• Home
  • Berita
  • Daerah
    • KALIMANTAN SELATAN
      • Banjarmasin
      • Banjarbaru
      • Barito Kuala
      • Kabupaten Banjar
      • Balangan
      • Hulu Sungai Selatan
      • Hulu Sungai Tengah
      • Hulu Sungai Utara
      • Kotabaru
      • Tabalong
      • Tanah Bumbu
      • Tanah Laut
      • Sukamara
      • Tapin
    • KALIMANTAN TENGAH
      • Palangka Raya
      • Pulang Pisau
      • Seruyan
      • Murung Raya
      • Kotawaringin Timur
      • Barito Selatan
      • Kotawaringin Barat
      • Katingan
      • Kapuas
      • Gunung Mas
      • Barito Utara
      • Barito Timur
    • KALIMANTAN TIMUR
      • Samarinda
      • Bontang
      • Balikpapan
      • Penajam Paser Utara
      • Paser
      • Mahakam Ulu
      • Kutai Timur
      • Kutai Kartanegara
      • Kutai Barat
      • Berau
    • KALIMANTAN BARAT
      • Sambas
      • Mempawah
      • Sanggau
      • Ketapang
      • Sintang
      • Kapuas Hulu
      • Bengkayang
      • Landak
      • Sekadau
      • Melawi
      • Kayong Utara
      • Kubu Raya
      • Pontianak
      • Singkawang
    • KALIMANTAN UTARA
      • Bulungan
      • Nunukan
      • Malinau
      • Tarakan
      • Tana Tidung
  • Nasional
    • Internasional
  • Hukum & Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Olahraga
  • Wisata
  • Otomotif
  • Opini
  • Kesehatan
  • Mitra Lentera
Reading: Sejarah Benteng Tabanio, Unggul di Zaman Kompeni Belanda
Share
lenteraKalimantan.comlenteraKalimantan.com
Font ResizerAa
  • Berita
  • KALIMANTAN TENGAH
  • KALIMANTAN BARAT
  • KALIMANTAN TIMUR
  • KALIMANTAN UTARA
  • Hukum & Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Olahraga
  • Wisata
  • Otomotif
  • Kesehatan
  • Opini
Search
  • Home
  • Berita
  • Daerah
    • KALIMANTAN SELATAN
    • KALIMANTAN TENGAH
    • KALIMANTAN TIMUR
    • KALIMANTAN BARAT
    • KALIMANTAN UTARA
  • Nasional
    • Internasional
  • Hukum & Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Olahraga
  • Wisata
  • Otomotif
  • Opini
  • Kesehatan
  • Mitra Lentera
Follow US
Copyright © 2024 Lentera Kalimantan By LIMBO. All Rights Reserved.
Home Sejarah Benteng Tabanio, Unggul di Zaman Kompeni Belanda
ArtikelKALIMANTAN SELATANOpini

Sejarah Benteng Tabanio, Unggul di Zaman Kompeni Belanda

H. Muhammad Arsyad
H. Muhammad Arsyad
Share
5 Min Read
Sejarah Benteng Tabanio. Sumber: Pemerhati sejarah Tanah Laut
Sejarah Benteng Tabanio. Sumber: Pemerhati sejarah Tanah Laut
SHARE

lenterakalimantan.com, TABANIO – BENTENG Tabanio terletak di desa Tabanio, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan.

Tabanio sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat luas yang mendiami Kerajaan Banjar, pada masa itu Tabanio merupakan daerah yang strategis.

Hal itu strategis baik untuk perdagangan seperti perkebunan lada, perikanan dan pertambangan emas, selain itu juga sebagai daerah pertahanan sehingga membuat para pedagang asing tertarik untuk mengembangkan usaha perdagangan mereka di Tabanio.

Distrik Tabanio dahulu Afdeeling Tabanio adalah bekas distrik (kawedanan) yang merupakan bagian dari wilayah administratif Onderafdeeling Tanah Laut pada zaman kolonial Hindia Belanda dahulu.

