Rudy Mas’ud meminta perusahaan migas dan KKKS memperkuat kontribusi pelestarian lingkungan melalui penanaman mangrove untuk melindungi ekosistem pesisir, menjaga habitat biota laut, dan mendukung ekonomi masyarakat Delta Mahakam, Kamis 22 Oktober 2026.
Lenterakalimantan.com, BALIKPAPAN – Aktivitas industri minyak dan gas bumi (migas) di Kalimantan Timur harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan pesisir. Gubernur Kaltim Dr H Rudy Mas’ud meminta perusahaan migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) mengambil peran lebih besar dalam menjaga ekosistem mangrove, terutama di kawasan Delta Mahakam.
Rudy bahkan mendorong penanaman sedikitnya satu juta pohon mangrove sebagai bentuk kontribusi nyata perusahaan migas terhadap kelestarian lingkungan di Benua Etam.
“Saya sangat berharap seluruh KKKS memperbanyak penanaman mangrove di kawasan pesisir dan Delta Mahakam. Minimal tanam sejuta mangrove. Tidak seberapa itu uangnya bagi KKKS,” ujar Rudy Mas’ud saat menerima jajaran SKK Migas dan KKKS belum lama ini.
Menurutnya, keberadaan mangrove tidak boleh terabaikan di tengah aktivitas operasional migas di sekitar Delta Mahakam dan wilayah lepas pantai Kaltim. Kawasan pesisir harus tetap terlindungi agar kegiatan industri tidak mengorbankan keseimbangan ekosistem.
Delta Mahakam sendiri merupakan kawasan delta di muara Sungai Mahakam yang bermuara ke Selat Makassar. Wilayah ini mencakup sejumlah kawasan di Kabupaten Kutai Kartanegara, antara lain Muara Badak, Muara Jawa, Samboja, Sangasanga, dan Anggana.
Ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam melindungi kawasan pesisir. Vegetasi ini mampu menahan abrasi, meredam energi gelombang, serta membantu mencegah intrusi air laut ke daratan.
Lebih dari itu, hutan mangrove menjadi habitat berbagai jenis satwa, termasuk ikan, udang, kepiting, dan burung air. Kelestariannya turut mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan yang menjadi bagian dari penghidupan masyarakat pesisir.
Mangrove juga memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar. Karena itu, rehabilitasi dan perluasan kawasan mangrove menjadi salah satu upaya untuk mendukung mitigasi perubahan iklim.
Data yang dicantumkan dalam bahan pemberitaan menyebutkan simpanan karbon median hutan mangrove di Indonesia mencapai sekitar 950,5 Mg C per hektare. Penelitian lain juga menyebutkan potensi pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 67,43 ton per hektare per tahun.
Rudy menilai, manfaat pelestarian mangrove tidak hanya berkaitan dengan lingkungan. Jika dikelola secara berkelanjutan, kawasan tersebut juga dapat mendukung mata pencaharian nelayan, membuka peluang pengembangan ekowisata, serta mendorong tumbuhnya usaha berbasis produk olahan lokal.
“Selain itu, kawasan mangrove juga akan membantu mata pencaharian nelayan, serta berpotensi dikembangkan untuk ekowisata dan produk olahan lokal,” ujarnya.
Dorongan penanaman sejuta mangrove tersebut menjadi tantangan bagi perusahaan migas dan KKKS untuk memperkuat kontribusi lingkungan di wilayah operasionalnya. Perlindungan Delta Mahakam diharapkan tidak berhenti pada penanaman, tetapi juga mencakup pemeliharaan dan keberlanjutan ekosistem pesisir.


