lenterakalimantan.com , BANJARMASIN – Kinerja sektor jasa keuangan di Kalimantan Selatan (Kalsel) hingga Agustus 2026 tetap stabil. Intermediasi sektor jasa keuangan tumbuh positif dengan profil risiko yang tetap terjaga. Kondisi ini turut mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang mencapai 5,28 persen pada triwulan II 2026 (year-on-year/yoy).
Selain itu, Kalsel mencatatkan capaian positif dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 dengan menempati peringkat kedua nasional untuk indeks literasi keuangan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalsel menilai, stabilitas sektor jasa keuangan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menopang perekonomian daerah di tengah dinamika ekonomi global dan tantangan domestik.
Dari sisi eksternal, perekonomian global masih dibayangi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang turut menjaga harga minyak tetap tinggi. Kondisi tersebut diperberat oleh pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat dan Jepang, serta perlambatan ekonomi Tiongkok yang merupakan salah satu mitra dagang utama Kalimantan Selatan.
Dinamika global tersebut perlu dicermati mengingat ekspor Kalimantan Selatan masih bertumpu pada komoditas batu bara dan minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
Pada semester I 2026, ekspor Kalsel tumbuh 14,41 persen, didukung kenaikan harga batu bara. Namun, memasuki semester II, sejumlah tekanan mulai muncul. Di antaranya, melemahnya permintaan batu bara dari Tiongkok, surutnya Sungai Barito akibat musim kemarau yang menghambat pengiriman, serta kebijakan biodiesel B50 yang berpotensi memengaruhi ekspor CPO.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, perekonomian Kalsel masih menunjukkan pertumbuhan positif. Pada triwulan II 2026, ekonomi Kalsel tumbuh 5,28 persen (yoy), hampir setara dengan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.
Pertumbuhan tersebut merupakan yang tertinggi kedua di Pulau Kalimantan setelah Kalimantan Barat yang mencapai 5,61 persen. Sementara itu, secara agregat, perekonomian Pulau Kalimantan tumbuh 4,10 persen.
Secara kuartalan, ekonomi Kalsel tumbuh 7,69 persen (quarter-to-quarter/qtq). Adapun secara kumulatif sepanjang semester I 2026, pertumbuhannya mencapai 5,47 persen (cumulative-to-cumulative/c-to-c), dengan nilai produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku sebesar Rp84,21 triliun.
Sektor pertambangan yang memiliki kontribusi sebesar 27,12 persen terhadap perekonomian daerah tumbuh 4,70 persen dan memberikan andil pertumbuhan terbesar, yakni 1,03 poin. Selanjutnya, industri pengolahan memberikan andil sebesar 0,75 poin dan perdagangan sebesar 0,68 poin.
Perbaikan ekonomi juga tercermin dari sejumlah indikator kesejahteraan masyarakat. Tingkat kemiskinan di Kalimantan Selatan turun menjadi 3,63 persen, sedangkan tingkat pengangguran terbuka tercatat 3,81 persen atau terendah kedua di Pulau Kalimantan.
Meski demikian, tekanan inflasi masih menjadi perhatian. Pada Juni 2026, inflasi Kalimantan Selatan tercatat 4,47 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,08 persen.
Angka tersebut melanjutkan tren kenaikan inflasi Kalsel, dari 3,67 persen pada April menjadi 4,22 persen pada Mei 2026. Kenaikan harga emas perhiasan, beras, dan minyak goreng menjadi penyumbang utama inflasi daerah.
Tingginya permintaan masyarakat terhadap emas perhiasan di Kalimantan Selatan tidak hanya dipengaruhi pertimbangan ekonomi, tetapi juga berkaitan erat dengan budaya dan kondisi sosial masyarakat setempat.
Untuk mendorong pengelolaan keuangan yang lebih produktif, masyarakat dapat mempertimbangkan diversifikasi investasi ke sejumlah instrumen, seperti emas batangan, tabungan emas digital, Surat Berharga Negara (SBN), Sukuk Ritel, reksa dana, hingga sektor riil.
OJK Provinsi Kalimantan Selatan juga mengarahkan edukasi keuangan pada pemahaman terhadap berbagai alternatif instrumen investasi tersebut. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan masyarakat, menjaga daya beli, serta memperkuat kemampuan masyarakat dalam menabung di tengah tekanan kenaikan harga.
Sumber : Siaran Pers OJK


