• Home
  • Berita
  • Daerah
    • KALIMANTAN SELATAN
      • Banjarmasin
      • Banjarbaru
      • Barito Kuala
      • Kabupaten Banjar
      • Balangan
      • Hulu Sungai Selatan
      • Hulu Sungai Tengah
      • Hulu Sungai Utara
      • Kotabaru
      • Tabalong
      • Tanah Bumbu
      • Tanah Laut
      • Sukamara
      • Tapin
    • KALIMANTAN TENGAH
      • Palangka Raya
      • Pulang Pisau
      • Seruyan
      • Murung Raya
      • Kotawaringin Timur
      • Barito Selatan
      • Kotawaringin Barat
      • Katingan
      • Kapuas
      • Gunung Mas
      • Barito Utara
      • Barito Timur
    • KALIMANTAN TIMUR
      • Samarinda
      • Bontang
      • Balikpapan
      • Penajam Paser Utara
      • Paser
      • Mahakam Ulu
      • Kutai Timur
      • Kutai Kartanegara
      • Kutai Barat
      • Berau
    • KALIMANTAN BARAT
      • Sambas
      • Mempawah
      • Sanggau
      • Ketapang
      • Sintang
      • Kapuas Hulu
      • Bengkayang
      • Landak
      • Sekadau
      • Melawi
      • Kayong Utara
      • Kubu Raya
      • Pontianak
      • Singkawang
    • KALIMANTAN UTARA
      • Bulungan
      • Nunukan
      • Malinau
      • Tarakan
      • Tana Tidung
  • Nasional
    • Internasional
  • Hukum & Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Olahraga
  • Wisata
  • Otomotif
  • Opini
  • Kesehatan
  • Mitra Lentera
Reading: [OPINI] Lafran Pane, Dies Natalis HMI ke-79 dan Riwayatmu Kini: Antara Idealisme Intelektual dan Hedonisme Kekuasaan
Share
lenteraKalimantan.comlenteraKalimantan.com
Font ResizerAa
  • Berita
  • KALIMANTAN TENGAH
  • KALIMANTAN BARAT
  • KALIMANTAN TIMUR
  • KALIMANTAN UTARA
  • Hukum & Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Olahraga
  • Wisata
  • Otomotif
  • Kesehatan
  • Opini
Search
  • Home
  • Berita
  • Daerah
    • KALIMANTAN SELATAN
    • KALIMANTAN TENGAH
    • KALIMANTAN TIMUR
    • KALIMANTAN BARAT
    • KALIMANTAN UTARA
  • Nasional
    • Internasional
  • Hukum & Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Olahraga
  • Wisata
  • Otomotif
  • Opini
  • Kesehatan
  • Mitra Lentera
Follow US
Copyright © 2024 Lentera Kalimantan By LIMBO. All Rights Reserved.
Home [OPINI] Lafran Pane, Dies Natalis HMI ke-79 dan Riwayatmu Kini: Antara Idealisme Intelektual dan Hedonisme Kekuasaan
Opini

[OPINI] Lafran Pane, Dies Natalis HMI ke-79 dan Riwayatmu Kini: Antara Idealisme Intelektual dan Hedonisme Kekuasaan

lenterakalimantan.com
lenterakalimantan.com
Share
5 Min Read
Dr. Muhammad Uhaib As'ad, M.Si.
SHARE

Oleh: Dr. Muhammad Uhaib As’ad, M.Si

(Akademisi, Direktur Kajian Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik Kalimantan Selatan, President International Institute of Influencers Indonesia)

Nama Lafran Pane bukan sekadar catatan sejarah dalam buku perkaderan HMI, melainkan fondasi moral dan intelektual yang seharusnya terus hidup dalam denyut gerakan mahasiswa Islam Indonesia. Pada Dies Natalis HMI ke-79, pertanyaan paling mendasar justru bukan tentang usia, melainkan tentang arah, masihkah HMI setia pada cita-cita awal atau telah larut dalam arus pragmatisme kekuasaan?

