lenterakalimantan.com, BANJARMASIN – Dalam rangka merayakan Hari Pers Nasional, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menggelar seminar nasional dengan tema “Diskusi Membangun Kolaborasi Investigasi dan Inovasi Media Besar dan Kecil Menuju Pers Berkualitas.”
Menggandeng Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, acara ini diselenggarakan di Lecture Theatre Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, pada Sabtu (8/2/2025).
Diskusi ini menghadirkan beberapa narasumber ternama, seperti Yudono, Toto Fachrudin selaku Sekretaris PWI Kalsel, Artini sebagai wartawan senior dan pengajar komunikasi di LPSR, Dr. Akhmad Edhy Aruman sebagai wartawan senior, serta tujuh pemenang Anugerah Jurnalistik Adinegoro.
Moderator acara, Yudhono, yang merupakan wartawan senior, memulai dengan pemutaran video Anugerah Jurnalistik Adinegoro.
Sesi pertama diisi dengan diskusi bersama para pemenang Penghargaan Jurnalistik Adinegoro 2024, di antaranya Dwi Setiyowati, Agus Susanto dari Kompas.id, Taufik Hidayat dari RRI Sintang, Erandhi Hutomo Saputra dari Kumparan.com, Zulkifli Ramadhani dari UKPM Genta Andalas, Yosea Arga Pramudita dari TEMPO, dan tim dari TV One.
Ketujuh narasumber berbagi cerita tentang latar belakang pemilihan isu serta proses kreatif dalam karya mereka. Pemilihan isu cenderung berfokus pada topik yang memerlukan liputan mendalam, seperti tambang ilegal, proyek PIK 2, dan skandal guru besar universitas.
Taufik Hidayat menyoroti praktik judi online yang marak di Singkawang. Ditemukan sembilan anak muda Singkawang yang direkrut sebagai operator judi daring di Kamboja.
“Judi daring berbeda dengan narkoba karena tidak memiliki pusat rehabilitasi. Sebagian besar korban adalah laki-laki, dan ini menghancurkan kehidupan mereka, mulai dari rumah tangga hingga masa depan. Mereka ingin keluar, tetapi masih terjerat jaringan yang ada,” ujar Taufik.
Sementara itu, Yosea Arga Pramudita dari TEMPO menjelaskan tentang liputannya terkait dugaan pengangkatan guru besar abal-abal di Universitas Lambung Mangkurat selama tiga bulan.
“Pemeriksaan mengungkap banyak hal, termasuk modus penerbitan jurnal bodong yang juga terjadi di tempat lain. Kami juga memberi kesempatan kepada pihak terkait untuk memberikan konfirmasi. Liputan ini tidak bertujuan untuk menjatuhkan pihak mana pun, melainkan untuk menunjukkan adanya masalah sistemik di perguruan tinggi Indonesia,” jelas Yosea.
Toto Fachrudin, Sekretaris PWI Kalsel sekaligus wartawan Radar Banjarmasin, menyoroti rendahnya tingkat literasi masyarakat Indonesia serta masalah integritas dan kredibilitas media.
“Masalahnya bukan terletak pada medianya atau saluran medianya, melainkan pada rendahnya tingkat literasi. Literasi yang rendah menyebabkan rendahnya konsumsi media, yang pada akhirnya berdampak pada tingkat kognitif dan intelektual yang juga rendah,” ujar Toto.
“Nilai sebuah berita tidak hanya bergantung pada salurannya, baik daring atau luring, tetapi lebih pada integritas, kredibilitas etik, serta prinsip-prinsip jurnalistik yang dijunjung tinggi,” tambahnya.
Pada sesi terakhir, Dr Akhmad Edhy Aruman, wartawan senior, mengimbau agar mahasiswa pers kampus membaca data secara kritis untuk memberikan alternatif terhadap suatu isu.
Ia mengkritisi beberapa tulisan pers mahasiswa yang terlalu teknis dan kurang komunikatif, serta memberikan rekomendasi untuk memperkuat pers kampus dalam konteks jurnalisme investigatif.
Dr Artini Suparmo, Ketua Pelaksana Anugerah Jurnalistik Adinegoro, membawakan topik mengenai jurnalistik berkualitas yang identik dengan temuan-temuan mendalam yang memiliki dampak pada masyarakat.
“Makin banyak media, diharapkan masyarakat memiliki kapasitas intelektual yang lebih baik. Pers perlu memiliki hubungan yang kuat dengan masyarakat agar wartawan dapat benar-benar masuk ke dalam kehidupan masyarakat dan berkontribusi pada perubahan,” pungkasnya.
Adapun ketujuh pemenang Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2024 adalah sebagai berikut:
Kategori Karya Jurnalistik Foto: Agus Susanto (Kompas ID) dengan karya berjudul “Harga Beras Mahal, Masyarakat Berebut Beras Murah di Babelan”.
Kategori Karya Jurnalistik Video: Tim TVOne dengan karya berjudul “Longsor Maut di Tambang Emas Ilegal”.
Kategori Karya Jurnalistik Radio: Taufik Hidayat (RRI Sintang) dengan karya berjudul “Jebakan Maut Judi Online, Generasi Kini dalam Adiksi Judi Online”.
Kategori Karya Jurnalistik Siber: Erandhi Hutomo Saputra, Abdul Latif, Agaton Kenshanahan, Andreeas Ricky, Anggi Kusumadewi (Kumparan) dengan karya berjudul “Terimpit Proyek Raksasa PIK 2 di Utara Tangerang”.
Kategori Karya Jurnalistik Cetak: Praga Utama, Raymundus Rikang, Yosea Arga Pramudita (TEMPO) dengan karya berjudul “Skandal Guru Besar Abal-Abal”.
Kategori Khusus Pers Kampus: Zulkifli Ramadhani (UKPM) dengan karya berjudul “Antara Sampah dan Kepedulian: Realita Sampah Berdekatan dengan TPA”.
Kategori Khusus Jurnalisme Warga: Dwi Setiyowati dengan karya berjudul “Tantangan Keberlanjutan Desa Wisata Garongan Sleman”.


