lenterakalimantan.com, TANAH BUMBU – Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia, Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus III Ki Hajar Dewantara Kecamatan Simpang Empat menggelar kegiatan Napak Tilas Perjuangan Rakyat Pagatan, Sabtu (26/7/2025).
Sebanyak 85 guru dan kepala sekolah dari tujuh sekolah dasar ikut serta dalam kegiatan yang bertujuan mengenalkan sejarah perjuangan lokal kepada para pendidik. Para peserta diberangkatkan dengan dua unit bus milik Polres Tanah Bumbu menuju sejumlah lokasi bersejarah di Kecamatan Kusan Hilir.
Lima titik napak tilas yang dikunjungi meliputi Tugu Perjuangan 7 Februari, simbol perlawanan rakyat Pagatan terhadap penjajahan Belanda, Menara Mercusuar Tanjung Petang peninggalan kolonial Belanda tahun 1910, Rumah Tahanan Belanda tempat pejuang lokal pernah ditahan, Makam Puanna Dekke pendiri wilayah Pagatan dan Makam Mattone adalah pejuang lokal yang turut andil dalam perjuangan kemerdekaan.
Para peserta mendapat pendampingan langsung dari Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Tanah Bumbu, Akhmad Kusasi, dan Pamong Budaya Disbudporapar Tanah Bumbu, Isnawati. Keduanya memberikan penjelasan sejarah dari tiap titik kunjungan.
“Tugu 7 Februari menggambarkan semangat rakyat Pagatan melawan dominasi Belanda. Tombak yang digenggam mengarah ke laut menjadi simbol perlawanan dari pesisir,” terang Akhmad Kusasi.
Ia juga menambahkan bahwa Mercusuar Tanjung Petang yang dibangun Belanda pada 1910 kini masih aktif digunakan nelayan dan menjadi saksi bisu sejarah maritim lokal.
Di area mercusuar juga terdapat rumah tahanan peninggalan kolonial, yang terbuat dari kayu jati dan diduga pernah digunakan untuk menahan para pejuang rakyat Pagatan.
Kunjungan kemudian berlanjut ke Makam Puanna Dekke, tokoh Bugis asal Wajo, Sulawesi Selatan, yang merantau dan membuka Kampoeng Pagattang sekitar tahun 1735 Masehi.
“Beliau adalah pelopor terbentuknya Pagatan yang kini berkembang menjadi wilayah penting di Tanah Bumbu,” ujar Akhmad.
Koordinator ULWK Kecamatan Simpang Empat, Lamsi, menyampaikan apresiasinya atas inisiatif guru-guru Gugus III dalam menghidupkan kembali semangat nasionalisme melalui pendekatan sejarah lokal.
“Harapan kami, para guru dapat menyampaikan nilai-nilai perjuangan ini kepada peserta didik di sekolah,” tuturnya.
Ketua KKG Gugus III Ki Hajar Dewantara, Sismarianto, mengatakan kegiatan ini diikuti tujuh sekolah dasar, termasuk SDN Kampung Baru 1, 2, 7; SDN Tungkaran Pangeran 2, 4, 5; dan SD Muhammadiyah.
“Napak tilas ini bukan sekadar kunjungan, tapi cara kami membangun kedekatan emosional dengan sejarah daerah. Guru harus mengenal sejarah lokal agar bisa menanamkan cinta tanah air sejak dini,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan serupa bisa menjadi agenda tahunan dan bekerja sama dengan dinas terkait untuk memperkuat pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.
Sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang, kegiatan ditutup dengan ziarah dan doa bersama di Makam Mattone, dipimpin langsung oleh Pengawas TK/SD Tanah Bumbu, Endang Padminingsih. Pada momen ini juga dilakukan penyerahan sembilan buku “Puanna Dekke” dari Dinas Kebudayaan kepada pengurus KKG.
Editor: Muhammad Tamyiz


