lenterakalimantan.com, KUNMING — Masyarakat pers di Asia didorong untuk membangun narasi kawasan yang kuat dan otentik di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Teguh Santosa, dalam pertemuan meja bundar media Asia Selatan dan Asia Tenggara yang diselenggarakan All China Journalists Association (ACJA) di Kunming, Yunnan, Selasa (14/7/2026).
Dalam forum bertema “Bagaimana Membentuk Narasi Asia di Era Kecerdasan Buatan” itu, delegasi Indonesia yang diwakili JMSI terdiri dari Penasihat JMSI Pusat, Mursyid Sonsang; Utusan Bidang Luar Negeri, Yophiandi Kurniawan; Ketua JMSI Lampung, Ahmad Novriwan; Ketua JMSI Kalimantan Tengah, Julius Marulitua Sinaga; serta pembina Farah.id, Farida Farhah.
Teguh mengawali paparannya dengan menyoroti hubungan historis antara Indonesia dan kawasan Asia, khususnya Yunnan, yang disebut memiliki keterkaitan erat dengan migrasi awal nenek moyang bangsa Indonesia menuju Nusantara.
Ia juga menyinggung sosok Laksamana Cheng Ho dari Dinasti Ming yang berasal dari Yunnan sebagai simbol persahabatan dan diplomasi antarkebudayaan yang telah terjalin sejak lama.
Menurut Teguh, pertemuan ini menjadi momentum penting bagi industri media untuk menghadapi transformasi teknologi yang mengubah lanskap informasi global secara signifikan.
Ia mengingatkan bahwa di balik kemudahan yang ditawarkan AI, terdapat risiko hilangnya perspektif regional akibat dominasi algoritma yang kerap berbasis nilai tertentu.
“Karena itu, narasi Asia harus dikurasi secara proaktif dengan memasukkan nilai budaya lokal, etika, serta realitas pembangunan kawasan,” ujarnya.
Peran Strategis Media dalam Membangun Narasi Positif
Teguh menegaskan, media memiliki peran strategis sebagai jembatan dalam membangun narasi positif, sekaligus meredam potensi konflik di tengah derasnya arus informasi digital.
“Perdamaian tidak terjadi begitu saja, tetapi harus dibangun melalui dialog terbuka. Media memiliki kekuatan besar untuk mengedepankan narasi yang menyejukkan,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia mengajak insan pers di Asia untuk memanfaatkan teknologi AI secara bertanggung jawab dalam memerangi disinformasi dan ujaran kebencian.
Ia menekankan bahwa masa depan digital Asia harus dibangun di atas prinsip transparansi, integritas, serta penguatan nilai-nilai kemanusiaan.
Menurutnya, kolaborasi lintas negara antarmedia menjadi kunci untuk menjaga identitas regional agar tidak tergerus oleh perkembangan teknologi.
Teguh berharap pertemuan di Kunming dapat menghasilkan rekomendasi konkret bagi penguatan ekosistem media di kawasan Asia.
“Dengan semangat kolaborasi, kita optimistis dapat menghadapi tantangan global sekaligus memperkuat identitas Asia di era digital,” pungkasnya.
Editor: Rizki


