Menerbangkan layangan Kait-kait (bahasa banjar) atau disebut layangan dandang akan dilakukan bagi warga Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan disetiap musim kemarau melanda. Kebiasaan menaikan layangan Kait-kait ini sudah dilakukan warganya secara turun temurun dan termasuk budaya asli setempat.
lenterakalimantan.com, TAPIN – Kebiasan secara turun temurun ini terus saja dilakukan warga setempat salah satunya terdapat di Desa Andhika Kecamatan Tapin Tengah.
Hal itu seiring ditandainya lahan pertanian menjadi kering kerontang, hingga bagi warga yang ingin menaikan layangan jenis kait-kait ini akan sangat mudah menerbangkannya karena didukung lahan yang mengering dan cukup luas.
Tak hanya menerbangkan, jenis layangan Kait-kait ini memiliki keunikan tersendiri karena pada bagian atas layangan terdapat paring batung (bambu petung) yang mengasilkan bunyi yang cukup khas.
“Setiap memasuki musim kemarau menaikan layangan ini, ini sudah menjadi tradisi di Tapin dan mudah-mudahan tidak punah,” ucap Abang Udin saat menaikan layangan Kait-kait yang berukuran besar bersama para sahabatnya di tengah sawah yang mengering.
Hal senadapun diucapkan warga Desa Andhika lainnya, Muhammad Nurdiansyah, ia menuturkan bahwa layangan jenis Kait-kait ini selain diterbangkan saat musim kemarau, layangan jenis ini juga biasa dipertandingkan.
“Layangan jenis Kait-kait ini sudah turun temurun, mungkin sudah ratusan tahun menjadi tradisi dan hanya musim kemarau dilaksanakan. Kita berharap tradisi ini terjaga dengan baik, karena ini salah satu ajang lomba persahabatan, kadang diperlombakan antar Kabupaten Tapin sama Kabupaten Hulu Sungai Tengah karena terkait budaya ini hanya di dua daerah saja yang mengikuti,” bebernya.
Lanjut pemuda ini, perlombaan biasanya akan dinilai dari tuanya bambu, suara nyaring (keras), ukuran besarnya layangan dan panjangnya degung suara yang dihasilkan.
“Kedepannya mudah-mudahan anak cucu nanti bisa meliat kebiasaan seperti ini, tidak tergerus oleh waktu dan tidak tegerus oleh jaman,” harapnya.


