lenterakalimantan.com, BANJARMASIN – Runtuhnya jembatan di kawasan Kampung Hijau, Kota Banjarmasin, memunculkan sorotan tajam terhadap pelaksanaan proyek renovasi yang justru memicu bencana.
Berdasarkan informasi dan pemantauan lapangan, insiden ini terjadi saat proses perbaikan jembatan masih berlangsung, sehingga menimbulkan pertanyaan besar mengenai kualitas pelaksanaan dan pengawasan proyek tersebut.
Akibat kejadian ini, belasan rumah warga kehilangan akses keluar-masuk, dan kebutuhan dasar masyarakat ikut terhambat. Warga pun merasa pasrah dan menilai bahwa proyek yang seharusnya memudahkan kami dan memastikan keselamatan, justru berujung pada musibah.
“Renovasi belum selesai, malah jembatan ambrol, mungkin ada kelalaian.” ujar salah satu warga terdampak.
Berbagai pihak kini menuntut evaluasi menyeluruh terhadap perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan proyek.
Termasuk mengusut apakah ada unsur kelalaian teknis, prosedur yang tidak dipatuhi, atau pengawasan yang lemah dari instansi terkait. Karena didapat di lapangan jembatan sudah miring ke arah sungai berkisar ± 40 cm dari sebelumnya.
“Kita apresiasi langkah yang sudah dilakukan oleh SKPD di tingkat Kota. Namun, evaluasi teknis dan pengawasan pembangunan secara keseluruhan dengan mempertimbangkan keberlanjutan, inklusivitas,”ungkap Taufik kader HMI Cabang Banjarmasin saat meninjau langsung di lokasi, Selasa (6/8/2025).
Turut diperlukan sudut pandang warga di sekitar area proyek sebagai landasan pertimbangan pengambilan keputusan yang bijak.”
Pemerintah Kota Banjarmasin diharapkan segera mengambil langkah tegas, tidak hanya mempercepat penanganan dampak kepada warga, tetapi juga mengaudit proses proyek tersebut secara transparan. Keterlibatan aparat pengawas internal maupun eksternal menjadi penting untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang.
Selain penanganan darurat seperti jalan dan perahu sementara, masyarakat berharap kejadian ini menjadi momentum pembenahan menyeluruh terhadap tata kelola proyek infrastruktur publik.
Kejadian ini bukan hanya menyisakan luka fisik pada infrastruktur, tapi juga menyakiti kepercayaan masyarakat terhadap sistem perencanaan pembangunan yang semestinya mengutamakan keselamatan dan kepentingan warga.
Penulis (ME/Ril)
Editor: CAN