Lafran Pane mendirikan HMI dalam konteks perjuangan intelektual dan kebangsaan yang keras. HMI lahir bukan untuk menjadi organisasi penonton kekuasaan, apalagi penikmat fasilitas negara, tetapi sebagai kawah candradimuka kader umat dan bangsa yang berani berpikir kritis dan bertindak etis.

Dua tujuan HMI, mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menegakkan serta mengembangkan ajaran Islam, bukan jargon kosong. Ia adalah sintesis antara iman, ilmu, dan amal yang menuntut konsistensi moral dalam setiap ruang sosial, termasuk ruang politik.

Namun pada usia ke-79 ini, HMI justru dihadapkan pada paradoks besar. Di satu sisi, ia dipenuhi kader-kader cerdas dengan akses luas ke kekuasaan. Di sisi lain, idealisme intelektual kerap kalah oleh hasrat pragmatis untuk cepat berkuasa dan nyaman dalam sistem.

Intelektualisme yang dulu menjadi napas HMI kini sering direduksi menjadi sekadar retorika forum. Diskusi-diskusi kritis bergeser menjadi formalitas, sementara orientasi karier politik dan jabatan struktural menjadi magnet utama kaderisasi.

Lebih mengkhawatirkan, sebagian kader HMI hari ini tampak terjebak dalam hedonisme kekuasaan. Kekuasaan tidak lagi dipandang sebagai alat perjuangan, melainkan sebagai tujuan akhir. Ketika ini terjadi, nilai-nilai etik Lafran Pane perlahan kehilangan makna praksisnya.

HMI yang seharusnya menjadi pressure group justru kerap tampil sebagai interest group. Kritik terhadap negara menjadi selektif, tergantung posisi politik dan kedekatan dengan lingkar kekuasaan. Di sinilah integritas intelektual diuji.
Lafran Pane tidak pernah membayangkan HMI menjadi pabrik elit tanpa nurani. Ia membayangkan HMI sebagai gerakan intelektual organik, yang berpihak pada keadilan sosial, membela kaum tertindas, dan berani berseberangan dengan kekuasaan yang menyimpang.

Dalam konteks demokrasi hari ini, HMI seharusnya hadir sebagai penyeimbang. Bukan oposisi membabi buta, tetapi juga bukan loyalis kekuasaan yang kehilangan daya kritis. Sikap independen adalah roh yang kini sering dikompromikan.

Fenomena politisasi alumni dan instrumentalisasi kader adalah realitas yang tidak bisa disangkal. Namun kesalahan terbesar bukan pada alumni yang berkuasa, melainkan pada kader yang kehilangan daya tawar intelektual dan keberanian moral.

Kampus, sebagai habitat alami HMI, seharusnya kembali dijadikan pusat produksi gagasan. Bukan hanya tempat rekrutmen massa, tetapi ruang dialektika serius tentang keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan.

Tanpa pembaruan orientasi intelektual, HMI berisiko menjadi organisasi besar secara kuantitas, tetapi rapuh secara kualitas. Sejarah menunjukkan, organisasi besar runtuh bukan karena kekurangan kader, melainkan karena kekeringan nilai.

Lafran Pane mewariskan kesederhanaan hidup dan keteguhan prinsip. Ironis jika warisan ini justru dikalahkan oleh gaya hidup elitis dan simbol-simbol kemewahan yang kini kerap melekat pada sebagian aktivis.

HMI harus berani melakukan otokritik. Bukan sekadar refleksi seremonial setiap Dies Natalis, tetapi evaluasi mendalam tentang arah kaderisasi, relasi dengan kekuasaan, dan keberpihakan sosial.

Idealisme intelektual tidak identik dengan anti-kekuasaan, tetapi ia menuntut jarak kritis. Kekuasaan yang tidak diawasi akan korup, dan intelektual yang terlalu dekat dengan kekuasaan akan kehilangan kemerdekaannya.

Di tengah krisis keteladanan nasional, HMI sejatinya memiliki peluang besar untuk tampil sebagai mercusuar etika publik. Tetapi peluang itu hanya akan nyata jika keberanian berpikir dan bersikap kembali dihidupkan.

