Oleh: Dr. Muhammad Uhaib As’ad, M.Si
(Akademisi, Direktur Kajian Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik Kalimantan Selatan, President International Institute of Influencers Indonesia)
Nama Lafran Pane bukan sekadar catatan sejarah dalam buku perkaderan HMI, melainkan fondasi moral dan intelektual yang seharusnya terus hidup dalam denyut gerakan mahasiswa Islam Indonesia. Pada Dies Natalis HMI ke-79, pertanyaan paling mendasar justru bukan tentang usia, melainkan tentang arah, masihkah HMI setia pada cita-cita awal atau telah larut dalam arus pragmatisme kekuasaan?
Lafran Pane mendirikan HMI dalam konteks perjuangan intelektual dan kebangsaan yang keras. HMI lahir bukan untuk menjadi organisasi penonton kekuasaan, apalagi penikmat fasilitas negara, tetapi sebagai kawah candradimuka kader umat dan bangsa yang berani berpikir kritis dan bertindak etis.
Dua tujuan HMI, mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menegakkan serta mengembangkan ajaran Islam, bukan jargon kosong. Ia adalah sintesis antara iman, ilmu, dan amal yang menuntut konsistensi moral dalam setiap ruang sosial, termasuk ruang politik.
Namun pada usia ke-79 ini, HMI justru dihadapkan pada paradoks besar. Di satu sisi, ia dipenuhi kader-kader cerdas dengan akses luas ke kekuasaan. Di sisi lain, idealisme intelektual kerap kalah oleh hasrat pragmatis untuk cepat berkuasa dan nyaman dalam sistem.
Intelektualisme yang dulu menjadi napas HMI kini sering direduksi menjadi sekadar retorika forum. Diskusi-diskusi kritis bergeser menjadi formalitas, sementara orientasi karier politik dan jabatan struktural menjadi magnet utama kaderisasi.
Lebih mengkhawatirkan, sebagian kader HMI hari ini tampak terjebak dalam hedonisme kekuasaan. Kekuasaan tidak lagi dipandang sebagai alat perjuangan, melainkan sebagai tujuan akhir. Ketika ini terjadi, nilai-nilai etik Lafran Pane perlahan kehilangan makna praksisnya.
HMI yang seharusnya menjadi pressure group justru kerap tampil sebagai interest group. Kritik terhadap negara menjadi selektif, tergantung posisi politik dan kedekatan dengan lingkar kekuasaan. Di sinilah integritas intelektual diuji.
Lafran Pane tidak pernah membayangkan HMI menjadi pabrik elit tanpa nurani. Ia membayangkan HMI sebagai gerakan intelektual organik, yang berpihak pada keadilan sosial, membela kaum tertindas, dan berani berseberangan dengan kekuasaan yang menyimpang.
Dalam konteks demokrasi hari ini, HMI seharusnya hadir sebagai penyeimbang. Bukan oposisi membabi buta, tetapi juga bukan loyalis kekuasaan yang kehilangan daya kritis. Sikap independen adalah roh yang kini sering dikompromikan.
Fenomena politisasi alumni dan instrumentalisasi kader adalah realitas yang tidak bisa disangkal. Namun kesalahan terbesar bukan pada alumni yang berkuasa, melainkan pada kader yang kehilangan daya tawar intelektual dan keberanian moral.
Kampus, sebagai habitat alami HMI, seharusnya kembali dijadikan pusat produksi gagasan. Bukan hanya tempat rekrutmen massa, tetapi ruang dialektika serius tentang keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan.
Tanpa pembaruan orientasi intelektual, HMI berisiko menjadi organisasi besar secara kuantitas, tetapi rapuh secara kualitas. Sejarah menunjukkan, organisasi besar runtuh bukan karena kekurangan kader, melainkan karena kekeringan nilai.
Lafran Pane mewariskan kesederhanaan hidup dan keteguhan prinsip. Ironis jika warisan ini justru dikalahkan oleh gaya hidup elitis dan simbol-simbol kemewahan yang kini kerap melekat pada sebagian aktivis.
HMI harus berani melakukan otokritik. Bukan sekadar refleksi seremonial setiap Dies Natalis, tetapi evaluasi mendalam tentang arah kaderisasi, relasi dengan kekuasaan, dan keberpihakan sosial.
Idealisme intelektual tidak identik dengan anti-kekuasaan, tetapi ia menuntut jarak kritis. Kekuasaan yang tidak diawasi akan korup, dan intelektual yang terlalu dekat dengan kekuasaan akan kehilangan kemerdekaannya.
Di tengah krisis keteladanan nasional, HMI sejatinya memiliki peluang besar untuk tampil sebagai mercusuar etika publik. Tetapi peluang itu hanya akan nyata jika keberanian berpikir dan bersikap kembali dihidupkan.
Dies Natalis ke-79 seharusnya menjadi momentum “kembali ke Lafran Pane”, bukan dalam arti romantisme sejarah, tetapi penghayatan nilai yang kontekstual dan progresif.
HMI harus memilih, menjadi organisasi intelektual yang merdeka atau sekadar jejaring kekuasaan yang oportunistik. Sejarah akan mencatat pilihan itu dengan jujur. Jika HMI gagal menjaga jarak kritis dari hedonisme kekuasaan, maka ia akan kehilangan legitimasi moral di mata publik dan generasi muda.
Lafran Pane telah menunaikan tugas sejarahnya. Kini, pertanyaannya sederhana namun menentukan, apakah HMI masih setia pada jalan intelektual yang ia rintis, atau justru larut dalam kenikmatan kekuasaan yang fana?


