lenterakalimantan.com, BANJARMASIN — Direktur Utama PT Bangun Banua, Afrizaldi, menyatakan bahwa penutupan hotel milik daerah merupakan langkah yang tidak mudah karena menyangkut aspek tenaga kerja dan administrasi.
Ia menjelaskan, kondisi operasional yang terhenti memaksa manajemen mengambil keputusan rasional. Jika tetap dipaksakan berjalan dengan pola lama, kebutuhan anggaran untuk pemulihan fisik, perawatan, hingga operasional layanan dapat mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah.
“Kalau tetap menggunakan konsep sebelumnya, kebutuhan dananya sangat besar dan prosedurnya panjang,” ujarnya.
Menurut Afrizaldi, sumber pendanaan tersebut harus melalui mekanisme penyertaan modal pemerintah yang prosesnya tidak sederhana.
Di sisi lain, ia mengakui kebijakan tersebut menjadi beban moral karena berkaitan dengan nasib karyawan. Namun, kondisi yang ada dinilai tidak menyisakan banyak pilihan.
Karena itu, manajemen kini menyiapkan rancangan usaha yang lebih realistis, dengan menekankan pada perawatan sederhana, biaya operasional yang efisien, serta tetap mampu menghasilkan pendapatan.
“Kami mencari model yang lebih mudah dirawat, ringan dijalankan, tetapi tetap produktif,” katanya.
Rancangan tersebut masih dalam tahap kajian. Sejumlah opsi tengah dipertimbangkan, termasuk kemitraan dengan pihak ketiga serta penyesuaian fungsi bangunan agar lebih fleksibel.
Pemda Didorong Manfaatkan Fasilitas Milik Daerah
Di sisi lain, Afrizaldi mendorong agar kegiatan pemerintahan dapat memanfaatkan fasilitas milik daerah. Menurutnya, berbagai agenda dinas seperti workshop, bimbingan teknis, hingga kegiatan seremonial sebenarnya dapat dilaksanakan di aset milik daerah tersebut.
“Anggarannya ada setiap tahun. Kenapa tidak dimanfaatkan di tempat kita agar perputaran ekonominya kembali ke daerah?” ujarnya.
Ia menilai, minimnya pemanfaatan fasilitas menjadi salah satu penyebab melemahnya aktivitas usaha. Ketika tingkat hunian rendah sementara biaya operasional tetap berjalan, kondisi tersebut dinilai tidak berkelanjutan.
Menurutnya, jika pemanfaatan dilakukan secara konsisten, keberlangsungan usaha akan lebih terjaga tanpa harus bergantung pada tambahan modal besar.
Bangun Banua Siapkan Sejumlah Skema
Ke depan, manajemen menyiapkan sejumlah skema, di antaranya kerja sama operasional serta pola GOTE (Government to Enterprise). Konsep pemanfaatan juga tidak semata-mata sebagai penginapan, tetapi diarahkan menjadi ruang serbaguna yang dapat menunjang kebutuhan kegiatan dinas.
“Sedang kami kaji apakah tetap berkonsep hotel atau dikembangkan menjadi fasilitas serbaguna. Yang jelas, saat ada kegiatan, tidak perlu lagi menyewa tempat lain,” ucapnya.
Afrizaldi menegaskan, penghentian sementara layanan dilakukan atas pertimbangan operasional, bukan tanpa alasan. Ia berharap ke depan aset milik daerah dapat dioptimalkan untuk mendukung aktivitas pemerintahan sekaligus memperkuat kinerja perusahaan.


