lenterakalimantan.com, AMUNTAI – Jalan konkret mengikuti Pilkada 2024 di Hulu Sungai Utara (HSU), H Didi Buhari atau dikenal dengan panggilan Haji Odong siap maju sebagai bakal calon wakil bupati.
Pasalnya, sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), ia rela melepas statusnya, hanya untuk mengikuti kontestasi politik, yang belum tentu memuluskan karirnya sebagai kandidat orang nomor dua di HSU.
Menariknya, dengan niat dan semangat juang yang kuat, Haji Odong lebih berkeinginan mengabdikan dirinya untuk membangun HSU ke arah yang lebih baik, hal ini diungkapkannya kepada lenterakalimantan.com, Selasa (23/7/2024).
“Jalan konkret untuk menembus Pilkada HSU 2024, merupakan garis besar sebagai bentuk pengabdian diri, dalam upaya membangun dan menata wajah HSU ke depan, dengan cara melibatkan masyarakat dalam setiap proses rangkaian pembangunan,” ucapnya.
Haji Odong mengatakan, garis besar dari sebuah gagasan yang sudah dianalisa, delapan kabupaten yang ada di Kalsel, merupakan daerah wilayah pertambangan, yang bentang alamnya sudah berubah, di mana potensi kerusakan lingkungan selalu mengancam.
“Ancaman kerusakan lingkungan akan terjadi, dan bisa mempengaruhi sektor pertanian dan perikanan, sebaliknya di HSU apabila sektor-sektor pencetus kerja, seperti pertanian, perikanan, dan peternakan, bisa terlaksana pasti sektor lain secara berkesinambungan,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, HSU harus merubah pola pembangunan dengan kearifan lokal, mengingat geografis HSU 89 persennya didominasi oleh rawa, maka yang perlu dibenahi, yakni tata kelola air lintas kabupaten, khususnya lagi untuk HSU.
“Kita perlu melakukan yang namanya normalisasi sungai sekunder dan primer, untuk terkoneksi dalam pembuatan sudetan atau kanal, seperti di Kecamatan Banjang, Sungai Terasi, lintas batas Sungai Buluh di HST ke Kecamatan Babirik serta batas Kecamatan Negara di HSS, dengan tujuan untuk mengurangi atau membagi aliran sungai agar tidak masuk pada empat desa di Kecamatan Banjang HSU,” jelas Haji Odong.
Haji Odong juga memaparkan, tentang tata kelola air yang ada di HSU, dalam setiap tahunnya kabupaten ini, menjadi langganan banjir, yang diakibatkan meluapnya aliran sungai, sehingga melumpuhkan perekonomian masyarakat di Bumi Bertaqwa.
“Untuk Amuntai Tengah, Alabio dan Babirik dengan sodetan atau kanal batas utara Pasar Arba Kelua lewat hutan ke Sambujur, untuk membagi arus di Kecamatan Amuntai Utara, Haurgading, Amuntai Selatan, Sungai Tabukan, dan Kecamatan Danau Panggang, kemudian membuat pintu-pintu air dan memperkuat tanggul-tanggul, untuk mengurangi dan mengendalikan banjir tahunan yang mengakibatkan rusaknya infrastruktur di HSU,” jelasnya lagi.
Lanjut, Haji Odong menjelaskan, tingginya nilai penyusutan pembangunan di HSU, mengharuskan masyarakat untuk membuat cetak sawah, dengan pola pertanian modern, serta mekanis, melalui sistem bondres, juga perlu adanya penataan kawasan sektor perikanan dan peternakan yang merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat di HSU.
“Semua gagasan bisa terwujud melalui isu besar HSU, sebagai penyangga pangan IKN, secara lokal maupun regional di Kalimantan,” beber tokoh yang dikenal kuat sebagai pegiat anti korupsi ini.


