lenterakalimantan.com, BANJAR – Di tengah rimbunnya kawasan Tahura Sultan Adam, sebuah warung tradisional di Desa Paau, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, menyajikan cerita tentang perubahan zaman.
Jauh dari keramaian pusat kota Martapura ibu kota Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan, di tempat yang selama bertahun-tahun identik dengan kesederhanaan kehidupan pedesaan itu, transaksi jual beli kini tak lagi hanya mengandalkan uang tunai. Pembayaran digital menggunakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) mulai menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.
Sore Kamis itu (15/10/2026), Ahmad, warga RT 1 Desa Paau singgah di sebuah warung sederhana tak jauh dari dermaga desa. Ia membeli sejumlah kebutuhan dapur dan makanan ringan untuk buah hatinya. Tidak lupa, ia juga membeli bahan bakar untuk kapal kecilnya. Setelah belanjaan terkumpul, pria paruh baya itu menanyakan total harga kepada pemilik warung.
Alih-alih merogoh dompet, Ahmad justru mengeluarkan ponsel dari sakunya. Ia membuka aplikasi mobile banking dari salah satu bank pelat merah, lalu menyelesaikan pembayaran melalui layar kecil di tangannya.
Transaksi pun berlangsung tanpa uang tunai berpindah tangan. Namun, ada satu hal yang tetap akrab di telinga, sesuatu yang tak ikut berubah meski cara membayar kini semakin modern.
“Tukar,” ucap Ahmad.
“Jual,” sahut Luthfi pemilik warung.
Percakapan singkat itu mengiringi berakhirnya transaksi sore tersebut.
Bagi masyarakat Banjar, kata tukar dan jual bukan sekadar jawaban spontan antara pembeli dan penjual. Keduanya telah lama menjadi bagian dari kebiasaan dalam aktivitas jual beli sehari-hari, sebuah ungkapan sederhana yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di warung kecil dekat dermaga Desa Paau itu, tradisi itu berjalan beriringan dengan teknologi. Pembayaran boleh beralih dari uang tunai ke transaksi digital, tetapi akad jual beli khas Banjar tetap menemukan tempatnya.
Desa Paau sendiri baru mulai menikmati jangkauan jaringan internet atau telekomunikasi pada 2023. Kehadiran jaringan tersebut menjadi titik penting bagi terbukanya akses masyarakat terhadap berbagai layanan digital.
Konektivitas yang sebelumnya menjadi tantangan kini membuka peluang baru, bukan hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk mendukung kegiatan ekonomi warga, salah satunya yang dirasakan Luthfi.
Luthfi merupakan satu-satunya agen laku pandai yang beroperasi di Desa Paau. Sejak jaringan internet menjangkau kawasan ini, ia memanfaatkannya untuk mengembangkan usaha. Ponsel dan koneksi internet menjadi penunjang aktivitas yang membuat warungnya memiliki fungsi lebih luas dari sekadar tempat berbelanja.
Warga yang hendak menyetor atau menarik uang tunai dapat datang langsung ke warungnya. Begitu pula mereka yang ingin membeli token listrik atau memenuhi kebutuhan transaksi lainnya. Berbagai layanan itu tersedia di satu tempat, membantu warga menghemat waktu dan tenaga, terutama ketika harus mengakses layanan keuangan yang lokasinya jauh dari desa.
Kehadiran Luthfi sebagai agen laku pandai menunjukkan bagaimana akses internet dapat membuka peluang usaha hingga ke wilayah perdesaan. Dari sebuah warung sederhana di tengah Desa Paau, layanan keuangan berbasis digital tumbuh lebih dekat dengan masyarakat, mengikuti perubahan zaman tanpa harus menghilangkan suasana kekeluargaan yang menjadi ciri kehidupan desa.
Perjalanan digital Desa Paau tentu tidak berhenti pada pembayaran nontunai. Di tengah keterbatasan akses internet, kisah Nisa, warga RT 1 Desa Paau, menggambarkan betapa mahalnya perjuangan warga perdesaan untuk tetap terhubung dengan dunia luar.
Pada masa pandemi Covid-19, ketika sekolah-sekolah menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), Nisa harus menemani anaknya belajar ke desa tetangga, Muara Kalaan. Desa itu lebih dahulu dijangkau jaringan internet. Setiap kali pembelajaran berlangsung, Nisa dan anaknya menempuh perjalanan sekitar 10 menit menggunakan perahu kecil bermotor.
Perjalanan singkat menyusuri sungai itu menjadi bagian dari rutinitas belajar. Mereka harus meninggalkan rumah, menyeberang ke desa lain, lalu mencari titik yang memungkinkan anaknya mengikuti pelajaran secara daring. PJJ menjadi satu-satunya pilihan karena guru anaknya berdomisili di kota dan proses belajar mengajar sepenuhnya bergantung pada jaringan internet.
