• Home
  • Berita
  • Daerah
    • KALIMANTAN SELATAN
      • Banjarmasin
      • Banjarbaru
      • Barito Kuala
      • Kabupaten Banjar
      • Balangan
      • Hulu Sungai Selatan
      • Hulu Sungai Tengah
      • Hulu Sungai Utara
      • Kotabaru
      • Tabalong
      • Tanah Bumbu
      • Tanah Laut
      • Sukamara
      • Tapin
    • KALIMANTAN TENGAH
      • Palangka Raya
      • Pulang Pisau
      • Seruyan
      • Murung Raya
      • Kotawaringin Timur
      • Barito Selatan
      • Kotawaringin Barat
      • Katingan
      • Kapuas
      • Gunung Mas
      • Barito Utara
      • Barito Timur
    • KALIMANTAN TIMUR
      • Samarinda
      • Bontang
      • Balikpapan
      • Penajam Paser Utara
      • Paser
      • Mahakam Ulu
      • Kutai Timur
      • Kutai Kartanegara
      • Kutai Barat
      • Berau
    • KALIMANTAN BARAT
      • Sambas
      • Mempawah
      • Sanggau
      • Ketapang
      • Sintang
      • Kapuas Hulu
      • Bengkayang
      • Landak
      • Sekadau
      • Melawi
      • Kayong Utara
      • Kubu Raya
      • Pontianak
      • Singkawang
    • KALIMANTAN UTARA
      • Bulungan
      • Nunukan
      • Malinau
      • Tarakan
      • Tana Tidung
  • Nasional
    • Internasional
  • Hukum & Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Olahraga
  • Wisata
  • Otomotif
  • Opini
  • Kesehatan
  • Mitra Lentera
Reading: Haji Boejasin Pahlawan Muda Penakluk Fort Tabanio
Share
lenteraKalimantan.comlenteraKalimantan.com
Font ResizerAa
  • Berita
  • KALIMANTAN TENGAH
  • KALIMANTAN BARAT
  • KALIMANTAN TIMUR
  • KALIMANTAN UTARA
  • Hukum & Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Olahraga
  • Wisata
  • Otomotif
  • Kesehatan
  • Opini
Search
  • Home
  • Berita
  • Daerah
    • KALIMANTAN SELATAN
    • KALIMANTAN TENGAH
    • KALIMANTAN TIMUR
    • KALIMANTAN BARAT
    • KALIMANTAN UTARA
  • Nasional
    • Internasional
  • Hukum & Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Olahraga
  • Wisata
  • Otomotif
  • Opini
  • Kesehatan
  • Mitra Lentera
Follow US
Copyright © 2024 Lentera Kalimantan By LIMBO. All Rights Reserved.
Home Haji Boejasin Pahlawan Muda Penakluk Fort Tabanio
ArtikelOpini

Haji Boejasin Pahlawan Muda Penakluk Fort Tabanio

Ikhsan Makkawali
Ikhsan Makkawali
Share
7 Min Read
Ismail Fahmi. SE., MT : Pemerhati Sejarah
Ismail Fahmi. SE., MT : Pemerhati Sejarah
SHARE

Oleh: Ismail Fahmi SE MT

Haji Boejasin adalah salah seorang pahlawan yang berjuang pada masa kerajaan Banjar. Berjuang bersama Demang Lehman dan Kiai Langlang Buana.

Hadji Boejasin terkenal sebagai pahlawan muda yang dijuluki oleh pihak Belanda sebagai “Berandal Licin”, karena pergerakannya yang sangat susah ditebak. Pada saat melakukan penyerangan suka membakar tangsi-tangsi Belanda.

Nama lengkapnya adalah Haji Muhammad Jasin. lahir di daerah Sabuhur (Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan) pada tahun 1837. Nama aslinya Muhammad Yasin. Masa kecil dan remaja dilalui dengan belajar agama dan taat beribadah. Muhammad Yasin berangkat haji dalam usia muda, karena itulah, pada waktu berjuang namanya disebut Haji Buyasin.

Sementara orang mengatakan bahwa Muhammad Yasin juga sebagai penghulu, ahli agama, jadi untuk sezamannya prestasinya cukup menonjol. Karena masih muda, sudah naik haji, tahu ilmu agama, dan berasal dari keluarga kaya (sebab tidak mungkin haji kalau tidak kaya).

Ketika ia muncul dalam barisan perjuangan bersama Demang Lehman dan Pangeran Antasari, ia baru berusia kira-kira 20 tahun. Jadi nyatanya ia masih muda sekali. Tetapi Demang Lehman telah melihat adanya sifat-sifat kepahlawanan yang dimiliki oleh Haji Boejasin yang masih sangat muda itu.

