lenterakalimantan.com, TANAH BUMBU — Puncak perayaan Pesta Pantai Pagatan bertajuk “Pesona Budaya Mappanre Ri Tasi’e” 2026 berlangsung meriah di Pantai Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Minggu (26/4/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah pejabat, di antaranya Sekretaris Daerah Tanah Bumbu Yulian Herawati, perwakilan Gubernur Kalimantan Selatan, kepala daerah se-Kalimantan Selatan, anggota DPR RI, pimpinan DPRD, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Puluhan kapal nelayan dari berbagai ukuran tampak berlayar menuju perairan Pagatan untuk mengikuti prosesi adat yang digelar oleh Lembaga Ade Oge. Tradisi ini menjadi daya tarik utama dalam rangkaian pesta budaya tahunan tersebut.
Ketua Lembaga Ade Oge, Pawaisah Mahabatan, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan telah dimulai sejak 12 April 2026 dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat lintas etnis di Tanah Bumbu.

“Sejak 12 hingga 26 April kami melaksanakan berbagai kegiatan, termasuk lomba yang melibatkan seluruh etnis di Tanah Bumbu,” ujarnya.
Ia menyebutkan sedikitnya 13 jenis perlombaan digelar, di antaranya lomba bece-bece dan tenun tradisional, sebagai bentuk pelestarian budaya lokal.
Menurut Pawaisah, puncak tradisi Mappanre Ri Tasi’e memiliki makna mendalam sebagai simbol rasa syukur masyarakat atas hasil laut, pertanian, dan perkebunan yang melimpah. Khusus bagi nelayan, tradisi ini menjadi ungkapan terima kasih atas hasil tangkapan yang diberikan oleh alam.
Prosesi adat dipimpin oleh seorang sandro, didampingi Ketua Lembaga Ade Oge serta tokoh masyarakat setempat. Rangkaian ritual dimulai sejak malam hari melalui persiapan makanan tradisional, kemudian dilanjutkan dengan prosesi utama di laut.
Pada puncak acara, rombongan menuju titik tertentu di perairan untuk melaksanakan doa bersama. Prosesi dilanjutkan dengan ritual melarung, yakni pemotongan ayam kampung sebagai simbol rasa syukur yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Ayam yang telah disembelih kemudian dilarung ke laut dan diambil oleh warga yang turut mengikuti prosesi tersebut.
Pawaisah menambahkan, pihaknya mendorong agar tradisi Mappanre Ri Tasi’e dapat masuk dalam Kalender Event Nusantara (KEN) sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya.
“Ini harus kita dorong menjadi agenda nasional, karena merupakan warisan budaya yang perlu dijaga,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa tradisi Mappanre Ri Tasi’e telah ada jauh sebelum berdirinya Kabupaten Tanah Bumbu dan kini telah memasuki generasi kedelapan.
Sementara itu, pemerintah daerah mengemas kegiatan ini sebagai agenda budaya dan pariwisata dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Tanah Bumbu.
Editor: Muhammad Tamyiz


