lenterakalimantan.com, PELAIHARI – Dalam upaya memotivasi masyarakat umum di Kabupaten Tanah Laut, RS Siloam Hospital Banjarmasin mengadakan seminar di Rumah Sakit Hadji Boejasin (RSHB)Pelaihari, Sabtu (27/8).
Seminar itu menghadirkan narasumber Prof. DR. Dr. dr. Eka J. Wahjoepramono, Sp. BS ( K), Ph.D. Merupakan Ketua Tim Bedah Saraf Siloam Hospitals. Mengangkat tema ” Hemorrhagic Stroke Management Global Competition Of Healthcare”.
Hadir pula dalam seminar ini, dr.Lodewyk Direktur Siloam Hospitals Banjarmasin, perwakilan RSHB Pelaihari dr. Wiwik Rahmawati, M. Kes. Dan para tenaga medis dokter dan perawat RSHB Pelaihari.
Prof Eka menyebutkan dunia kesehatan sedang mengalami tantangan setelah kena Covid-19 selama dua tahun diketahui banyak sekali kelemahannya.
Karenanya ia berharap dokter di Pelaihari bisa melakukan pembenahan diri setelah kedatangannya yang memberi motivasi kepada masyarakat di Pelaihari dan tidak tertinggal dalam urusan bedah otak.
“Meski saat ini belum ada bedah otak di RSHB Pelaihari, tapi ada tim dokter dari Banjarmasin bisa datang ke Pelaihari bisa langsung memberikan tindakan,”katanya.
Pakar Bedah Saraf itu menilai RSHB Pelaihari sudah memiliki alat CT Scan alat pemindai diagnosis memberikan gambaran melihat pasien yang mempunyai penyakit, Stroke, kecelakaan, tumor otak.
Prof Eka berpesan Kepada RSHB Pelaihari kapan mulai pertama kali operasi otak karena sudah ditunjang dengan alat kesehatan CT Scan di RSHB Pelaihari dan harus ada solusi tidak boleh dikatakan tidak ada dokternya.
“Dengan dilakukan operasi otak di RSHB Pelaihari tentu akan menantang bagi dokter, Perawat, maupun Direktur RS dan segeralah lakukan urusan otak di Pelaihari,”harapnya.
Apabila hal itu terwujud, kata Prof Eka, masyarakat akan tau dan tidak kesulitan harus pergi ke kota besar untuk berobat, karena bisa ditangani di Pelaihari.
Selain itu Prof Eka menyampaikan, harus berhati-hati dalam penanganan pasien diantisipasi dengan jelas. Dalam dunia kedokteran khususnya di bagian operasi dinamakan transaksi kesehatan.

“Ini yang harus di populerkan juga di Pelaihari, dokter yang menangani operasi berjanji sebaik-baiknya tanpa janji hasil supaya makin terbuka, dan adanya alat CT Scan pasien lebih jelas berhak tau jenis penyakitnya,”Jelasnya.
Ia bilang, pasien berhak tahu apa opsi tindakan dokter itu setelah mengetahui penyakit yang diderita, bisa dengan cara operasi , pakai obat atau gunakan sinar.
“Dalam hal ini juga, dokter berkewajiban memberikan penjelasan kepada pasien yang mempunyai hak penjelasan,”pungkasnya.
Ditempat yang sama dr. Wiwik Rahmawati mengatakan, dengan adanya seminar di RSHB Pelaihari, membantu di segi ilmu pengetahuan bagi tenaga medis.
Ia mengaku saat ini banyak sekali pasien RSHB yang mengalami stroke perdarahan dan sampai saat ini RSHB Pelaihari belum memiliki SDM dokter spesialis bedah saraf.
“Kalau ditemukan indikasi tindakan Operatif dilakukan rujukan ke Banjarmasin,”ucapnya.
dr. Wiwik Rahmawati berharap, kedepannya bisa jadi pertimbangan Manajemen RSHB Pelaihari menyiapkan tenaga dokter spesialis bedah saraf.
Ia bilang, karena masyarakat sangat memerlukan pengembangan pelayanan di RSHB Pelaihari