Haji Boejasin sebagai pemimpin perlawanan di daerah Tanah Laut ini mempunyai pengikut yang cukup banyak dan teratur. Keistimewaan Haji Boejasin adalah dalam setiap pertarungan melawan Belanda, ia tidak membiarkan anak buahnya saja yang maju ke depan, tetapi malah ia sendiri yang berjuang paling depan.

Pada suatu hari beliau pernah menyusup ke dalam markas Belanda di Martapura. Di sana ia mengamuk dan banyak membunuh musuh-musuhnya, kemudian berhasil meloloskan diri dari kepungan Belanda. Selanjutnya ia bertempur pula di Cempaka, Sungai Paring, Gunung Landak dan Tabanio.

Haji Boejasin Mempunyai benteng yang cukup ampuh di suatu tempat yang bernama Telaga, letaknya antara Sabuhur dan Batu Tungku. Pada tanggal 27 Juli 1859, benteng Telaga ini pernah dikepung oleh Belanda dengan kekuatan yang besar. Tetapi sayangnya di sekitar benteng itu telah dipasang jebakan, ketika pasukan Belanda mulai beraksi maka jadilah mereka umpan yang empuk bagi jebakan-jebakan yang mematikan tadi.

Peristiwa “Benteng Tabanio” (Baca juga Benteng Tabanio) dalam bulan Agustus 1859 juga membuktikan keberaniannya. Benteng Tabanio yang diduduki Belanda berhasil direbut olehnya bersama Demang Lehman dan Kiai Langlang Buana. Ketika Belanda datang kembali dengan bantuan kapal perang Bone untuk merebut Benteng tabanio, Haji Boejasin melawannya dengan gigih juga, sehingga serangan yang kedua oleh Belanda ini juga Gagal.

Empat bulan kemudian tepatnya pada bulan Desember 1859 Benteng Haji Buyasin di Takisung diserang secara besar – besaran dan dapat dihancurkan. Haji Buyasin menyingkir ke daerah Pelaihari yang akhirnya sampai ke daerah Bati – Bati,

Pertempuran-pertempuran selanjutnya sejak tahun 1860-1864 terus-menerus terjadi di Pelaihari, Bati-bati, Tabanio, Satui, Maluka, Tambak Linik, Salingsing, Liang Anggang, Awang Bangkal, Tiwingan dll. Haji Boejasin melakukan taktik gerilya, yaitu menyerang secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi.

Bahkan karena saking sulitnya Belanda menangkap Haji bujasin, sampai-sampai Belanda mengeluarkan sayembara dengan harga kepal Hadjie bujasin sebesar f. 1.000,- (Staat Der Opstandelingen Op Wien Premien Of Hoofdgelden Zijn Gesteld (Daftar Nama Pemberontak Yang Dikenai Premi atau Harga Kepala)

Peristiwa bulan Mei 1864 yang terjadi di Tambak Linik dan Salingsing (pedalaman Bati-bati) dialami bersama istri dan 9 orang pengikutnya. Mereka terkurung dalam kepungan musuh selama 10 hari lamanya, sampai-sampai mereka kehabisan bekal makanan, pada saat itu mereka hanya makan umbut-umbut muda dan buah-buahan hutan. Musuh telah menjepit mereka di Pelaihari, Martapura dan Banyu Hirang dengan 115 orang serdadu, dan ditambah lagi pasukan pengkhianat yang membela Belanda daripada rakyat kurang lebih 50 orang.

Namun berkat ketabahan, keuletan dan pertolongan dari Yang Maha Kuasa akhirnya mereka dapat meloloskan diri dari pihak musuh. Akan tetapi pada saat mereka sampai di rumah mereka di Sabuhur, mereka telah mendapati rumah mereka yang hangus dibakar Belanda. Tetapi hal ini tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berjuang dan berjuang.

Setelah kejadian itu menyusul kejadian di Asam-asam dan Batu Tungku. Di sini Haji Boejasin berhadapan dengan pasukan Bugis dari Pagatan (Kalimantan tenggara). Mereka itu adalah kaum yang memihak dan dibantu oleh Belanda. Namun kali ini pun Haji Boejasin berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Bahkan ketika pertempuran Pematang Damar, November 1865 pundaknya yang penuh darah karena peluru yang menembusnya, Haji Boejasin masih dapat meloloskan diri dan bertempur kembali di Gunung Anjal.

Perlawanannya yang terakhir adalah ketika ia menjelajah ke Tanah Dusun sungai Lintuni di Kal-Teng, ia bertemu Pembakal Bonang yang telah lama mencarinya.

Pelurupun menembus kulit tubuhnya, darah pun tumpah di Bumi Pertiwi dan saat itulah ia menghembuskan nafas terakhirnya. Peristiwa ini terjadi pada 26 January 1866. Haji Buyasin gugur sebagai pahlawan dan sekaligus mujahid. meninggal dalam usia muda, 29 tahun.

