lenterakalimantan.com, PELAIHARI – Merantau ke suatu daerah jauh dari kampung halaman, tentunya sudah memiliki kemampuan kerja.
Atau setidaknya bisa saja dengan bekal modal yang perlu disiapkan untuk membuka peluang usaha.
Seperti yang dilakukan Habib Maulana pria asal Semarang Jawa Tengah, seorang pedagang angkringan yang dinaminya Protoroyo, berdirinya jajan murah yang ada di Pelaihari sejak 2014 silam.
Berkat kegigihanya dan keuletannya Habib Maulana, pada 2023 sudah bisa menaikan omset perhari Rp2 juta sampai Rp3,5 Juta selagi ramai pembeli.
Dengan penghasilannya itu Habib, sudah bisa mencukupi biaya operasional dan menggaji
5 orang pelayan.
Awalnya Habib mencoba-coba membuka jajanan khas Jawa Tengah berupa nasi kucing, wedang jahe dan ronde makanan tambahan lainnya seperti gorengan, kepala ayam, hati, usus dan telur puyuh.
Habib mengaku, pertama buka angkringan masih menggunakan gerobak dan belum banyak dikenal warga Pelaihari.
Tempat jualan belum bisa menetap, setengah tahun kemudian baru mendapatkan tempat yang dianggap strategis.
“Beberapa bulan buka usaha, warga mulai tertarik jajanan angkringan, meskipun belum terlihat banyak. Pengunjung waktu itu kebanyakan kalangan anak-anak muda dan yang pernah kuliah di Jawa Tengah,” katanya.
Modal pertama Habib buka angkringan, sekitar Rp15 juta, sudah bisa memulai usaha lengkap dengan gerobak dan peralatan lainnya.
Berkat keuletan, kegigihan Habib dan saudara kandungnya membuka angkringan. Usahanya semakin maju dan berkembang, tempatnya bertambah luas dengan berkonsep cafe menggunakan meja dan tempat duduk dihiasi lampu – lampu.
“Semakin banyak pembeli datang ke Angkringan, menu makanan ditambah variasi diperbanyak dari bahan frozen, karena lebih mudah dan efisien. Angkringan Protoroyo, sejak dulu sudah menggunakan bakaran dan idenya dulu dapat dari Jogja. Untuk jajanan masih dipertahankan harga murah, dari harga Rp 2000 sampai 4000, pembeli bawa uang Rp 10 ribu sudah bisa jajan disini,”ujarnya.
Usaha Angkringan Habib, pernah mengalami penurunan sangat drastis pada masa pandemi Covid-19. Satu tempat cabang usaha angkringannya tutup dampak dari pandemi di 2020.
“Terasa banget jaman Covid-19 terus adanya lockdown, orang malas datang ke angkringan, paling ada satu dua orang pelanggan dan itupun tidak makan di tempat dibungkus dibawa pulang,” ujarnya.
Habib merasa bersyukur setelah pandemi Covid-19 usahanya kembali bangkit dan ramai pembeli.


