lenterakalimantan.com, Banjarmasin – Masjid Jami Banjarmasin merupakan salah satu masjid bersejarah yang ada di Kalimantan Selatan. Dengan usia sekitar 246 tahun menjadikannya masjid tertua kedua di Kota Seribu Sungai.
Pada zaman dahulu di kota banjarmasin ini tidak mempunyai masjid berukuran besar. Hal ini menyebabkan masjid tidak bisa menampung banyak jamaah. Sehingga masyarakat setempat kesulitan untuk melakukan aktivitas keagamaan.
Maka dari itu, Kolonial Belanda inisiatif dengan mendonasikan pendapatan hasil pajaknya untuk mendirikan masjid tersebut. Karena pada saat itu hasil pajak dari masyarakat Banjarmasin sangat melimpah ruah. Namun ditolak secara mentah-mentah oleh masyarakat Banjarmasin, karena masyarakat di zaman itu tidak menyukai sistem pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu.
Tidak hanya itu, masyarakat Banjarmasin yang mayoritas memeluk agama Islam sangat mengharamkan pemberian dari kolonial Belanda.
Dalam menyelesaikan masalah ini, masyarakat Banjar bahu membahu untuk membangun Masjid Jami Banjarmasin tersebut. Baik laki-laki, perempuan, tua maupun muda bersama-sama saling membahu untuk mengumpulkan dana.
Dalam sejarah, Masjid Jami Banjarmasin didirikan pada Hari Sabtu tanggal 17 Syawal 1195 Hijriah atau 1777 masehi. Pembangunan Masjid Jami dilakukan pada masa pemerintahan Pangeran Tamjidillah.
Catatan sejarah, Masjid Jami Banjarmasin berdiri sekitar 200 Meter dari bantaran Sungai Martapura. Namun, karena tanah tempat pembangunan masjid tersebut terkuras oleh abrasi sungai, warga setempat pun sepakat untuk memindah lokasi Masjid Jami ke kawasan yang sekarang berada di Sungai Jingah.
Pada tahun 1934, pemindahan Masjid Jami dari pinggir Sungai Martapura ke lokasi sekarang pun dimulai.
Kepindahan dan pembangunan masjid dilakukan secara swadaya masyarakat sekitar, yang dikomandoi oleh Mufti H Ahmad Kusasi.
Secara arsitektural, Masjid Jami di Sungai Jingah Banjarmasin merupakan perpaduan antara bangunan khas Banjar dan bangunan Belanda. Masjid Jami Banjarmasin didominasi dengan bahan dasar kayu ulin yang menjadi ciri khas Masjid Jami Sungai Jingah.
Masjid Jami Banjarmasin sudah sering dilakukan rehab, namun hanya pada bagian yang rusak saja tanpa menyentuh struktur bagian utama masjid, patok ulin bagian bawah masjid juga sudah sangat rapuh dimakan rayap dan sudah diganti dengan ulin berkualitas terbaik, kemudian kondisi lantai yang sempat bergelombang, akibat terhentak sekarang sudah diganti dengan lantai berbahan marmer.
Pada bagian induk bangunan utama masjid ini melambangkan makna Tauhid. Yang ditopang dengan 17 tiang berbahan dasar kayu ulin besar yang memiliki arti 17 rakaat salat dalam sehari semalam.
Kemudian, pada bagian atap kubah terdapat 5 buah jenjang yang memiliki makna jumlah sholat dalam sehari yang wajib bagi seluruh muslim mengerjakannya, yakni Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya.