Distrik Tabanio meliputi daerah aliran sungai Tabanio. Distrik Tabanio pernah dipimpin oleh Kepala Distrik (districhoofd) yaitu;

Tahun
Districtshoofd

1842 J. F. Mallien, posthuder te Tabanio
1843-1849? Kiai Jaija Nagara (inlandsche hoofd te landen Laut, Afdeeling Tabanio).
1861-1862 Kiai Soera (eerste inlandsche hoofd te Tabanio, Afdeeling Tanah Laut)
1862 Pembakal Boekasim (eerste hoofd te Tabanio, Afdeeling Tanah Laut)
1863 ?????[10]
1868?-1870 Pembakal Kiahi Soera (Districtshoofd van Tabanio, Afdeeling Tanah Laut)
1871 Kjahi Mas Djaja Kesoema (Districtshoofd van Tabanio, Afdeeling Tanah Laut))

Berita keunggulan desa tabanio tersebut tidak luput dari perhatian Kompeni Belanda, sehingga mereka memutuskan untuk segera mendirikan sebuah benteng di daerah ini.

Pada abad ke-18, Tanggal 6 Juli 1779 dengan ditandatanganinya satu perjanjian antara Kesultanan Banjar dan VOC, di mana VOC diberi monopoli atas perdagangan di Banjar, salah satu klausul perjanjian tersebut adalah termuat hak VOC untuk membangun sebuah benteng.

Akhirnya pada tahun 1789 didirikanlah benteng Tabanio (Fort Tabaniouw), benteng ini dibangun dengan tujuan ganda yaitu untuk kepentingan penguasaan ekonomi dan penguasaan wilayah secara politis.

Sebagaimana juga Benteng Tatas di pusat perekonomian yaitu Banjarmasin (sekarang lokasi Sabilal Muhtadin ‘ Masjid Raya ‘), juga tambang batubara “ Oranje Nassau “ di Pengaron dan Tambang batu bara di Banyu Irang adalah merupakan bangunan ganda dalam tujuan.

Sehingga bangunan semacam itu lebih dikenal oleh masyarakat kerajaan Banjar dengan nama menurut lokasinya seperti Benteng Tabanio, Benteng Pengaron, Benteng Banyu Irang, dan sebagainya.

Banyaknya benteng–benteng yang didirikan oleh Belanda menyebabkan pula antara lain sebagai pendorong munculnya ketidaksenangan penduduk terhadap Belanda yang akhirnya membawa kepada alur ketidakpuasan dan pecahnya Perang Banjar.

Hal itu ditandai dengan penyerangan Benteng Pengaron pada 28 April 1859 di bawah pimpinan Pangeran Antasari dan berakhir pada Januari 1905 dengan gugur Pangeran Mohammad Seman (gelar : Gusti Mat Seman) bin Pangeran Antasari untuk mengusir kekuasaan dan Kompeni Belanda dari Tanah Banjar yang bersemboyan “Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing“.

Pada Agustus 1859 Haji Buyasin yang mengikuti Demang Leman dan Kyai Langlang beserta beberapa pasukan menyerang Benteng Tabanio dan berhasil merebutnya bahkan pemimpin Belanda yang bernama Mauritz tewas beserta beberapa tentara belanda.

Kekalahan tersebut membuat Kompeni Belanda memutuskan untuk mengerahkan kekuatan militernya dengan menggunakan Kapal Perang Bone agar dapat kembali merebut Benteng Tabanio., tetapi serangan Belanda tersebut masih dapat dikalahkan oleh Haji Buyasin dan pasukannya.

Haji Buyasin dan pasukannya adalah pasukan yang diperintahkan oleh Pangeran Antasari untuk memimpin perang gerilya (gurila : bhs. Banjar) di bagian Tanah Laut (Pelaihari, Bati – Bati, Satui, Tabanio, dan seluruh pesisir serta Pantai Tanah Laut).

Kemudian Belanda kembali menyusun strategi yang lebih matang dan dengan mengerahkan pasukan yang lebih besar akhirnya Benteng Tabanio dapat direbut kembali oleh Belanda.

Setelah dihapuskannya eksistensi Kerajaan Banjar pada 11 Juni 1860 dan berakhirnya perang Banjar pada awal abad 20 M, Benteng Tabanio tidak digunakan lagi dan ditinggalkan tanpa perawatan.

Akhirnya dengan kondisi seperti itu Benteng Tabanio mengalami kerusakan cukup parah, bahkan bahan bangunan bekas benteng banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sehingga lambat laun Benteng Tabanio mengalami kemusnahan.

Keadaan Benteng Tabanio sekarang hanya tinggal bekas–bekas dan bertebarannya bata–bata di sekitar lokasi bekas bangunan benteng Tabanio.

