang masih dapat dikembangkan pemerintah daerah.
Inovasi Menyentuh Berbagai Sektor
Ratusan inovasi yang dipetakan menunjukkan bahwa inovasi di HSS telah berkembang di berbagai bidang pelayanan dan pembangunan.
Pada sektor kesehatan, misalnya, terdapat Si Wajaseta untuk layanan WhatsApp JKN, Si IJAK untuk aktivasi jaminan, Gemar Bu Resti untuk penanganan ibu hamil berisiko tinggi, Sijiwa Berdaya di bidang kesehatan jiwa, Seruni Pintar untuk deteksi penyakit tidak menular, Bestie ASI, HSS Tuntas Stunting, hingga Pro-Hero yang berfokus pada pemenuhan protein hewani.
Di layanan rumah sakit terdapat E-Rekam Medis, Si Komar untuk informasi ketersediaan kamar, Perawat Sehati yang mengedepankan layanan humanis, Lanjung untuk pengantaran obat, serta Stroke Corner.
Bidang pendidikan dan literasi antara lain dikembangkan melalui Berkemas atau Kembali Sekolah, Sabtu Cerdas untuk memperluas akses digital, SIAP untuk sistem informasi absensi PAUD, serta Pustaka Ceria Inklusif.
Pada sektor ekonomi dan UMKM terdapat Klinik UMKM, Inkubator Dopat, Giat UMKM Go On, dan Mau Sop Iga. Sementara pada bidang ketenagakerjaan terdapat Pacarku sebagai platform pencarian kerja, Si Timeline untuk rekrutmen daring, serta Pentamaks yang berkaitan dengan tenaga kerja penyandang disabilitas.
Inovasi juga dikembangkan pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif melalui HSS Trip, Kurela Sehati, Kampung Kuliner, dan Si Lowis.
Pada sektor pelayanan publik dan administrasi, terdapat sejumlah inovasi seperti MPP MOSSS, Diajak Mesra untuk layanan akta kematian, Sapa HSS untuk pengaduan masyarakat, E-SAKIP, Mr. SPPD, Si DaTan, Panting Marena, dan Silanting.
Sementara pada sektor lingkungan dikembangkan Gerak Mas Darling, Gala Sajadah, serta 1000 Biopori.
Sejumlah inovasi unggulan BAPPERIDA HSS juga menjadi bagian dari kajian, di antaranya Liwar HSS (Lindungi Warga HSS), E-SAKIP, Senada PLUS HSS, SI LAPIS, dan GAPURA HSS.
HAFECS dan Akademisi Evaluasi Kematangan Inovasi
Untuk memastikan evaluasi dilakukan secara lebih objektif dan berbasis keilmuan, BAPPERIDA menggandeng HAFECS Research and Publication bersama akademisi dan pakar dari berbagai bidang.
Pada hari pertama, kajian difokuskan pada pendidikan, ekonomi dan UMKM, serta teknologi dan kematangan digital.
Ellyna Hafizah, M.Pd., Dosen Jurusan Pendidikan IPA Universitas Lambung Mangkurat, bersama tim HAFECS mengkaji “Penguatan Ekosistem Pendidikan Holistik dan Inklusif dari PAUD hingga Pendidikan Dasar di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.”
Kajian bidang ekonomi dan UMKM berjudul “Evaluasi Desain Kebijakan Inovasi Daerah Berbasis Ekosistem Kewirausahaan dalam Penguatan UMKM Kabupaten Hulu Sungai Selatan” dipaparkan Dr. Muhammad Rahmattullah, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat, bersama tim HAFECS Research and Publication.
Sementara itu, Muhammad Fadli Ridhani, Dosen Program Studi Teknologi Rekayasa Multimedia Politeknik Hasnur, bersama tim peneliti menyampaikan kajian “Audit Teknologi, Pengalaman Pengguna, dan Kematangan Digital Inovasi Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan.”
Kajian tersebut menjadi penting karena kualitas inovasi tidak hanya ditentukan oleh keberadaan sebuah aplikasi atau program baru, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut digunakan, mudah diakses, sesuai kebutuhan pengguna, serta mampu bertahan dan dikembangkan.
Tata Kelola dan Perlindungan Kelompok Rentan
Pada hari kedua, fokus kajian diperluas pada administrasi publik, tata kelola pemerintahan, sosial, politik, dan hak asasi manusia.
Junaidy, M.I.Kom., M.AB., Dosen Program Studi Administrasi Publik Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari, memaparkan kajian “Optimalisasi Inovasi Daerah sebagai Instrumen Perencanaan Pembangunan: Kajian Komprehensif Perspektif Tata Kelola dan Pelayanan Publik untuk Mendukung Sinkronisasi RPJMD, RKPD, dan Reformasi Birokrasi di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.”
Sementara Hairansyah, S.H., M.H., Dosen Program Studi Administrasi Publik Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari, memaparkan kajian “Penguatan Kohesi Sosial dan Perlindungan Hak Kelompok Rentan melalui Inovasi Tata Kelola Sosial-Politik di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.”
Seluruh kajian tersebut dilaksanakan bersama tim HAFECS Research and Publication yang terdiri atas Danang Bagus Yudistira, S.Si., M.Sc., Farida Hayati, S.Pd., dan Raihani Raziqin, S.Tr.Kom.
Dari Pemetaan Menuju Prioritas Inovasi
Salah satu bagian penting dari kegiatan tersebut adalah penetapan prioritas tindak lanjut.
Peserta diberikan angket untuk menentukan rekomendasi yang dianggap paling penting, mendesak, dan relevan untuk pengembangan inovasi daerah. Hasil angket tersebut selanjutnya menjadi salah satu dasar BAPPERIDA bersama perangkat daerah dalam menentukan skala prioritas.
Langkah tersebut membuat hasil kajian tidak berhenti pada laporan evaluasi. Temuan akademisi dan pakar dipadukan dengan kebutuhan pelaksana inovasi di lapangan untuk menentukan inovasi yang perlu diperkuat dan dikembangkan.
M. Arliyan Syahrial, M.Pd., CGRE menekankan, penguatan inovasi ke depan harus diarahkan pada kualitas dan dampak, bukan hanya kuantitas.
Inovasi yang telah ada diharapkan terus diuji manfaatnya, diperbaiki kualitasnya, dikembangkan keberlanjutannya, dan apabila terbukti efektif dapat direplikasi pada unit atau wilayah lain.
Dengan 217 inovasi yang telah dipetakan, tantangan berikutnya bukan sekadar menambah jumlah inovasi, tetapi memastikan setiap inovasi memiliki masalah yang jelas untuk diselesaikan, manfaat yang dapat diukur, tata kelola yang kuat, teknologi yang sesuai, keberlanjutan, serta dampak nyata bagi masyarakat.
Melalui kolaborasi BAPPERIDA, HAFECS Research and Publication, akademisi, pakar, perangkat daerah, dan pemangku kepentingan lainnya, inovasi daerah HSS diharapkan semakin terarah dan mampu menjadi bagian penting dalam mendukung pencapaian Asta Cita serta pembangunan daerah yang berkelanjutan.


