lenterakalimantan.com, BANJARMASIN – Persatuan Wartawan Indonesia Kalimantan Selatan (PWI Kalsel) menargetkan sedikitnya 30 perusahaan media di daerah dapat lolos verifikasi administrasi Dewan Pers pada tahun 2026.
Target tersebut disampaikan Ketua PWI Kalsel, Zainal Helmie, usai seminar bertajuk “Verifikasi Dewan Pers Penting atau Cuma Stempel Pajangan?” yang digelar di Banjarmasin, Senin (22/6/2026).
Menurut Helmie, sejumlah media di Kalimantan Selatan sebenarnya telah mengajukan verifikasi secara daring. Namun, dalam prosesnya masih ditemukan berbagai catatan yang membuat pengajuan belum dapat disetujui.
“Pemilik media sudah mencoba mengurus verifikasi secara online, tetapi masih ada kekurangan yang harus diperbaiki, meskipun dokumen sudah diperbarui,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selama ini PWI lebih banyak berfokus pada peningkatan kompetensi wartawan melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Sementara verifikasi perusahaan pers menjadi tanggung jawab masing-masing pemilik atau pengelola media.
Helmie menilai, verifikasi Dewan Pers kini semakin penting, terutama karena berkaitan dengan peluang kerja sama media dengan pemerintah daerah. Sejumlah regulasi mulai mensyaratkan perusahaan pers harus berstatus terverifikasi.
“Banyak teman-teman pemilik media merasa perlu memahami proses ini lebih jelas. Itu sebabnya seminar ini kami selenggarakan,” katanya.
PWI Kalsel Siap Gelar UKW dan Beri Pendampingan Perusahaan Pers
Sebagai langkah lanjutan, PWI Kalsel berencana kembali menggelar UKW pada akhir Juli atau Agustus mendatang. Di sisi lain, pendampingan juga akan dilakukan untuk membantu media memenuhi persyaratan verifikasi.
“Kami akan melakukan pengecekan awal dulu, memastikan semua sudah sesuai standar. Setelah itu baru masuk ke tahap verifikasi faktual,” jelas Helmie.
Ia mengakui, jumlah media yang berhasil terverifikasi setiap tahun masih tergolong sedikit, rata-rata hanya sekitar tiga media. Karena itu, target 30 media dinilai sebagai langkah percepatan.
“Kalau setiap tahun bisa 30 media, dalam lima tahun ke depan persoalan ini bisa selesai,” tegasnya.
Selain mendorong verifikasi, Helmie juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas konten media. Ia menilai masih banyak media yang bergantung pada rilis atau wawancara tanpa inovasi dalam penyajian informasi.
“Media harus berani berinovasi, menghadirkan konten yang kreatif, menarik, dan memberi nilai tambah bagi masyarakat,” pungkasnya.
Editor: Rizki


