lenterakalimantan.com, BANJARMASIN – Beragam persoalan lingkungan dan infrastruktur dikeluhkan warga Kelurahan Basirih saat Anggota Komisi IV DPRD Kota Banjarmasin, Saut Nathan Samosir, meninjau langsung sejumlah titik di kawasan tersebut, Rabu (8/4/2026).
Kunjungan legislator dari PDI Perjuangan itu dilakukan sebagai tindak lanjut hasil reses pada 5 April lalu. Dalam peninjauan lapangan, Saut menyerap aspirasi warga terkait banjir, sampah liar, kerusakan fasilitas umum, hingga akses jalan yang dinilai membahayakan.
Titik pertama yang didatangi berada di Komplek Yoka, Gang Bersama RT 2. Warga setempat mengeluhkan genangan air yang kerap terjadi saat Sungai Barito pasang, terutama ketika curah hujan tinggi.
Ketua RT 2, Rut Darmawati, mengatakan genangan bisa bertahan selama dua hingga tiga hari sehingga menghambat aktivitas warga. Bahkan, halaman Masjid Al Mukhlisin juga kerap terendam.
“Kalau banjir, airnya surut sangat lambat. Bisa sampai dua atau tiga hari. Kami berharap ada solusi agar persoalan ini segera ditangani,” ujarnya.
Menurut dia, aliran air diduga terhambat akibat kondisi saluran di sekitar kawasan industri yang berdekatan dengan permukiman warga.

Dari lokasi tersebut, rombongan melanjutkan peninjauan ke Gang Flamboyan 2. Di kawasan ini, warga meminta bantuan perbaikan mobil operasional Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) yang saat ini rusak dan tidak dapat digunakan.
Warga menilai keberadaan armada itu sangat penting mengingat permukiman padat penduduk cukup rawan terhadap kebakaran.
Keluhan lain disampaikan warga Jalan Baguntan Raya RT 17. Ketua RT setempat, Jumadi Maulana, menyoroti keberadaan tempat pembuangan sampah liar yang sudah lama dikeluhkan warga karena menimbulkan bau tidak sedap dan mengganggu lingkungan.
“Pengangkutan sampah belum rutin. Kadang hanya satu pickup dan tidak setiap hari, sehingga sampah menumpuk,” katanya.
Selain persoalan sampah, warga Jalan Intan Sari RT 18 juga mengusulkan pelebaran jalan penghubung menuju kawasan Banyiur sepanjang sekitar 73 meter.
Ketua RT 18, Suwardi, mengatakan kondisi jalan yang sempit kerap membahayakan pengguna jalan, khususnya pelajar yang setiap hari melintas.
“Sering anak sekolah hampir tersenggol kendaraan. Kami berharap ada pelebaran sekitar 1,5 meter agar lebih aman,” ujarnya.
Warga setempat juga meminta penanganan pendangkalan sungai yang dinilai sulit dilakukan secara manual.
Menanggapi berbagai aspirasi itu, Saut Nathan Samosir menegaskan seluruh usulan warga akan dibawa dan diperjuangkan dalam pembahasan bersama pemerintah kota serta dinas terkait.
“Ini tindak lanjut dari hasil reses. Kami ingin melihat langsung kondisi di lapangan agar penanganannya tepat sasaran, mulai dari drainase, sampah, jembatan rusak, sampai kebutuhan fasilitas lingkungan,” katanya.
Ia menilai salah satu persoalan mendasar di Basirih adalah buruknya sistem drainase yang menyebabkan air sulit mengalir keluar saat pasang atau hujan deras.
“Air masuk lancar, tetapi keluarnya tersumbat. Ini yang menyebabkan genangan. Untuk jangka pendek, kami dorong gotong royong dulu sambil menyiapkan langkah lanjutan,” ujarnya.


