lenterakalimantan.com, KANDANGAN – HAFECS Research and Publication (HRP), HAFECS-Yayasan Hasnur Centre, bersama Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) melakukan kajian terhadap 217 inovasi daerah untuk memetakan kekuatan sekaligus arah pengembangannya.
Kajian tersebut dilakukan melalui kegiatan Sosialisasi, Diseminasi, dan Pemaparan Hasil Kajian Evaluasi Inovasi Daerah Kabupaten HSS Berbasis Pemetaan Asta Cita yang berlangsung selama dua hari, 4-5 Agustus 2026, di Aula Dinas Kesehatan HSS.
Kolaborasi HAFECS dengan BAPPERIDA ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan pakar dari berbagai bidang untuk mengevaluasi inovasi daerah dari sisi relevansi, manfaat, keberlanjutan, tata kelola, hingga tingkat kematangan inovasi.
Hasil kajian diharapkan tidak berhenti sebagai pemetaan, tetapi menjadi pijakan bagi pemerintah daerah untuk menentukan inovasi yang perlu diperkuat, dikembangkan, direplikasi, maupun disempurnakan.
Kepala BAPPERIDA HSS mengatakan, inovasi daerah harus mampu menjawab persoalan masyarakat sekaligus memiliki keterkaitan dengan arah pembangunan nasional melalui Asta Cita.
“Inovasi daerah merupakan salah satu pilar penting dalam meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan, pelayanan publik, dan daya saing daerah. Inovasi yang dikembangkan tidak hanya dituntut mampu menjawab permasalahan di daerah, tetapi juga harus selaras dengan arah pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Asta Cita,” ujarnya.
HAFECS Petakan Sebaran Inovasi
Dalam kajian yang dilakukan HAFECS bersama para akademisi dan pakar, sebanyak 217 inovasi dipetakan berdasarkan delapan kategori Asta Cita.
Hasilnya menunjukkan, inovasi HSS paling banyak berkaitan dengan Asta Cita 7 tentang reformasi politik, hukum, birokrasi, antikorupsi, dan pemberantasan narkoba, dengan 100 inovasi atau 46,1 persen.
Selanjutnya, Asta Cita 4 yang mencakup sumber daya manusia, sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, olahraga, dan kesetaraan gender memiliki 73 inovasi atau 33,6 persen.
Sebaran tersebut menunjukkan bahwa inovasi HSS cukup kuat pada sektor tata kelola pemerintahan dan pembangunan sumber daya manusia.
Namun, kajian juga menemukan ruang pengembangan yang masih terbuka lebar. Salah satunya Asta Cita 5 tentang hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah dalam negeri yang belum memiliki inovasi dalam pemetaan.
Selain itu, Asta Cita 6 tentang pembangunan dari desa untuk pemerataan dan pengentasan kemiskinan tercatat delapan inovasi, sedangkan Asta Cita 8 terkait lingkungan, alam, budaya, dan toleransi antarumat beragama tercatat tiga inovasi.
Temuan tersebut menjadi salah satu bahan penting dalam menentukan arah pengembangan inovasi HSS ke depan.
Libatkan Akademisi dan Pakar
Untuk menghasilkan kajian yang lebih komprehensif, HAFECS Research and Publication melibatkan sejumlah akademisi dan pakar dari berbagai disiplin ilmu.
Pada bidang pendidikan, kajian dilakukan antara lain oleh Ellyna Hafizah, M.Pd., Dosen Jurusan Pendidikan IPA Universitas Lambung Mangkurat, bersama tim peneliti HAFECS.
Kajian tersebut mengangkat penguatan ekosistem pendidikan holistik dan inklusif dari PAUD hingga pendidikan dasar di Kabupaten HSS.
Sementara bidang ekonomi dan UMKM dikaji Dr. Muhammad Rahmattullah, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat, bersama tim HAFECS.
Kajian tersebut berfokus pada evaluasi desain kebijakan inovasi daerah berbasis ekosistem kewirausahaan dalam memperkuat UMKM HSS.
Pada aspek teknologi, Muhammad Fadli Ridhani, dosen Program Studi Teknologi Rekayasa Multimedia Politeknik Hasnur, bersama tim peneliti melakukan kajian mengenai audit teknologi, pengalaman pengguna, dan kematangan digital inovasi daerah.
Adapun pada hari kedua, kajian diperluas ke bidang administrasi publik serta sosial, politik, dan hak asasi manusia.
Junaidy, M.I.Kom., M.AB., Dosen Program Studi Administrasi Publik Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari, mengkaji posisi inovasi sebagai instrumen perencanaan pembangunan, pelayanan publik, tata kelola, dan reformasi birokrasi.
Sementara Hairansyah, S.H., M.H., mengkaji penguatan kohesi sosial dan perlindungan kelompok rentan melalui inovasi tata kelola sosial-politik di HSS.
Seluruh kajian tersebut didukung tim HAFECS Research and Publication yang terdiri atas Danang Bagus Yudistira, S.Si., M.Sc., Farida Hayati, S.Pd., dan Raihani Raziqin, S.Tr.Kom.
Tidak Berhenti pada Pemetaan
Salah satu bagian penting dari kegiatan tersebut adalah penetapan prioritas tindak lanjut. Peserta tidak hanya menerima hasil kajian, tetapi juga diminta memberikan penilaian terhadap rekomendasi yang dianggap paling penting, mendesak, dan relevan.
Hasil angket tersebut selanjutnya menjadi salah satu bahan BAPPERIDA dan perangkat daerah dalam menyusun skala prioritas pengembangan inovasi.
Dengan pendekatan tersebut, HAFECS tidak hanya membantu memotret jumlah dan sebaran inovasi, tetapi turut mendorong agar inovasi daerah memiliki arah pengembangan yang lebih jelas.
Sejumlah inovasi yang masuk dalam kajian di antaranya Liwar HSS, E-SAKIP, Senada PLUS HSS, SI LAPIS, GAPURA HSS, HSS Tuntas Stunting, E-Rekam Medis, Lanjung, Klinik UMKM, Pacarku, HSS Trip, MPP MOSSS, Sapa HSS, hingga Gerak Mas Darling.
Bagi BAPPERIDA HSS, hasil kajian bersama HAFECS tersebut juga menjadi data dukung dalam Monitoring dan Evaluasi Inovasi Daerah untuk Innovative Government Award (IGA) 2026.
Ke depan, pengembangan inovasi diarahkan tidak sekadar mengejar jumlah, tetapi memperkuat kebaruan, kebermanfaatan, keberlanjutan, potensi replikasi, serta kualitas implementasinya.
Kolaborasi HAFECS, akademisi, pakar, dan pemerintah daerah ini diharapkan dapat membangun ekosistem inovasi yang lebih terarah, sehingga inovasi yang lahir dari perangkat daerah benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan mendukung pencapaian target pembangunan Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Editor : Tamyiz


