lenterakalimantan.com, PELAIHARI – Komisi II DPRD Tanah Laut (Tala) gelar rapat kerja dengan Dinas Kesehatan.
Rapat kerja, terkait materi penanganan dan pengendalian penyakit menular.
Khususnya penyakit yang berhubungan dengan musim serta persiapan operasional fasilitas kesehatan, yang telah selesai di bangun 2023, Rabu (6/12/2023) pagi.
Ketua Komisi II H Junaidi mengatakan, hasil rapat dengar pendapat (RDP) dengan Dinas Kesehatan Tala, beserta jajaran.
Pihak Komisi II meminta keterangan atau penjelasan tentang penanganan dan pencegahan penyakit menular.
“Kami meminta penjelasan terkait penyakit menular khususnya penyakit demam berdarah dengue ( DBD),” katanya, saat dihubungi lenteraKalimantan.com dalam keterangan tertulisnya, Jumat (8/12/2023) pagi.
Selain itu, kata mantan Kepala Dinas Kesehatan, pihaknya meminta keterangan Dinas Kesehatan terkait persiapan operasional fasilitas kesehatan yang telah selesai, seperti pembangunan tahun 2023.
“Fasilitas kesehatan yang perlu persiapan yakni khusus nya Rumah Sakit Bumi Makmur rencana operasionalnya paling lambat pada pertengahan 2024. Lantaran sarana prasarananya, termasuk peralatan medis dan fasilitas pendukung lain nya sudah siap. Sebagian diadakan pada tahun 2024, sementara ini masih ada kendala penyiapan SMD dan ini akan dikoordinasikan dengan pihak terkait,” ungkapnya.
Menurut Junaidi, hal lain yang dianggap penting dari hasil keterangan saat rapat dengar pendapat, yakni adanya peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD).
“Kasus positif DBD Bulan November 2023 sebanyak 28 Kasus. Sedangkan total dari kasus yang positif sejak bulan Januari sampai November 2023, sebanyak 196 Kasus,” ucapnya.
Junaidi menjelaskan dari hasil rapat tersebut, pihak Komisi II DPRD Tala menyarankan ke Dinas Kesehatan, pertama lebih ditingkatkannya pemantau penyakit-penyakit menular DBD.
Selanjutnya, Politisi PDI Perjuangan mengatakan, lebih diutamakan pencegahannya atau preventif, yaitu dengan Cara menggalakan lagi 3M plus, Menguras tempat penampungan air.
Menutup tempat-tempat penampungan air. Mendaur ulang berbagai barang yang memiliki potensi untuk dijadikan tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus DBD pada manusia.
Abatisasi selektif, gerakan massal pemberantasan sarang nyamuk (PSN) terutama di daerah endemis DBD. Penangan penderita tersangka DBD dengan baik, melakukan promosi dan penyebaran informasi secara luas tentang Penyakit DBD.
Bagaimana cara pencegahan, dan tindakan apabila anggota keluarga ditemukan tersangka DBD.