Jenazah Haji Buyasin yang pernah menguasai dan memimpin Benteng Tabanio diserahkan kepada Belanda di Banjarmasin oleh Pangeran Nata Bupati Martapura. Kemudian oleh masyarakat di makamkan di lokasi makam Mesjid Jami Lama di tepi Sungai Martapura, Pasar Lama.

Bidang PSK ( Bidang Permuseuman dan Kepurbakalaan : sekarang ) telah melakukan Survei di lokasi ini, tetapi tidak menemukan Makam Haji Buyasin di antara makam – makam yang ada. Mungkin hal ini disebabkan adanya kerusakan tanah akibat erosi Sungai Martapura.

Lokasi makam – makam di tempat ini mengalami perubahan yaitu menyempit banyak makam – makam yang runtuh dan hilang yang semula berada di tanah sekarang lenyap ke tengah sungai martapura. Masjid Jami sendiri telah lama di pindahkan lebih ke tengah yang sekarang ini berada di pinggir jalan Mesjid. Kelurahan Mesjid Jami / Surgi Mufti Kecamatan Banjar Utara Banjarmasin ( Dahulu lebih dikenal dengan Kampung Masigit ).
http://tanahlautonline.blogspot.com

Penulis adalah pemerhati sejarah di Kalselteng

Tulisan adalah kiriman publiser. isi diluar tanggung jawab redaksi

Terpopuler

Bocah 10 Tahun yang Tenggelam di Danau Arraudah Tanah Bumbu Ditemukan Meninggal Dunia
Berita
Woow! Kopi Robusta Mangkara Dikembangkan di Tanah Laut
Berita
Hutan Galam Jadi Penambah Indahnya Panorama Alam Pantai JBG
Berita
Di Luar Areal Tambang, JBG Hijaukan DAS Tahura Seluas 3251 Hektar
Berita
Mehbob Menilai Kubu Muldoko Produksi Kebohongan Baru
Berita

You Might Also Like

Bupati Balangan Beri Bantuan Korban Kebakaran

Ratusan Satlinmas Kecamatan Paringin Ikuti Simulasi Tanggap Bencana

Dinilai Berhasil Implementasikan PHBS, Tim Germas Kalsel Sambangi Sungai Bilu Banjarmasin

Diskominfo Tabalong Tegaskan Organ Pelayanan Publik di Pemerintahan Daerah Harus Transfaran Informasi

Meski Diwarnai Hujan, Bupati Abdul Hadi Resmiksn Peluncuran Pilkada 2024 Bersama KPU Balangan

45 Peserta Ikut Dalam Workshop Kesenian yang di Gelar Disdikbud

Pemkab Banjar Gelar Workshop Penerapan SPM di Roditha Banjarbaru

Rumahnya Direhab Pada Acara MTP, Rohani Ucapkan Terimakasih ke Pemda Tala

Pemkab Banjar Gelar Rakoor Mingguan

Setelah Dibantah Adanya Penculikan Anak, Kapolsek Batu Ampar Juga Memaparkan Cerita Sebenarnya

TAGGED:PelaihariTanah Laut
Share This Article
Facebook X Flipboard Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
Previous Article Kondisi pada saat kebakaran yang meluluh lantahkan rumah warga di komplek Flamboyan Bawah. Selasa (1/8/2023). Sumber: TRC Kota Palangkaraya for lenterakalimantan.com Update Data Kebakaran Jl Flamboyan Bawah Kecamatan Pahandut Kota Palangkaraya
Next Article Ketua DPD Partai NasDem Tala Abdi Rahman didampingi sang istri Yati Oktaviana menggelar konferensi pers di RM Pegunungan Batilai, Rabu (2/8/2023). Foto: Asep/lenterakalimantan.com Ketua NasDem Tala Pertanyakan Usulan Fraksi Terkait Pj Bupati Tidak Diparipurnakan Dewan

Latest News

Seorang Anak Diduga Tenggelam di Danau Arraudah 6, Tim SAR Gabungan Lakukan Pencarian
Berita Juni 7, 2026
Aroma Menyengat Ungkap Penemuan Jenazah Perempuan di Warukin, Polisi Dalami Kasus Kematian
Berita Juni 7, 2026
Sidang
Sidang Sengketa Pembagian Harta Pascaperceraian Masuki Tahap Pembuktian
Hukum & Peristiwa Juni 7, 2026
DPC PERADI Banjarmasin
DPC PERADI Banjarmasin Gelar Syukuran atas Dikabulkannya PK Kepengurusan PERADI oleh MA
KALIMANTAN SELATAN Juni 7, 2026
lenteraKalimantan.comlenteraKalimantan.com
Follow US
© 2026 Lentera Kalimantan. All Rights Reserved. Designed by HCD
  • INFO REDAKSI
  • Contact Us
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Kode Etik
  • SOP WARTAWAN
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?