lenterakalimantan.com, BANJARMASIN – Sebanyak 7.500 siswa kelas 3 dan 4 SD sederajat di Kota Banjarmasin akan menerima vaksin DBD mulai Januari 2026. Banjarmasin menjadi satu dari tiga kota di Indonesia yang mendapatkan hibah vaksin DBD dari PT Takeda, selain Jakarta dan Palembang.
Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kalimantan Selatan (Kalsel) pada tahun 2025 tercatat mengalami penurunan drastis. Pada 2024, Kalsel mencatat 3.236 kasus DBD dengan 16 kematian. Tahun ini, jumlahnya turun menjadi 460 kasus dan satu kematian.
Namun Banjarmasin selalu berada di posisi teratas yang membuat daerah ini menjadi salah satu titik uji percontohan vaksin DBD nasional.
Ketua Tim Dokter Anak Kalsel untuk vaksin dengue, Prof. dr. Edi Hartoyo, mengatakan program tersebut penting untuk melihat bagaimana vaksin bekerja di daerah yang wabah DBD relatif tinggi.
“Beberapa negara ASEAN seperti Thailand dan Filipina sudah memulai fase satu,” katanya.
Menurutnya, kolaborasi semacam ini sejalan dengan program Kemenkes yang menargetkan nol kematian akibat dengue pada tahun 2030.
Vaksin ini diketahui akan diberikan dalam dua tahap. Dosis pertama pada Januari 2026, dan dosis kedua diberikan tiga bulan setelahnya.
Efektivitas vaksin diperkirakan mencapai 80 persen dalam mencegah infeksi dan 85 persen mencegah gejala berat bahkan kematian, dengan pemantauan dilakukan hingga tiga tahun.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, dr. Diauddin, mengajak orang tua siswa untuk membawa anak-anaknya agar ikut vaksin.
“Mumpung ada studi vaksin ini dimanfaatkan sebaik-baiknya karena ini terbatas,” jelasnya kepada beberapa awak media di ruang kerjanya, Kamis (20/11/2025).
Ia juga mengatakan, DBD selalu menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat.
“Vaksin ini bukan vaksin yang baru tapi sudah melalui uji tahapan klinis dan bersertifikat halal. Melalui hibah ini, anak-anak bisa mendapat vaksin dengue secara cuma-cuma, sehingga manfaatnya lebih luas bagi masyarakat,” pungkasnya.
Dirinya menyebut penelitian ini tidak hanya berfokus pada pemberian vaksin, tetapi juga pemantauan kesehatan anak selama lebih kurang tiga tahun.
Editor: Rizki