Pengalaman unik dirasakan Nisa pada masa sekitar 2007–2008, ketika telepon seluler belum mudah digunakan di Desa Paau. Untuk mendapatkan sinyal, Nisa bahkan harus mendaki puncak gunung. Di sana, ia mencari titik tertentu agar telepon dapat tersambung dan pesan bisa terkirim.
Dua pengalaman tersebut memperlihatkan perjalanan panjang konektivitas di Desa Paau. Dari mencari sinyal di puncak gunung hingga menempuh perjalanan dengan perahu untuk mengikuti PJJ, akses komunikasi dan internet perlahan menjadi bagian penting dalam kehidupan warga.
Bagi Pambakal Desa Paau, Najmianor, masuknya jaringan internet bukan sekadar hadirnya sinyal di layar ponsel. Lebih dari itu, konektivitas tersebut membawa harapan baru bagi masyarakat yang selama sekitar 20 tahun harus hidup dengan keterbatasan akses komunikasi.
Bantuan pembangunan base transceiver station (BTS) dari pemerintah pusat menjadi titik perubahan yang disambut gembira warga. Setelah sekian lama terkendala sinyal, masyarakat Desa Paau kini memiliki kesempatan lebih luas untuk terhubung dengan dunia luar tanpa harus menghadapi kesulitan seperti sebelumnya.
Najmianor melihat kehadiran jaringan internet sebagai pintu yang mulai terbuka bagi berbagai potensi desa. Bukan hanya untuk memudahkan komunikasi, tetapi juga untuk mendorong aktivitas ekonomi masyarakat, mendukung pendidikan, hingga memperkenalkan potensi wisata Desa Paau yang berada di kawasan Tahura Sultan Adam.
Di sektor ekonomi, akses internet membuka peluang bagi warga untuk mengembangkan usaha dan memanfaatkan layanan digital. Dalam bidang pendidikan, jaringan tersebut memberi kesempatan kepada anak-anak dan pelajar untuk menjangkau informasi serta sumber belajar yang sebelumnya sulit diakses.
Sementara di sektor pariwisata, konektivitas menjadi modal penting untuk memperkenalkan keindahan alam Paau kepada masyarakat yang lebih luas, salah satunya objek wisata Batu Balian yang mampu mendatangkan turis mancanegara.
Bagi Najmianor, perubahan ini menjadi langkah berarti bagi desa yang dipimpinnya. Internet bukan lagi sekadar teknologi yang terdengar jauh dari kehidupan masyarakat perdesaan, melainkan sarana yang dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan potensi lokal.
Kini, harapan itu bertumpu pada bagaimana masyarakat memanfaatkan akses yang telah tersedia. Sebab, bagi Desa Paau, hadirnya jaringan internet bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk membuka peluang-peluang baru, agar potensi desa tak hanya dinikmati oleh warganya sendiri, tetapi juga semakin dikenal oleh dunia luar.
Bupati Banjar, Saidi Mansyur, menyambut masuknya jaringan internet ke Desa Paau sebagai langkah penting untuk membuka keterisolasian komunikasi yang selama bertahun-tahun dirasakan masyarakat. Penyambungan jaringan tersebut diresmikan melalui seremoni virtual menggunakan video call bersama Kepala Desa Paau, Najmianor.
Dalam kesempatan itu, Saidi menyampaikan bahwa kehadiran internet bukan sekadar menghadirkan sinyal di tengah permukiman warga. Lebih dari itu, jaringan komunikasi menjadi pintu masuk bagi berbagai peluang baru, mulai dari peningkatan pelayanan pemerintahan, pengembangan ekonomi masyarakat, hingga perluasan akses pendidikan dan informasi.
Menurutnya, pembangunan BTS di Desa Paau merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat di wilayah perdesaan. Selama sekitar 20 tahun, warga harus menghadapi keterbatasan jaringan dan kesulitan berkomunikasi dengan dunia luar. Kini, hambatan tersebut perlahan mulai teratasi.
Saidi berharap masyarakat dapat memanfaatkan jaringan internet secara bijak dan produktif. Akses tersebut, katanya, dapat digunakan untuk mendukung kegiatan belajar, mengembangkan usaha, memperkenalkan produk lokal, serta mempromosikan potensi wisata Desa Paau yang berada di kawasan Tahura Sultan Adam.
Bagi Pemerintah Kabupaten Banjar, konektivitas digital juga menjadi bagian penting dalam mendorong pemerataan pembangunan. Desa-desa yang sebelumnya sulit terjangkau informasi diharapkan dapat tumbuh lebih terbuka, terhubung, dan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki.
Penulis: Fakhrurazi


