lenterakalimantan.com, BANJARMASIN – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Pemprov Kalsel) menggelorakan semangat perjuangan Pangeran Antasari melalui peringatan wafat ke-164 Pahlawan Nasional tersebut. Pesan itu disampaikan dalam apel peringatan yang dipimpin Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel, H Muhammad Syarifuddin, mewakili Gubernur Kalsel, H Muhidin, di kawasan Makam Malkon Temon–Masjid Jami, Banjarmasin, Minggu (11/10/2026).
Usai upacara dan ziarah, Syarifuddin mengajak masyarakat untuk terus menghidupkan semangat kepahlawanan Pangeran Antasari dalam kehidupan sehari-hari.
“Mari kita terus menggelorakan semangat kepahlawanan Pangeran Antasari,” ujar Syarifuddin kepada wartawan.
Peringatan tersebut menjadi bentuk penghormatan atas jasa perjuangan Pangeran Antasari dalam melawan penjajahan Belanda sekaligus upaya meneladani nilai-nilai kepahlawanan yang diwariskannya kepada masyarakat Kalimantan Selatan.
Pangeran Antasari lahir di Kayutangi sekitar 1809 dan wafat pada 11 Oktober 1862 di Bayan Begak, Kalimantan Tengah, karena sakit. Pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Surat Keputusan Nomor 06/TK/1968 tertanggal 27 Maret 1968.
Apel peringatan yang dimulai pukul 07.45 Wita itu turut dihadiri Ketua DPRD Kalsel, H Supian HK, Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kalimantan Selatan Letkol Inf. (Purn.) Sandimin, serta Ketua Umum Dewan Harian Daerah Badan Pembudayaan Kejuangan 45 (DHD 45) Kalimantan Selatan H. Sahbirin Noor atau Paman Birin.
Hadir pula sejumlah tenaga ahli gubernur, kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, serta ahli waris dan kerabat Pangeran Antasari.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan riwayat singkat Pangeran Antasari oleh Ketua LVRI Kalimantan Selatan, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tujuh pesan perjuangan Pangeran Antasari dalam bahasa Banjar.
Tujuh pesan tersebut menjadi pengingat akan semangat perjuangan, persatuan, dan penolakan terhadap penjajahan. Pesan pertama yang paling dikenal adalah “Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing”, yang mencerminkan tekad untuk tidak menyerah dalam perjuangan hingga akhir.
Adapun tujuh pesan yang dibacakan dalam kegiatan tersebut adalah:
“Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing.”
“Lamun Tanah Banyu Kita Kada Handak di Lincai Urang, Jangan Bacakut Papadaan Kita.”
“Lamun Handak Tulak Manyarang Walanda, Baikat Hati di Tali Sindat.”
“Jangan Mati Paharatan Bukah, Matilah Kita di Jalan Allah.”
“Siapa Nang Babaik-baik Wan Walanda, Tujuh Katurunan Kahada Aku Sapa.”
“Amun Kita Sudah Sapakat Handak Mahinyik Walanda, Janganlah Walanda Diberi Muha, Badaras Pagat Urat Gulu Amun Manyarah Kahada.”
“Haram Dijamah Walanda, Haram Diriku Dipanjara, Haram Negeriku Dijajah.”
Setelah peletakan karangan bunga dan penghormatan, para peserta melaksanakan ziarah serta tabur bunga di makam Pangeran Antasari dan makam kerabatnya.
Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Sosial juga menyerahkan bantuan atau tali asih kepada ahli waris Pangeran Antasari. Bantuan itu diserahkan oleh Sekdaprov Muhammad Syarifuddin sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap keluarga dan keturunan sang pahlawan nasional.
Editor : Tim Redaksi


