lenterakalimantan.com, PELAIHARI – Mengenal Durian simungkal juara kontes se-kalimantan selatan pasti sudah tidak asing lagi bagi para pencinta buah kulit berduri ini.
Pasalnya pernah menjadi juara kontes durian tahun 2019 lalu di Kiram Park Banjarbaru Kalsel.
Setiap musim durian tiba simungkal banyak diburu pencinta durian dari berbagai daerah di Kalsel, menyempatkan datang ke kebun.
Budidaya pohon durian ini berhasil dikembangkan oleh Nasruddin Naba dilahan kebun Desa Simpang Empat Sungai Baru, Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut.
Namun dalam beberapa tahun belakangan ini, durian simungkal hilang dipasaran sampai tidak tercium baunya lagi.
Saat awak media lenterakalimantan.com menyambangi kebun durian itu, terlihat batang pohon durian banyak yang mati kekeringan dan daun-daunnya menguning berguguran.
Terlihat, tidak ada lagi pohon durian yang tumbuh subur, hampir semua pohon durian mati kekeringan.
Ketua Kelompok KBR Asam-Asam Nasruddin Naba mengaku, pohon durian banyak yang sudah mati, setelah adanya peristiwa banjir di tahun 2021 lalu yang merendam lahan kebun terjadi beberapa hari lamanya.
Ia menuturkan, dari jumlah keseluruhan 200 pohon kini tersisa 30 pohon. Itupun yang bertahan hidup belum tentu bisa berbuah.
Ia menambahkan, mengatasi masalah ini, dirinya sudah berbagi upaya menyelamatkan pohon durian supaya tidak mati.
“Sudah berbagai cara saya lakukan supaya pohon durian ini bisa tumbuh baik lagi, tapi sia – sia saja tidak bisa bertahan hidup, banyak yang mati karena kekeringan,” ucapnya baru-baru ini, (7/10).
Nasruddin menjelaskan, untuk mengetahui penyakit hama pembunuh pohon durian, ia pernah lakukan uji laboratorium dengan cara mengambil sampel tanah dan air sungai dekat dengan kebun.
“Saat ambil sampel air dan tanah lumpur di sungai memang tanahnya terlihat hitam seperti tercemar, dari hasil penelitian laboratorium ada zat unsur-unsur yang mematikan tanaman,” tukasnya.
Menurutnya, setelah mengetahui hal itu, selanjutnya membuat surat ke perusahaan batu bara, untuk dilakukan pemeriksaan dan diteliti oleh ahli secara bersama sama diketahui.
“Sampai lima bulan lamanya belum ada informasi lanjutan dari pihak perusahaan batu bara, bagaimana hasilnya,” imbuhnya.
Nasruddin menduga kematian yang sangat masif terjadi di pohon durian itu, efek dari tambang, lahan kebun terkontaminasi ada zat mematikan ke pohon durian.
Padahal kata Nasruddin, sebelum kejadian ini, pohon durian milikinya itu sempat empat kali panen raya dan hasilnya sangat memuaskan. Dalam setiap panen bisa menjual dikisaran Rp 800 juta sampai 1,5 miliar.