Menurut catatan dan pengamatan yang dilakukan oleh Tim Inventarisasi dan Dokumentasi Bidang permuseuman, Sejarah dan Kepurbakalaan (Bidang PSK) Kanwil Dep. P dan K Prop. Kalsel diperkirakan (menurut informasi) dan diukur, Luas Benteng 20.000 meter persegi, Panjang 200 lebar 100 meter ( 200 X 100 meter ) yang dikelilingi oleh parit ( sungai kecil buatan ) di tepi Sungai Tabanio.

Arah Bangunan ini menghadap ke barat yang mungkin dulunya meriamnya menghadap ke pesisir di sebelah barat, yakni Laut Jawa. Banjarmasin ke Pelaihari lebih kurang 99 kilometer dan Pelaihari ke Benteng Tabanio lebih kurang 34 kilometer. (Dirangkum dari berbagai sumber)

Terpopuler

Kantor Pertanahan Tapin
Kantor Pertanahan Tapin Terima Kunjungan KAHMI, Bahas Launching Program PTSL
KALIMANTAN SELATAN
Woow! Kopi Robusta Mangkara Dikembangkan di Tanah Laut
Berita
Hutan Galam Jadi Penambah Indahnya Panorama Alam Pantai JBG
Berita
Di Luar Areal Tambang, JBG Hijaukan DAS Tahura Seluas 3251 Hektar
Berita
Mehbob Menilai Kubu Muldoko Produksi Kebohongan Baru
Berita

You Might Also Like

Tarian Dayak Ramaikan Acara Pesta Rakyat di Halaman Pertasi Kencana

Pemkab HST Gelar Bimtek Penilaian Mandiri Cara Produksi Pangan Bagi Pelaku Usaha

Dukung Program MBG, Pemprov Bersama Polda Kalsel Launching SPPG

Pemilihan Pemuda Pelopor Kalsel 2025 Dorong Generasi Emas

Hj Fathul Jannah Dorong UMKM Kalsel Tembus Pasar Nasional di INACRAFT 2026

Suripno Sumas Serap Aspirasi Warga Soal Penambahan Posyandu

Sah! Irwan Setiawan Terpilih Menjadi Ketua IDI Cabang Tala, Periode 2022-2025

Kendalikan Inflasi, Pemkab Tabalong dan Polres Gelar Gerakan Pangan Murah

Ormas ARUN Kotabaru Soroti Tersangka Galian C Diduga Ilegal yang Masih Berkeliaran

Anggota DPRD Kotabaru Salurkan Bantuan Melalui Pokir

TAGGED:Kerajaan BanjarSejarah Benteng TabanioTanah Laut
Share This Article
Facebook X Flipboard Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
Previous Article Kedatangan Gubernur dan Wagub Kalimantan Selatan dalam ranka peringatan Harjad Provinsi yang ke-73 di Siring 0 Km Banjarmasin. Selasa, (15/8/2023) - Sumber: Dinas Pariwisata Banjarmasin for lenterakalimantan.com Puncak Hari Jadi Provinsi Kalsel Ke-73, H. Sahbirin Noor: Bukti Nyata Untuk Banua
Next Article Kapolres Tapin AKBP Sugeng Priyanto SIK beserta jajaran saat bersilaturahmi dengan Ketua dan pengurus partai Demokrat Tapin, bertempat di Sekretariat DPC Partai Demokrat Tapin, Selasa (15/08/2023). Menjelang Pemilu 2024, Kapolres Silaturahmi Dengan Pengurus Partai di Tapin

Latest News

Saut Nathan Samosir
Dari BPJS hingga Banjir, Saut Nathan Samosir Serap Aspirasi Warga
KALIMANTAN SELATAN April 3, 2026
Semarak HUT Ke-23, Pemkab Tanah Bumbu Gelar Aksi Inovasi dan Expo UMKM Sepekan Penuh
Berita April 3, 2026
BRI Martapura
BRI Martapura Tuntaskan Keluhan Nasabah
KALIMANTAN SELATAN April 3, 2026
Resmi Dibuka, Pelatihan Jikamaka 2026 Diikuti 1.250 Peserta
Berita April 3, 2026
lenteraKalimantan.comlenteraKalimantan.com
Follow US
© 2026 Lentera Kalimantan. All Rights Reserved. Designed by HCD
  • INFO REDAKSI
  • Contact Us
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Kode Etik
  • SOP WARTAWAN
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?