lenterakalimantan.com, MARTAPURA – Peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Kabupaten Banjar kini tidak hanya diarahkan pada penanganan stunting. Kader juga dituntut mampu mendampingi keluarga sesuai kebutuhan dan tahapan siklus hidup.
Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Selatan Lisna Prihantini saat Jambore Kader Pendamping Keluarga (TPK) Tingkat Kabupaten Banjar 2026 di Guest House Sultan Sulaiman, Martapura, Rabu (23/9/26).
Lisna mengatakan, tugas TPK saat ini mencakup tiga pilar utama, yakni Kependudukan dan Keluarga Berencana (KKB), pembangunan keluarga, serta pendampingan keluarga berisiko stunting.
“Tugas kader kini tidak lagi terbatas pada intervensi stunting semata, melainkan hadir mendampingi seluruh kebutuhan keluarga sesuai tahapan siklus hidupnya,” jelasnya.
Dalam menjalankan tugasnya, TPK difokuskan pada empat kelompok sasaran prioritas, yakni calon pengantin (catin), ibu hamil, ibu pascapersalinan, serta keluarga yang memiliki anak usia bawah dua tahun (baduta).
Lisna menekankan, pendampingan tersebut membutuhkan koordinasi yang kuat hingga tingkat desa. Kader tidak bekerja sendiri, tetapi berkolaborasi dengan Penyuluh KB/PLKB, pemerintah desa atau kelurahan, TP PKK, tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Menurutnya, kader perlu memahami kapan harus memberikan edukasi secara langsung, melakukan pendampingan, berkoordinasi dengan pihak terkait hingga melakukan rujukan apabila ditemukan persoalan yang membutuhkan penanganan medis maupun sosial.
“Kerja kolaboratif adalah kunci. Kader harus jeli dan tahu kapan saatnya memberikan edukasi mandiri, melakukan pendampingan, berkoordinasi, hingga mengambil tindakan rujukan medis atau sosial,” pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Banjar Habib Idrus Al Habsyi yang juga Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Banjar mengatakan, penguatan kapasitas kader menjadi bagian penting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas.
Ia menyebut jambore bukan hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi ruang bagi para kader untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kebersamaan dalam menjalankan pendampingan keluarga.
“Keluarga yang sehat, harmonis, mandiri, dan sejahtera adalah fondasi utama kemajuan daerah. Oleh karena itu, pendampingan keluarga harus berjalan berkesinambungan dan terintegrasi lintas sektor,” ujarnya.
Habib Idrus juga meminta para kader menggunakan pendekatan persuasif saat memberikan pendampingan kepada masyarakat. Menurutnya, rasa nyaman dan kepercayaan menjadi penting agar masyarakat lebih terbuka menerima edukasi.
“Buat masyarakat merasa nyaman, percaya, dan terbuka untuk menerima edukasi,” pesannya.
Jambore TPK Kabupaten Banjar 2026 tersebut menjadi salah satu upaya memperkuat kapasitas kader yang berada di lapangan agar pendampingan keluarga dapat berjalan lebih terarah dan melibatkan berbagai sektor terkait.


