lenterakalimantan.com, PULANG PISAU – Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Pulang Pisau, H. Arif Rahman Hakim, mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Metode tersebut berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama saat cuaca panas dan sumber air terbatas.
Dalam keterangannya pada Sabtu (29/8/2026), Arif meminta warga menerapkan metode buka lahan tanpa bakar (BLTB) sebagai langkah pencegahan karhutla.
“Jangan membuka lahan dengan cara membakar. Gunakan cara yang lebih aman agar tidak memicu karhutla,” kata Arif.
Menurutnya, karhutla tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berdampak langsung terhadap kesehatan dan perekonomian masyarakat.
“Dampaknya sangat berbahaya bagi kesehatan dan kelestarian alam,” tegasnya.
Legislator dari daerah pemilihan II yang meliputi Kecamatan Maliku dan Pandih Batu itu mengingatkan masyarakat terhadap dampak karhutla besar yang pernah terjadi pada 2015 dan 2019. Saat itu, kabut asap mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas penerbangan, dan perekonomian, serta mengancam kelestarian flora dan fauna.
“Kita tentu tidak ingin kejadian seperti 2015 dan 2019 terulang kembali,” ujarnya.
Arif juga menyoroti kondisi lahan gambut di Kabupaten Pulang Pisau yang memiliki tantangan tersendiri saat terjadi kebakaran. Cuaca panas dan terbatasnya sumber air dapat menyulitkan proses pemadaman, sehingga upaya pencegahan harus diutamakan.
“Kalau sudah terbakar, apalagi di lahan gambut, pemadamannya tidak mudah. Karena itu, pencegahan harus menjadi prioritas,” katanya.
Ia menegaskan, pembakaran lahan secara sengaja dapat berujung pada proses hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
“Pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan. Kalau ada yang terbukti membakar lahan, tentu ada sanksi pidananya,” jelasnya.
Arif mengajak seluruh masyarakat, khususnya warga yang akan membuka lahan, untuk mematuhi aturan dan berperan aktif menjaga lingkungan dari ancaman karhutla.
“Karhutla bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau petugas. Ini tanggung jawab kita bersama. Mari kita jaga lingkungan dari bahaya karhutla,” pungkasnya.
Editor: Tim Redaksi