Dies Natalis ke-79 seharusnya menjadi momentum “kembali ke Lafran Pane”, bukan dalam arti romantisme sejarah, tetapi penghayatan nilai yang kontekstual dan progresif.

HMI harus memilih, menjadi organisasi intelektual yang merdeka atau sekadar jejaring kekuasaan yang oportunistik. Sejarah akan mencatat pilihan itu dengan jujur. Jika HMI gagal menjaga jarak kritis dari hedonisme kekuasaan, maka ia akan kehilangan legitimasi moral di mata publik dan generasi muda.

Lafran Pane telah menunaikan tugas sejarahnya. Kini, pertanyaannya sederhana namun menentukan, apakah HMI masih setia pada jalan intelektual yang ia rintis, atau justru larut dalam kenikmatan kekuasaan yang fana?

Terpopuler

Pemkab Tabalong
Pemkab Tabalong Usulkan 165 Formasi CASN 2026, Fokus Isi Posisi Pensiun
KALIMANTAN SELATAN
Woow! Kopi Robusta Mangkara Dikembangkan di Tanah Laut
Berita
Hutan Galam Jadi Penambah Indahnya Panorama Alam Pantai JBG
Berita
Di Luar Areal Tambang, JBG Hijaukan DAS Tahura Seluas 3251 Hektar
Berita
Mehbob Menilai Kubu Muldoko Produksi Kebohongan Baru
Berita

You Might Also Like

[OPINI] Pemikiran SDM Berkelanjutan Banua kepada Haji Isam

[OPINI] Bisnis di Negeri Para Bajingan: Kongkalikong Politisi dan Cukong

Lima Bahan Herbal Mencegah Asam Lambung, Empat Diantaranya Sering di Temui Didapur

Politik (kenyataan) di Kontestasi Politik

[OPINI] Berdayung di Antara Monarki, Poliarki, dan Oligarki

Pengaruh Oligarki Terhadap Program Tayangan di Media Televisi (Study Kasus Talkshow ILC Berhenti Tayang)

[OPINI] Paman Birin Berhasil Pimpin Banua 2 Periode: Bergerak ! Laksana Bergerilya Pastikan Masyarakatnya Aman

Haji Boejasin Pahlawan Muda Penakluk Fort Tabanio

Meningkatkan Minat Belajar Secara Daring Dimasa Pandemi Saat Ini

[OPINI] Embargo dan Perlawanan Intelektual Iran VS Keheningan Intelektual “Negara Konoha” di Tengah Oligarki

TAGGED:Opini
Share This Article
Facebook X Flipboard Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
Previous Article Honda Trio Motor Martapura Honda Trio Motor Martapura Gelar Clay Art Workshop Bersama Joy.Galleria
Next Article [OPINI] Prabowo Subianto Berkata: Kita Sedang Dikepung Para Bajingan Koruptor – We Hope Not Only Just Talking Head

Latest News

CASN 2026
Rakor Usulan CASN 2026, Pemkab Tabalong Fokus Penguatan Sektor Teknis dan Pajak
KALIMANTAN SELATAN Maret 26, 2026
Pemkot Banjarmasin
Pemkot Banjarmasin dan TNI Siap Kolaborasi Perbaiki Jembatan Rusak di Kawasan Pinggiran
KALIMANTAN SELATAN Maret 26, 2026
Hibah keagamaan
Usulan Hibah Keagamaan 2027 Wajib Lewat SIPD, Pemkab Banjar Tekankan Transparansi
KALIMANTAN SELATAN Maret 26, 2026
Firman Yusi
Firman Yusi Dorong Realokasi Belanja Infrastruktur untuk Ketahanan Pangan di APBD 2027
KALIMANTAN SELATAN Maret 26, 2026
lenteraKalimantan.comlenteraKalimantan.com
Follow US
© 2026 Lentera Kalimantan. All Rights Reserved. Designed by HCD
  • INFO REDAKSI
  • Contact Us
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Kode Etik
  • SOP WARTAWAN
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?